Berbicara tentang hobi, kesenangan dan passion memang tidak akan ada habisnya. Terlebih jika kita berbincang dengan teman yang memiliki kesamaan hobi, itu yang terjadi ketika kami mewawancarai Imansyah Lubis. Pembawaanya yang hangat dan ramah membuat sesi wawancara menjadi seperti ngobrol santai antara dua sahabat karib.

Keberangkatan kami ke Jakarta menemui alumni Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad angkatan 1993, karena kiprahnya di dunia perfilman. Kang Iman, begitu dia akrab disapa, saat ini menjadi Manager Production Bumi Langit Entertainment, rumah produksi dari film Box Office Gundala: Negeri ini Butuh Patriot. Film superhero Indonesia yang tayang pada 29 Agustus 2019, hingga ahir masa penayangan di bioskop berhasil menembus angka 1.5 juta penonton. Bahkan pada penayangan perdananya, Film karya Sutradara Joko Anwar, memperoleh 174.013 penonton mengalahkan film karya Joko Anwar yang fenomenal yaitu Pengabdi Setan.

Sebagai Manager Production Bumi Langit, peran Kang Iman amat penting terutama dalam perkembangan lahirnya rumah produksi Bumu Langit di industri perfilman. Beberapa strategi marketing yang dilakukan oleh Kang Iman dan timnya antara lain bekerjasama dengan 3 grup media besar di Indonesia, Media digital, KOL hingga memasang iklan Gundala saat perhitungan Quick Count Pilpres pada April 2019. Selain itu mereka juga melakukan strategi dengan ‘menurunkan’ Gundala ke Jalan saat Car Free Day serta menaiki transportasi umum MRT.

Gundala Naik MRT (Twitter @Jokoanwar)

Kesuksesan Kang Iman saat ini adalah buah dari kerja kerasnya bahkan dari sejak masa kuliah. Pria kelahiran Medan, 29 Agustus 1975 ini adalah mahasiswa yang aktif di himpunan dan berbagai organisasi kemahasiswaan. Setelah lulus dari Fikom Unpad ia memulai karirnya dengan merantau ke Batam menjadi bagian HRD Astra Microtronics Techno. Setelah 10 tahun di Batam, ia memutuskan kembali ke Bandung untuk melanjutkan studi S2 di FSRD ITB Program Studi Seni Murni. Singkat cerita, ditahun 2011 Kang Iman mendapatkan hadiah liburan gratis ke Jerman selama 3 Minggu karena Kang Iman berhasil ‘menyenangkan hati’ Goethe Institute dalam pembuatan komiknya sebagai Goethe Curator.

Baginya, mengemban ilmu disaat kuliah merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Namun, memperbanyak pengalaman, melatih soft-skill dan hard-skill, mengikuti berbagai macam kegiatan juga tak kalah penting. Karena dari hal-hal tersebut dapat mempengaruhi self-growth kita secara tidak langsung. Tentunya kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan atas dasar ‘suka’ atau passion, sehingga disaat kita menjalankan hal-hal tersebut kita pun senang menekuninya. Kang Iman bahkan berani mengambil topik skripsi ‘Perjalanan Komik Indonesia dari tahun 1930-1970’ atas dasar kesenangannya dengan dunia komik. Setiap individu diwajibkan memiliki spesialisasi dalam mengembangkan passion kita, karena melakukan hobi yang kita senangi merupakan hal yang menjaga kita untuk tetap ‘waras’ dalam menjalani hiruk-pikuk masa kuliah.

Menikmati segala proses yang kita lakukan selama masa kuliah bagai darah keringat hingga air mata. Saat ditanya siapa Dosen Fikom favoritnya ia menyebut Prof. Engkus Kuswarno, Dr. Jenny Ratna Suminar dan Dr. Eni Maryani yang membiarkan Kang Iman menjadi dirinya sendiri serta membiarkannya memperluas pengalaman dibidang yang ia senangi. Kang Iman juga memberikan pesan pada rekan-rekan untuk selalu terus meng-upgrade softskill serta hardskill kita, memang kita akan menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan ilmu namun ilmu tersebut akan menjadi investasi masa depan kita sendiri. Pastinya, tidak akan kita sesali dengan banyak belajar dari pengalaman hidup sendiri juga pengalaman hidup orang lain. (Okky)