Muhammad Nur Hakim, Lahir di Palembang, 14 oktober 1993, Mas Hakim merupakan Alumni program studi hubungan masyarakat angkatan 2012 sekaligus mantan ketua himpunan hubungan masyarakat periode 2015. Saat ini beliau menjabat sebagai Senior Business Partnership dari start-up company yang cukup besar yaitu Tokopedia. Tokopedia merupakan merupakan perusahaan teknologi Indonesia dengan misi mencapai pemerataan ekonomi secara digital.

Ditemui saat wawancara, Mas Hakim menceritakan kalau setiap mahasiswa setidaknya mempunyai 1-2 dosen yang mereka jadikan inspirasi. Saat diwawancarai, Mas Hakim mengatakan bahwa dosen yang menjadi inspirasinya selama kuliah adalah Anwar Sani, S.Sos., M.I.Kom. atau yang akrab disapa dengan ‘Pak Sani’ dan Dr. Hj. Hanny Hafiar, M.Si. atau ‘Bu Hanny’. Kedua dosen tersebut mempunyai peran dan kenangan tersendiri bagi Mas Hakim. Beliau mulai akrab dengan Pak Sani saat Padjadjaran PR Fair (PPRF) pada tahun 2014, saat itu Mas Hakim menjadi salah satu panitia yang menjabat. Selain itu, mereka mempunyai kesamaan klub bola yakni AC Milan. Mereka juga senang bertukar pikiran mengenai berbagai macam topik seperti pemerintahan & politik, ditambah Pak Sani merupakan pembina himpunan mahasiswa hubungan masyarakat sehingga hal tersebut mampu menjadikan mereka cukup intens dalam berkomunikasi.

Bagi Mas Hakim, Bu Hanny patut dijadikan role model akademisi. Bu Hanny merupakan dosen yang sangat pintar dan memiliki wawasan yang luas. Dalam menyelesaikan skripsinya, Mas hakim mengangkat tema Disabilitas dan mengajukan proposal kepada Bu Hanny karena baginya Bu Hanny mempunyai wawasan yang luas dan power terhadap tema tersebut. Proposal yang diajukan Mas Hakim mendapatkan persetujuan dari Bu Hanny. Beliau mengangkat metode studi biografi dalam penyelesaian skripsinya.

Gufroni Sakaril merupakan tokoh yang diangkat Mas Hakim dalam penyelesaian skripsinya. Beliau merupakan Kepala divisi Humas Televisi Swasta Indosiar. Beliau terlahir dalam kondisi kedua tangannya yang kurang sempurna. Stigma yang melekat dalam masyarakat bahwa seorang PR diharuskan berpenampilan menarik mampu menjadikan Mas Hakim tertarik untuk mengulas lebih jauh Bapak Gufroni Sakaril sebagai tokoh disabilitas yang mampu melawan stigma tersebut untuk dapat dibuktikan. Mengangkat ‘disabilitas’ sebagai temanya dalam menyelesaikan skripsi Mas Hakim diminta Pak Sani untuk mengangkat kembali tokoh Gufroni Sakaril untuk menjadikannya sebagai buku. Permintaan tersebut sedang dalam proses pembuatan oleh Mas Hakim dan beliau mengharapkan bisa menyelesaikan buku tersebut secepatnya. Mas Hakim mengatakan bahwa proses pembuatan bukunya telah berjalan 50% terhitung sejak desember 2018 kemarin. Mengenal Bapak Gufroni membuat Mas Hakim menjadi cukup akrab dengannya. Bahkan Mas Hakim saat ini juga bergabung dalam organisasi Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). Beliau juga berencana untuk membangun usaha yang dapat memberdayakan penyandang disabilitas di Indonesia.

Selain bekerja sambil menyelesaikan project-nya Mas Hakim berencana untuk melanjutkan studi S2 jurusan Public Policy atau Political Communication di luar negeri. Dalam menjalani hidupnya, Beliau mempunyai prinsip yakni ‘Never limit your challenge but challenge your limit’ yang membuatnya terpacu untuk terus berkembang dan mengeksplorasi dirinya.

Mas Hakim pernah mendapatkan penghargaan sebagai ‘The Best Employee’ sebanyak 2x berturut-turut di departemen yang ia naungi. Namun, apa yang ia raih bukanlah hal instan yang bisa didapatkan. Semenjak lulus, berencana untuk menetap di Palembang dan memulai usaha atau berkarier di tanah kelahiran. Namun, akhirnya memutuskan untuk kembali merantau ke ibu kota. Lalu ia juga sempat menjadi news anchor di stasiun TVRI, hingga ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Tidak berhenti disana, Mas Hakim juga pernah merasakan kegagalan saat interview bekerja namun beliau mampu menghadapi hal tersebut sampai saat ini ia berhasil menjadi salah satu bagian dari start up company besar yakni Tokopedia yang dapat terbilang cukup cepat sejak 2 tahun silam sejak kelulusannya.

Sebelum mengakhiri wawancara, jurnalis bertanya kepada Mas Hakim. ‘Pesan apa yang ingin disampaikan kepada mahasiswa sebelum masuk kedalam dunia kerja?’. Beliau menjawab bahwa diperlukannya keseimbangan kita dalam belajar, berorganisasi dan bermain. Dan memberikan advice kepada mahasiswa untuk bergabung kedalam himpunan, karena baginya didalam lingkup himpunan kita akan merasakan langsung bagaimana kita akan bekerja nanti. Pelajaran yang kita dapatkan di kampus tidak kalah penting karena itu merupakan dasar kita dalam bekerja nanti, namun mengikuti himpunan tidak kalah penting untuk kita jadikan ajang sebagai eksplorasi diri. Jangan merasa terberatkan ketika menjadi pengurus himpunan, karena pada dasarnya kita memiliki rekan sesame pengurus himpunan. Sehingga mereka & kita bisa saling mem-back up satu sama lain jika berhalangan. Meninggalkan sistem yang baik sehingga antara kuliah dan organisasi dapat seimbang untuk kita kerjakan. Kurang lebih begitu pesan Mas Hakim untuk kita mahasiswa, khususnya teman-teman fakultas ilmu komunikasi. [OD]