Pada tanggal 17 Agustus 2019, Dian Arya Susanti berhasil meraih juara 3 Pustakawan Berprestasi Nasional 2019. Prestasi tersebut diberikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia kepadanya setelah melewati serangkaian tahapan seleksi di antaranya, pengiriman portofolio, pembuatan makalah, wawancara, tes kognitif, dan presentasi. Sebelumnya, Ia pernah menjadi juara harapan 2 Pustakawan Berprestasi Jawa Barat 2016 dan masuk ke dalam 7 besar Pustakwan Berprestasi Jawa Barat 2017. Meski sempat memiliki kendala untuk mengikuti kompetisi serupa di tahun 2018, pada tahun ini Dian akhirnya mewakili Jawa Barat untuk berlomba di kancah nasional.

Dian adalah alumni Fikom Unpad angkatan ’97 yang kini menjadi bagian dari Perpustakaan Pusat Universitas Pendidikan Indonesia. Perempuan kelahiran Bandung itu mengaku senang mengikuti lomba ini. Selain memiliki tantangan baru, Ia dapat bertemu orang-orang yang memiliki visi yang sama terhadap kepustakaan di Indonesia. Hal tersebut dapat menciptakan ruang-ruang diskusi informal yang menarik. “Di sana juga bisa banyak berdiskusi bagaimana perpustakaan di daerahnya masing-masing, peran pemerintah, dan bagaimana masyarakat menyikapi perpustakaan”, Ujarnya.

Lebih dari satu dekade menjadi pustakawan, baginya arti pustakawan berprestasi berarti melakukan hal yang lebih dari tugas pustakawan pada umumnya. Ia pun menyampaikan bahwa pustakawan harus bisa melakukan kegiatan yang mendukung terwujudnya perpustakaan berbasis inklusi sosial yang nantinya dapat menjadi bagian dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia pun mengungkapkan bahwa pustakawan perlu berusaha lebih keras dalam menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat karena beberapa mahasiswa bahkan masih segan ketika ditanya oleh pustakawan.

Terkait usaha-usaha menciptakan perpustakaan berbasis inklusi sosial, Ia pun kagum dengan usaha-usaha rekan Pustakawan Berprestasi dalam mencapai tujuan tersebut. “Yang mereka lakukan itu benar benar terjun ke masyarakat, mengedukasi masyarakat, memberikan pelatihan-pelatihan mengenai literasi & kepustakawanan kepada komunitas-komunitas literasi di sekitar mereka, dan melakukan gerakan-gerakan yang sifatnya literasi baik itu literasi lingkungan, informasi, maupun keuangan terhadap masyarakat sekitar.”, tuturnya.

Pustakawan yang memiliki ketertarikan di dunia seni ini sempat menceritakan kekecewaannya saat menghadiri acara pengenalan profesi pada mahasiswa baru. Pada saat itu, Ia ditanyakan mengenai pendapatan seorang pustakawan. “Saya kecewa luar biasa, karena dalam profesi ini, jangan harap materi. Yang terpenting berbuatlah yang terbaik.”, ujarnya. Ia pun memaparkan bahwa menjadi pustakawan lebih dari berapa materi yang didapat tetapi seberapa besar peran dalam meningkatkan kesejahteraan dalam masyarakat.

Selain bagian dari profesi, seorang ibu yang memiliki hobi membaca ini menganggap menjadi pustakawan adalah bagian dari hobi. “Sebetulnya saya ga ada gambaran pengen jadi pustakawan tapi saya senang berada di perpustakaan”, ucapnya. Hal yang Ia syukuri saat menjadi bagian dari perpustakaan adalah memiliki wawasan yang luas. Apalagi bertemu dengan pemustaka dengan kebutuhan yang berbeda.

Dalam kesempatan wawancara, ia menyampaikan beberapa pesan untuk mahasiswa Fikom Unpad diantaranya adalah percaya bahwa Tuhan akan membalas setiap kebaikan yang kita buat. Ia percaya ketika menjalankan peran pustakawan dalam meningkatkan kesejahteraan dalam masyarakat, kita perlu melakukan apa saja yang bisa dilakukan meskipun bukan bagian dari jobdesk pekerjaan kita.