Sumedang (23/11/19). “Kecanduang gawai” merupakan permasalahan yang belakangan marak terjadi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebutkan bahwa sepanjang 2016 hingga 2019 tercatat 209 orang yang menjalani rawat inap dan jalan akibat kecanduan gadget (sumber: kompas.com).

Fakultas Ilmu Komunikasi mencoba permasalahan tersebut melalui berbagai kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh dosen-dosen. Salah satu contohnya adalah pelatihan “Literasi Digital pada Ibu dan Anak” yang diselenggarakan di Desa Cibeusi, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan kolaborasi dosen dengan mahasiswa tingkat pertama yang mengambil mata kuliah Olahraga, Kesenian, dan Kewirausahaan (OKK).

Pelatihan ini bertujuan untuk menjawab keresahan yang diungkapkan oleh orangtua-orangtua di desa tersebut. Mereka menyebutkan anak-anak hingga remaja di desa tersebut sangat bergantung pada gawai. Salah seorang nenek mengungkapkan “Cucu saya kalau tidak diberi gawai bisa nangis guling-guling di lantai baerjam-jam, bahkan kalau kuota habis dia bisa tahu dan marah.” Pernyataan tersebut sangat menyedikan terutama keegantungan tersebut dialami oleh anak yang masih berusia empat tahun.

 

Oleh karena itu, kegiatan pengabdian yang digawangi oleh Putri Limilia, Benazir Bona P, Preciosa Alnasahva dan Retasari Dewi mencoba meyelesaikan permasalahan tersebut dengan menyasar dua sasaran berbeda yaitu ibu dan anak. Ibu-ibu diberikan pelatihan terkait tata cara menciptakan gawai yang aman untuk anak dalam melakukan aktivitas online. Sementara itu, anak-anak diberikan materi terkait tata cara mencari konten sesuai usia, memakai gawai seperlunya, dan ajak orangtua untuk menemani anak ketika bermain gawai.