Jatinangor (14/05/2019). Mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menyelenggarakan kegiatan AKU PROJECT 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa Unpad akan pentingnya kesehatan mental. Terselenggaranya acara ini merupakan hasil kerjasama Mahasiswa Hubungan Masyarakat (Humas) dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan Tim Pelayanan dan Bimbingan Konseling (TPBK) Universitas Padjadjaran. Bertempat di Balé Sawala Unpad pada hari Selasa, 14 Mei 2019. Acara dimulai dengan gelar wicara, pameran instalasi seni, deteksi kesehatan jiwa serta konseling secara gratis dengan ahli kesehatan mental.

Seminar bertema, “AKU-BICARA: Selalu ada ruang untuk pahami diri sendiri” dihadiri oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ – National Hypnotherapy Instructor; Hari Setyowibowo, S.Psi, M.Psi – Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran; serta dr. Lina Regina Mangaweang, Sp.KJ – Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (Dit P2MKJN) – KEMENKES RI sebagai pembicara. Dalam paparannya para narasumber mebahas dua langkah sederhana untuk menunjukan kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial dengan, “bercerita dan mendengarkan”.

dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ menjelaskan bahwa berbicara mengenai kesehatan tidak hanya berbicara soal fisik tetapi juga sehat mental dan sehat relasi. Karena relasi biopsikososial, yaitu interaksi antara factor biologis, psikologis dan sosial, berpengaruh pada kesehatan seseorang. Contohnya saat seseorang menyendiri, kita patut mempertanyakan apa tujuannya menyendiri. Apakah menyendiri sebagai strategi untuk menyelesaikan tugas atau mencapai target tertentu, atau menyendiri karena ketidakmampuan seseorang untuk bersosialisasi dengan manusia lain dan mengungkapkan apa yang dia pikirkan atau rasakan. Menurut Hari Setyowibowo, S.Psi, M.Psi satu hal yang perlu ditanamkan bahwa “Sendiri, saya baik baik saja. Bersamamu, saya lebih baik.” Hari menambahkan lagi bahwa, “kita butuh orang lain tetapi kita jangan sampai ketergantungan dengan orang lain.”

Kepedulian pemerintah pada peningkatan kesadaran akan kesehatan jiwa masyarakat Indonesia telah diwujudkan dengan berbagai langkah. Salah satu strategi Kemenkes RI adalah mengedukasi masyarakat dengan mengunjungi sekolah-sekolah, kampus dan penyebaran informasi melalui leaflet, brosur dan video. Yang terbaru, Kemenkes RI juga meluncurkan aplikasi Sehat Jiwa. Pada aplikasi tersebut masyarakat bisa memperoleh informasi kesehatan Jiwa, informasi pelayanan, deteksi dini kesehatan jiwa.

Jadi sebagai wujud kepedulian kita pada kesehatan jiwa, mari mulai “bercerita” dan belajar “mendengarkan.” (EPH)