Rabu, 22 April 2020. Program Studi Magister Komunikasi dan Pusat Studi Komunikasi Kesehatan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menyelenggarakan webinar dengan tema “Disrupsi Informasi Tanaman Herbal di Tengah Pandemic Covid-19”. Dimoderatori oleh Dr. Susanne Dida, MM Kepala Pusat Studi Komunikasi Kesehatan.

Diskusi ini menghadirkan pembicara Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan RI Dr. dr Ina Rosalina, Sp.A(K).M.Kes., MH.Kes, Founder The Local Enablers Dr. Dwi Purnomo, S.TP., MT. , dan Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si., dosen Fikom Unpad. Tujuan diselenggarakan acara ini untuk menyikapi informasi yang beredar di masyarakat terkait tanaman-tanaman herbal yang dapat mencegah penularan virus corona.

Pandemi yang terjadi saat ini akibat virus Covid-19 telah merubah beberapa perilaku masyarakat. Salah satunya terkait pemanfaatan tanaman herbal.

Saat ini epon-epon dan wedang uwuh menjadi primadona  dan jahe merah melambung tinggi harganya. Informasi tentang tanaman herbal yang harusnya preverentif, ditafsir kuratif untuk melawan covid-19 oleh masyarakat.

Hal ini karena sumber informasi masyaratakat sebagian besar berasal di media internet maupun di group percakapan, sehingga kebenaran informasi masih perlu dikonfirmasi.

Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si, Ragil Romli dan Tiara Pascanoviera, melakukan sebuah penelitian terkait “Perilaku Masyarakat dalam Upaya Mencegah Covid-19.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan tanaman herbal oleh masyarakat Indonesia di era pandemi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa sumber informasi masyarakat mengenai upaya menjaga daya tahan tubuh 60% berasal dari media sosial. Diketahui pula bahwa 67% responden sudah terbiasa mengkonsumsi tanaman herbal minimal satu kali sehari.

Jahe biasa, kunyit, jahe merah, empon-empon, dan kencur adalah lima tanaman herbal yang paling banyak dikonsumsi oleh responden di era pandemi. Sedangkan alasan responden mengonsumsi ramuan herbal adalah karena mereka merasa lebih aman dibandingkan mengonsumsi obat-obatan medis.

Sumber informasi ramuan herbal kebanyakan didapat responden dari keluarga sedangkan pemerintah ada di urutan kelima lebih kecil presentasinya dari media sosial sebagai sumber informasi. Responden rata-rata ingin tahu informasi yang benar dari pemerintah seputar khasiat, kandungan, keamanan, cara membuat, jenis, takarannya, dll terkait obat herbal.

Data lain dari penelitian ini menunjukan bahwa cara responden mendapatkan ramuan herbal, kebanyakan membeli. Hanya 32% responden yang membuat sendiri ramuan herbalnya, pertanyaan menarik lainnya adalah bahwa pasca pandemic covid-19 59% responden menjawab akan terus mengonsumsi herbal dan 35% menjawab mungkin. Hal ini dapat menjadi potensi bisnis bagi para pengusaha herbal.

 

Dr. Dwi Purnomo melihat fenomena pemanfaatan tanaman herbal di era pandemi ini dari sisi technopreneurship. Para pelaku usaha, produsen tanaman herbal, harus melihat bagaimana caranya membangun kepercayaan atas produk-produk herbal yang dibuat.

Kesulitan dari hal tersebut adalah menyampaikan bahwa produk herbal ini memililki value proposition yang baik kepada konsumen, bagaimana membangun ikatan dengan pelanggan dan bagaimana cara menyampaikannya. Membangun customer realationship dimulai dengan membangun trust.

Tantangannya kebanyakan produk herbal belum memiliki izin dari pemerintah, seperi BPOM, halal MUI dan keterangan terkait persentasi komposisi, hal tersebut jangan menjadi hambatan karena bisa dilakukan seiring dengan promosi produk. Menurut Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian ini, terkadang pengusaha terlalu terburu-buru dengan claiming yang berlebihan seperti “ramuan ini dapat mengobati corona”. Hal ini berpotensi membuat produk ini dinilai tidak professional.

Pengusaha bidang herbal harus fokus di info based offering, bukan konten-konten hard selling. Sehingga promosi produk herbal dapat dilakukan dengan membagikan informasi-informasi yang terverifikasi terkait manfaat, cara penggunaan, proses pembuatan dsb. Harapannya konsumen mengetahui produsen produk ini punya punya dasar pengetahuan yang baik, dan memunculkan kepercayaan pada produk.

Tantangan lain yang dihadapi pengusaha herbal adalah penentuan segmen produknya, hal ini berpotensi membuat promosi penjualan tidak tepat sasaran.

Sementara itu Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Kementerian Kesehatan,  Dr. dr. Ina Rosalina Sp A (K) M.Kes MH.Kes menuturkan bahwa penggunaan ramuan herbal telah dikonsumsi masyarakat Indoensia secara turun temurun.

Tapi yang perlu digarisbawahi ramuan herbal selama Pandemi COVID 19 ini bukan untuk menyembuhkan, tetapi menjadi imunomodulator yang merangsang system imun. Contohnya mengkudu, jahe, meniran, sambiloto, nimba, temu ireng, hingga temulawak. Tanaman yang mengandung flavonoid, kurkumin, limonoid, vitamin C, vitamin E dan katekin.

Namun, dr. Ina juga mengingatkan bahwa pemakaian herbal jamujamuan harus tetap sesuai aturan, sehingga cukup aman untuk ginjal maupun hepar (hati). Kementerisn Kesehatan sendiri merekomendasikan untuk tidak mencampur lebih dari 5 bahan herbal kedalam satu kali minum. Khusus bagi penderita ginjal dan kerusakan hati, sebaiknya dilihat terlebih dahulu diagnosia dari sakit tersebut, karena dikhawatirkan meningkatkan risiko dan mengakibatkan kondisi pasien semakin menurun.

Selain mengkonsumsi herbal, dr. Ina juga menyarankan untuk mulai melakukan accupressure yaitu perawatan kesehatan tradisional keterampilan yang dilakukan melalui teknik penekanan di permukaan tubuh pada titik-titik akupunktur dengan menggunakan jari, atau bagian tubuh lain, atau alat bantu yang berujung tumpul.

 

Sebanyak 170 orang Peserta webinar yang berasal dari berbagai latarbelakang seperti akademisi, apoteker, pengusaha bidang herbal dan masyarakat umum, terlibat dalam diskusi selama kurang lebih 2 jam bersama narasumber. Diskusi online ini diikuti oleh peserta dari Bandung, Jakarta, Menado, Karawang, Sulawesi, dsb.