Berdasarkan survei penggunaan internet yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2018, jumlah perempuan yang mengakses media sosial di Indonesia mencapai 79,92%. Data lain dari  Pew Research Center dan Burst Media yang dirangkum oleh financesonline.com, menyatakan bahwa perempuan menggunakan media social lebih sering dari laki-laki. Menurut data tersebut, lebih banyak perempuan yang menggunakan social media setiap harinya, perempuan juga lebih banyak berinteraksi dengan brand, perempuan juga lebih banyak mengkonsumsi berita melalui media social, dan kini jumlah perempuan yang menggunakan media sosial berbasis visual terus bertambah. Hal ini menjadikan keberadaan perempuan amat berpengaruh pada perkembangan media sosial. Diantara para pengguna media sosial ini, banyak diantaranya menjadi influencer, atau dianggap berpengaruh karena memiliki banyak pengikut, di media sosial.

Para influencer perempuan di Indonesia memiliki fokus konten yang beragam dengan ciri khas mereka sendiri. Suhay Salim dengan 1,28 Juta pelanggan di kanal Youtube nya, dikenal sebagai sosok yang berpengaruh dalam tata rias dan bagaimana menjadi seseorang yang percaya dan mencintai diri sendiri. Melliana Hardi, dengan 919 ribu pengikut di Instagram dan 805 ribu pelanggan di kanal Youtube nya menarik perhatian dengan resep makanan yang sederhana dan menggunakan bahan-bahan dengan harga yang terjangkau. Konten perjalanan yang diusung Trinity, seorang penulis buku “The Nekad Traveller” menampilkan bagaimana seorang wanita mampu untuk melakukan kegiatan berwisata secara mandiri melalui buku-bukunya. Beliau mulai menggunakan media sosial Twitter dan Instagram dengan akun @trinitytraveler dengan masing-masing pengikut mencapai 277 ribu dan 107 ribu. Konten teknologi tidak lagi didominasi kaum laki-laki. Contohnya Fenny Astri dengan kanal Youtube gadgetempireid, memiliki 128 ribu pelanggan mengusung ulasan gawai sebagai konten di kanalnya.

Jika dibandingkan pria, perempuan kerap kali dinilai kurang mampu menjadi pemimpin karena kemampuan komunikasinya. Padahal, seperti yang dilansir dari artikel “Myths and Thruths about Women Leaders” oleh Rao, bahwa gender sangat tidak menentukan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan. Berkembangnya media sosial menguatkan hal ini, terutama banyaknya influencer yang turut memimpin gerakan sosial.

Gita Savitri Devi, Youtuber dengan 805 ribu pelanggan di kanalnya menginspirasi banyak orang dalam videonya yang menceritakan bagaimana perkuliahannya di Jerman serta caranya mengkritisi isu-isu yang berkembang di masyarakat. Gita sendiri merupakan perwakilan Indonesia dalam gerakan YouTube Creators for Change yang bergerak dalam melawan konten-konten kebencian serta isu lainnya. Najwa Shihab memiliki citra sebagai jurnalis yang handal dan kritis lewat acara “Mata Najwa.” Najwa Shihab menjadi salah satu pendiri dari Narasi TV, sebuah media daring dengan fokus konten televisi digital melalui kanal YouTube dan situs Narasi TV.

Fenomena munculnya perempuan sebagai influencer di media sosial mengingatkan kita tentang pentingnya merayakan hari perempuan sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Kehadiran para influencer ini, membantu menguatkan eksistensi perempuan di era digital.

Hari perempuan sedunia dapat dirayakan dengan berbagai macam cara. Tidak hanya dirayakan, menurut Preciosa Alnashava Janitra, S.I.Kom, M.Si., dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran, hari perempuan sedunia dapat dijadikan sebagai pengingat atas kesempatan setiap perempuan bahwa mereka berhak untuk memaksimalkan potensi dirinya tanpa dibatasi.

Selamat Hari Wanita Sedunia