Arys Hilman, Wapemred Republika

 

 

Arys Hilman di Depan AlJazeea Channel

Arys Hilman di Depan AlJazeea Channel

REPUBLIKA adalah salah satu suratkabar nasional ternama di Indonesia. Koran ini sejak kelahirannya melejit ketika BJ Habibie menjabat sebagai Ketua Umum ICMI serta seabreg jabatan strategis lainnya di era Orde Baru. Republika menjadi koran alternatif dari sejumlah koran yang ada saat itu. Seorang mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad saat itu mengagumi koran ini karena menjadi koran bernuansa Islam kritis dan intelektualis.  Arys Hilman, sang mahasiswa tadi tidak pernah bermimpi bahwa suatu ketika dia bakal menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi koran tersebut.

Saat dia kuliah mendalami ilmu kewartawanan di Jurusan (sekarang Departemen) Jurnalistik Fikom Unpad pada tahun 1987, tidak pernah membayangkan bahwa koran bergengsi itu bakal dipimpinnya. Ternyata lambat laun karirnya terus menanjak sesuai dengan kemapanannya sebagai jurnalis.

Usianya hampir mencapai setengah abad, namun karirnya telah banyak malang melintang di dunia kewartawanan. Sejak duduk di bangku SMP dia sudah menyukai karya-karya sastra, di SMA dia sudah menulis berbagai cerita. Awalnya dia tidak terpikirkan untuk menjadi seorang wartawan, dia hanya belajar menulis tentang apapun yang disukainya.

Hasil jepretan Arys Hilman di Sebuah Sudut Tanah Air.(Foto Koleksi Pribadi).

Hasil jepretan Arys Hilman di Sebuah Sudut Tanah Air.(Foto Koleksi Pribadi).

Sebelum menjadi wartawan dia meminati masalah sosial dan budaya. Karena itulah dia selalu menonton aneka pertunjukan budaya di sejumlah gedung kesenian di kota Bandung. Hasilnya dia tulis untuk dikirim ke sejumlah suratkabar. Karena minatnya itu, ketika dia diterima di Fikom Unpad, dia langsung memilih Jurusan Jurnalistik sesuai dengan minat dan bakatnya.

Tujuh tahun dia bertahan di kampus, akhirnya dia diterima di HU Republika setelah sebelumnya dia pernah mencoba beberapa media. Di Koran inilah dia bertahan. Uniknya, Arys memiliki kemampuan peliputan khusus tentang konflik. Arys selalu unggul dalam peliputan masalah ini, hasil liputan lebih unik dibanding wartawan lain yang meliput tentang kerusuhan. Maka dia pun di Republika dikenal sebagai wartawan spesialis peliputan konflik. Di antara teman-teman reporter, Arys selalu dijuluki sebagai “Spesialis Kerusuhan”. Itu sebabnya, di era 90-an Arys lah yang ditugaskan untuk meliput kerusuhan atau konflik di berbagai penjuru Tanah Air seperti di Kalimantan, Timor-Timur, Lampung, Haur Koneng di Majengka, sampai ke kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. “Saya tidak tahu apa itu mengesankan atau tidak, tetapi kemudian orang menilai kalau ada kerusuhan, itu tugasnya Arys Hilman,” ujarnya.

Meliput kerusuhan, menurutnya terkadang mengerikan, seperti konflik antar etnis di suatu daerah di Indonesia. Karena dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang saling bunuh, darah dimana-mana, orang-orang yang marah lalu membakar bangunan, merusak kendaraan. “Semoga saja ke depannya jangan ada lagi hal-hal yang terjadi seperti itu” kenang Arys.

Bersama Keluarga (Foto koleksi pribadi).

Bersama Keluarga (Foto koleksi pribadi).

Keliling Dunia

Sebagai jurnalis, Arys Hilman sudah melanglangbuana ke 30 negara di lima benua. Menurutnya berkeliling dunia membuat dia sadar bahwa warga dunia adalah keluasan berpikir. Selama perjalanan, sudah tidak terhitung banyak orang yang dia temui, dari pengemis, penjaga mesjid, hingga pemangku jabatan sebuah negara. Dari situlah dia mendapat keluasan pikiran. Menurutnya, setiap belahan dunia memiliki cerita yang menarik untuk ditulis dan dijadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan.

Namun lelaki kelahiran Bandung, 47 tahun silam ini tetap cinta akan kampung halaman walaupun sudah terbang ke hampir 30 negara. Dia mengaku mempunyai tempat favorit, yaitu Pangalengan, kawasan perkebunan di Bandung Selatan.
Alam juga menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Ia menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam, salah satunya adalah mendaki gunung. Arys pernah mendaki puncak-puncak tertinggi di Jawa,  seperti Semeru, Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat serta sejumlah gunung lainnya. (M Henri Laksono P/ Rahmatul Fajri)