Anak-anak Disabilitas dalam INFINITY 2016: Ability Has No Limit

 

BANDUNG – Selasa malam (20/12) lalu, Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad Dipatiukur Bandung, tidak seperti biasanya, suasana terasa marak. Puluhan anak penyandang disabilitas dari Yayasan Smile Motivator menggelar aneka permainan tradisional yang dikemas menjadi sebuah pementasan yang menarik.

Terdapat puluhan anak berunjuk gigi memainkan aneka kaulinan tradisional Jawa Barat ini. Anak-anak yang terdiri dari penderita disabilitas tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, hingga autis, dengan lihainya memainkan permainan tradisional Jawa Barat dengan terampil dan penuh antusias. Permainan yang dimainkan pun beragam, mulai dari permainan lompat tali, ucing-ucingan, oray-orayan, cingciripit dan congklak. Anak-anak pun tidak sungkan turut mengajak beberapa tamu undangan untuk ikut bermain, salah satunya seperti Manajer Kemahasiswaan & Pembelajaran Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Agus Setiaman, yang diajak untuk bermain congklak bersama anak-anak.

Permainan tradisional ini ditampilkan guna mengingatkan masyarakat bahwa permainan tradisional tidak hanya dimainkan oleh orang-orang yang normal secara fisik, namun juga oleh orang-orang yang memiliki keterbatasan, jelas Rashif Qisthas Shafwatuddin (Kehumasan B 2014), selaku Ketua Pelaksana INFINITY 2016: Ability Has No Limit. Acara yang diprakarsai oleh Mahasiswa Kehumasan B 2014 ini merupakan tugas akhir mata uliah Public Relations event bertujuan untuk merubah stigma negatif mengenai para penyandang disabilitas sekaligus memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh setiap tanggal 3 Desember serta membantu Pemerintah dalam mensosialisasikan UU. No. 8 tahun 2016 mengenai Penyandang Disabilitas.

“Secara fisik mereka terbatas, namun mereka memiliki kemampuan yang tidak terbatas”, tutur salah seorang pembimbing dari Smile Motivator.

Permainan tradisional asli Jawa Barat sudah mulai ditinggalkan oleh kebanyakan orang khususnya anak-anak. Namun para penyandang disabilitas malah asyik bermain dan menikmatinya. Ini menunjukkan bahwa sejatinya permainan tradisional masih layak untuk dimainkan oleh semua kalangan, termasuk oleh anak-anak dengan keterbatasan khusus. Karena keterbatasan bukan pembatas untuk berkualitas.

Dosen mata kuliah Public Relations Event, Lilis Puspitasari, M.Ikom menyatakan salut kepada para mahasiswa karena gagasan acara ini amat luar biasa. Mereka mampu membuat sebuah event dari mulai penyusunan proposal, pencarian dana sampai pementasan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad yang terbilang sukses dan mendapat banyak pujian dari para penonton. (Rinaldi Panji Putra)