Program Studi Hubungan Masyarakat menyelenggarakan diskusi panel “Public Relations and Issue of Cultural Diversity in Multinational Corporations in the Host Country Indonesia,” pada Selasa 29 Oktober 2019 di Aula Moestopo kampus Fikom Unpad Jatinangor. Diskusi ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. Alois Moosmuller dan Alumni prodi Humas sebagai penelis. Acara diawali dengan sambutan Manager Riset, Pengabdian dan Kerjasama FX. Ari Agung Prastowo, M.I.Kom. Pada sambutannya, beliau menyampaikan bahwa diskusi ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara praktisi dan akademisi dalam memaknai komunikasi yang dilakukan Public Relations di perusahaan multinational.

Acara ini merupakan acara terakhir dari rangkaian Visiting Professor kerjasama antara Fikom Unpad dengan Ludwig Maximillian University of Munich Jerman. Dalam paparannya Prof. Alois menjelaskan bahwa pada umumnya setiap negara menilai negatif pada karyawan asing. Hal ini berdasarkan dari studinya di perusahaan Jerman yang memiliki cabang di Jepang, Prof Alois menemukan bahwa orang Jepang memiliki persepsi bahwa karyawan Jerman adalah karyawan yang malas. Perbedaan ini diantaranya karena kultur kerja yang berbeda antara Jepang dan Jerman. Studinya mengkonfirmasi bahwa kemungkinan keberhasilan kerja dapat meningkat sejalan dengan tingkat adaptasi seseorang.

 

Panelist yang yang hadir pada diskusi kali ini diantaranya Ridha Fajar Dwi Putra, S.I.Kom, Marketing and Communications Manager at Kuenhne + Nagel Indonesia. Berdasarkan pengalamannya, perusahaan Jerman sangat fair dalam menilai kinerja karyawannya, Ridha sendiri langsung mendapat promosi pada bulan keenamnya di Kuenhne + Nagel dan dipercaya menjadi manager termuda. Tidak jauh berbeda dengan pengalaman Amanda Putri Afrili, S.I.Kom., MBA dari Digital Business Manager at Mandiri AXA General Insurance. Walau pada awalnya dia diragukan memegang salah satu divisi strategis yaitu divisi bisnis digital karena usianya, namun pada akhirnya kinerja Amanda dan tim yang membuktikan segalanya. Tidak dipungkiri, penguasaan terhadap Bahasa asing mutlak diperlukan untuk bekerja di perusahaan multinational company dan memudahkannya dalam meniti karier.

Cerita menarik disampaikan oleh Thesa Anggi Aprilia, S.I.Kom panelist yang saat ini menduduki posisi sebagai CSR Senior at Samsung Electronics. Komunikasi interpersonal yang dirasakan di kantor berbasis Korea ini dirasa cukup “hars” atau kasar bahkan bagi orang Korea itu sendiri. Itu sebabnya turn over karyawan di sana cukup tinggi, meski pun demikian Thesa merasa itu bagian dari budaya orang Korea yang rata-rata adalah pekerja keras dan perfeksionis. Yang menarik lagi dari perusahaan elektronik ini adalah manajemen Samsung sangat peduli terhadap keberadaan milenial, itulah sebabnya manajemen menginisiasi sebuah kegiatan workshopHow to communicate with millennial.

Alumni lain yang diundang berbagi pengalaman bekerja di multinational company dalam kegiatan ini dari bisnis start up yaitu Quipper, hadir Namira Syafriani, S.I.Kom Business Development dari Quipper. Namira menceritakan pengalamannya bekerja di perusahaan Start Up Jepang yang berbasis di Amerika dan kini masuk ke Indonesia. Menurutnya, perusahaan aplikasi belajar ini mempunyai kultur yang mirip dengan kultur perusahaan start up lain karena diisi orang-orang muda. Budaya kerja yang cenderung santai, terbuka, dan fokus pada kinerja individu dan tim, hal ini terlihat dari jam kerja karyawannya yang cukup fleksibel. Mewakili bidang advertising agency hadir, Gita Galantri, S.I.Kom., MBA Head of Culture TCP-TBWA/Group Indonesia merasa bahwa bekerja di multinational company ia belajar lebih to the point tidak banyak basa basi atau terbawa perasaan. Gita juga bercerita, bahwa orang luar Indonesia juga beradaptasi dengan budaya kita termasuk norma dan kesopanan, terutama saat berurusan dengan pemerintah.

Sebagai penutup para penelis mengatakan bagi teman-teman mahasiswa yang ingin bekerja di multinational company, tingkatkan kemampuan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris dan jangan minder (tidak percaya diri). Dengan kemampuan, pengalaman, ditambah lagi budaya lokal yang Anda miliki akan menjadi nilai tambah Anda dibandingkan kolega Anda yang bukan orang Indonesia. (RD)