Arni Gusmiarni, dari Radio ke Televisi

 

arni-gusmiarni-2-edit

BAGI pemirsa setia Indosiar, pasti akrab dengan Patroli dan Fokus. Namun tidak banyak yang tahu siapa saja sosok-sosok di balik kedua program tersebut. Arni Gusmiarni, yang akrab disapa “Inot”, merupakan salah satu produser redaksiberitaIndosiar yang mengomandani kedua program berita tersebut.

 

Wanita kelahiran Bandung, ini, mengawali karier jurnalistiknya di radio RASE FM. Selain menjadi announcer dan produser, alumni SMA Negeri 1 Bandung angkatan 1989 ini juga pernah menjadi music director.

 

Sewaktu duduk di bangku sekolah, Inot memiliki cita-cita yang berubah-ubah. Namun, saat stasiun televisi swasta nasional semakin marak, dengan hadirnya RCTI dan SCTV di awal 90-an, ia pun memilih Jurnalistik Fikom Unpad sebagai tempatnya menempuh studi jurnalistik.

 

Indosiar yang memulai siarannya pada 1995 menarik perhatian Inot sehingga ia ikut bergabung dengan stasiun televisi yang melekat dengan julukan “ikan terbang” itu. Ia mengawali kariernya sebagai reporter dan news presenter. Ia mengaku tertarik bergabung dengan stasiun televisi tersebut karena memberinya keleluasaan dalam berkarya.

 

Beberapa tahun Inot menjalani kariernya sebagai reporter dan news presenter. Pada tahun 2000, Inot dipercaya menjadi salah satu produser di redaksi berita Indosiar.

 

Alumni Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 1989 ini pun mengungkapkan berbagai kesulitan yang dihadapinya selama menjadi jurnalis televisi. Mulai dari memikirkan rancangan program berita, peliputan, penyuntingan materi berita, hingga penayangan berita kepada pemirsa.

 

Arni-Gusmiarni-1-edit

Di luar aktivitasnya sebagai jurnalis televisi, istri dari Isnayana Suryawijaya ini menghabiskan waktunya dengan berkumpul bersama sang suami dan kedua buah hatinya, Farra Shalma Tanaya (15) dan Dasha Gibran Tanaya (1). Selain itu, ia pernah menjadi dosen tetap Fikom Universitas Tarumanegara. Namun, ia tidak melanjutkannya sejak redaksi Indosiar berpindah kantor dari Daan Mogot, Jakarta Barat, ke SCTV Tower Senayan City, Jakarta Pusat.

 

“Tapi sejak pindah tempat ngantor, udah nggak karena nggak ada waktu. Kadang-kadang aja jadi dosen tamu kalo ada yang mengundang. Atau jadi moderator seminar atau pembicara untuk bidang broadcast,” ujar Inot.

 

Sebagai jurnalis televisi, Inot melihat saat ini banyak jurnalis televisi “karbitan”, secara pengalaman belum siap terjun ke lapangan dan dibebani tugas berat oleh redaksi. Banyak juga jurnalis televisi yang kurang memerhatikan aspek bahasa dan logika ketika menyampaikan berita kepada pemirsa. Selain itu, ia menekankan jurnalis televisi harus peduli dengan tema yang diliput, dan bukan sekadar menjalankan tugas dari redaksi. Bagaimana mengemas tema liputan yang penting namun membosankan, menjadi menarik bagi pemirsa. (Jusuf Yulindo)