Abie Besman, Dosen Lengkapi Karier sebagai Jurnalis Televisi

 

abie-besman-01-edit

MENEKUNI dua dunia yang berbeda, jurnalis dan dosen, membuat Abie Besman menjadi sosok yang sulit ditemui di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran karena kesibukannya. Perihal mengatur waktu antara menjadi jurnalis dan dosen, Abie mengaku semuanya mengalir saja. “Kalau ditanya bagaimana mengatur waktu, saya bingung gimana jawabnya. Semuanya mengalir aja,” jawabnya singkat.

Abie sudah memulai kariernya di dunia jurnalistik sejak di bangku kuliah. Pengalamannya dalam melakukan peliputan sudah malang melintang. Mulai dari meliput konflik Poso, wawancara eksklusif dengan Amrozi, Imam Samudera and Ali Ghufron, hingga melakukan liputan tentang konflik di Timur Tengah (Yordania, Suriah, Lebanon, Israel, Palestina)  pun sudah pernah dicicipinya. Abie mengaku, dirinya ingat setiap detail peliputan yang pernah dilakukannya. “Semuanya berkesan. Tapi dari semua itu, satu hal yang membanggakan bagi saya adalah saat saya bisa meliput ke Palestina pada September 2010,” ujar Abie mengenang.

Sebelum menjadi wartawan yang meliput di wilayah bencana, konflik, dan isu politik, ayah satu anak ini mengawali karier jurnalistiknya sebagai wartawan olahraga dan musik. Seiring berjalannya waktu dan melihat kebutuhan di lapangan, dirinya akhirnya menjadi wartawan yang meliput di daerah bencana, konflik, dan politik.

abie-besman-03-edit

Abie menilai jurnalis bukanlah sebuah profesi. Baginya, jurnalis adalah gaya hidup. Jurnalis dituntut untuk tahu banyak hal. “Kunci wartawan itu generalis bukan spesialis,” ujar Abie yakin. Itulah mengapa dirinya bisa dengan cepat belajar dan menyesuikan dengan apa yang diperlukan oleh media seiring berjalannya waktu. “Duel otak yang lagi tren sekarang ini, mirip sama apa yang harus dimiliki wartawan. Harus membuka diri dan berwawasan luas,” ujarnya lagi.

Sembari terus menekuni profesinya sebagai jurnalis, Abie mulai menapaki profesi sebagai dosen pada September 2006 di Jurusan (sekarang Prodi) Jurnalistik Fikom Unpad, tempatnya dulu menempa ilmu. Selain memang menjadi pengajar merupakan salah satu hal yang disukainya, Abie mengaku bahwa hingga bisa berada di titik ini, memilih profesi ini, ada seorang dosen yang menginspirasinya, yakni (alm) Nur Achirul Layla yang kala itu kerap disama Ibu Ea. “Saya ingat dulu beliau bilang kalau saya sebenarnya pintar, tapi kurang serius orangnya,” kenangnya sembari mengulang perkataan dosennya itu.

Perkataan dosennya itu kemudian menjadi tamparan tersendiri baginya sehingga sejak saat itu, Abie mulai serius menekuni dunia jurnalistik. Abie membuktikan bahwa apapun yang ditekuni pasti akan membuahkan hasil. Perlahan tapi pasti, Abie mulai serius menjalani profesinya sebagai jurnalis. Bahkan, tak hanya menjadi jurnalis, Abie pun menjadi pengajar di almamaternya sendiri.

Selain menjadi dosen di almamaternya, Abie juga pernah mengajar di Universitas Islam Bandung pada tahun 2015, Telkom University pada tahun 2014 hingga saat ini, serta menjadi dosen tamu di Stikom Prosia dari 2014 sampai Januari 2015.

Dosen dan Jurnalis Saling Melengkapi

Menjadi dosen dan jurnalis pada saat yang bersamaan, bagi Abie, adalah dua hal yang saling melengkapi. Dunia kewartawanan memberikannya ilmu baru setiap harinya. Jurnalis memberikannya ruang untuk mempelajari hal yang berbeda-beda setiap harinya. Sementara menjadi dosen adalah caranya membagi ilmu yang didapat dari jurnalis. Bagi pria yang menyelesaikan pendidikan magisternya di Universitas Islam Bandung ini, menjadi dosen melengkapi kariernya sebagai jurnalis. “Jadi jurnalis kan susah lihat feedbacknya langsung, tapi kalau jadi dosen bisa lihat langsung feedbacknya dari mahasiswa yang saya ajari,” ujarnya lagi.

abie-besman-02

Menjadi jurnalis dan dosen adalah dua profesi yang berbeda. Keduanya tidak bisa dipilih mana yang lebih baik. Bagi Abie, keduanya memberikannya nilai dan kesan tersendiri bagi dirinya. Ketika ditanya dirinya lebih nyaman menjadi dosen atau jurnalis, Abie menjawab, “Kalau memikirkan anak dan keluarga, saya akan katakan saya memilih dosen. Tapi kalau ditanya untuk diri sendiri, saya pilih jurnalis. Tapi kedua hal ini adalah sesuatu yang saya sukai sejak dulu,” tuturnya.

Abie mengaku senang ketika melihat mahasiswa yang diajarnya sukses. Baginya, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat mahasiswa yang diajarnya mengikuti jejaknya sebagai jurnalis. “Seneng aja, tiba-tiba ketemu saat liputan terus lihat mereka sudah jadi jurnalis seperti saya.” Jelasnya.  (Ni Kadek Diana Pramesti)

 

Profil Mahasiswa

Bunga Claudya, Aktivis, Juara dan Jiwa Sosial

February 1, 2017

Bunga Claudya, Aktivis, Juara dan Jiwa Sosial
BUNGA CLAUDYA selain fokus dalam kegiatan akademik, mahasiswa jurusan Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2012 ini serius menggeluti organisasi.

Profil Dosen

Hadi Suprapto Arifin, Sukses Berawal dari Rumah

January 6, 2017

Hadi Suprapto Arifin, Sukses Berawal dari Rumah
DOSEN Fikom Unpad yang satu ini mudah dikenali dari gaya berpakaiannya yang lain dari yang lain. Pria kelahiran

Profil Alumni

Riki Dhanu, Sang Spesialis Jurnalisme Investigasi dan Depth Reporting

January 19, 2017

Riki Dhanu, Sang Spesialis Jurnalisme Investigasi dan Depth Reporting
SEORANG jurnalis investigasi hadir di tengah-tengah kehidupan jurnalisme bukan sekedar mengungkap kebenaran, tetapi juga sebagai bentuk advokasi. Jurnalis mampu