Astrid Insawati, Jungkir Balik di Dunia Jurnalistik

 
Astrid Nova-1

Astrid Insawati alias Cito (Foto Koleksi Pribadi/FB)

ASTRID INSAWATI adalah salah satu alumni Fikom Unpad angkatan 2002. Perempuan kelahiran Bandung ini menjadi jurnalis karena terinspirasi oleh Desi Anwar, presenter di era tahun 90-an. Setelah masuk ke jurusan jurnalistik, Cito, panggilan akrabnya, memutuskan untuk tidak menjadi orang yang di depan layar. Ia berpendapat jurusan jurnalistik mudah untuk dimasuki tetapi tidak mudah untuk dijalani.
Mengawali pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Simpang dan lanjut ke Sekolah Menengah Pertama di SMP 1 Ciwidey. Setelah itu, Cito menlanjutkan pendidikannya di SMA 1 Bandung. Walau tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, Cito mengikuti club Oz Radio dan Ardan di luar aktivitas kuliahnya.
Tulisan Cito dipuji oleh Sahala Tua Saragih, dosennya, ketika ia ditugaskan untuk menulis sebuah feature tentang human interes. tentang grup band Mocca dengan segala passion yang ia miliki. Keputusan langsung diambil untuk menjadi seorang wartawan karena kepercayaan diri dengan keahlian menulisnya.
Karir jurnbalistiknya dimulai saat ia masih kuliah. Melamar ke berbagai stasiun radio ternyata tidak semulus yang ia bayangkan. Menghadapi berbagai kegagalan, Cito memutuskan untuk magang ke media cetak di HU Pikiran Rakyat pada rubrik Belia. Rubrik tersebut membahas seputar musik, kehidupan sekolah SMP dan SMA dan sebagainya. Setelah dua tahun magang, Cito pun lulus dari Fikom Unpad.
Astrid Nova-2Setelah lulus, Cito magang di Radio Ardan. Sebagai freelancer di HU Pikiran Rakyat, ia berpikir untuk melamar menjadi pegawai tetap. Cito pun pergi ke Jakarta untuk melamar kerja di media. Ibu dari satu anak ini melamar ke Kompas Gramedia di majalah Chic. Setelah lamaran masuk, panggilan pun datang beruntun mulai dari Cosmopolitan, Trax FM dan Nova. Cito memutuskan untuk mengambil tabloid Nova pada tahun 2008 karena dorongan ibunya. Awal karir Cito di Nova sebagai reporter rubrik kesehatan.

Di Tabloid Nova dia berganti-ganti desk. Cito akhirnya dipindahkan ke desk Wanita. Ketika itu, redaktur rubrik wanita, Intan, ingin cuti hamil sehingga Cito ditugaskan untuk menggantikannya. Menurutnya, menjadi redaktur bukanlah suatu hal yang mudah. Dengan pembahasan rubrik wanita seperti resep, kesehatan, tentang anak, pasangan, karir dan tanaman membuatnya harus belajar dari awal. Selama satu setengah tahun menjalani, Cito akhirnya diangkat menjadi redaktur di desk wanita.

 

Setelah tiga tahun menjalani redaktur desk wanita, Cito dipindah desk menjadi hiburan. Ia sempat berpikir bahwa desk ini akan sulit dijalankan karena membahas seputar public figure dan segala beritanya. Namun setelah tiga minggu dijalankan, menurutnya desk ini cukup menghibur.
”Tiga tahun ngurusin masalah kewanitaan tiba-tiba sekarang kita disuruh ngedit berita yang agak tricky gitu, gimana caranya gosip itu tidak menjatuhkan orang tetapi tetap menarik, terus kita juga tidak membuat berita bohong.” Ujar Cito. Ia ingin menciptakan sebuah berita yang real dan pembaca dapat memandang bahwa Nova berbeda dari media lain.
Menjadi redaktur bukan hanya mengatur reporter untuk turun ke lapangan saja. Selain sumber daya manusia yang terbatas, menurut Cito menjadi orang yang hanya dibalik meja tidak akan membuat orang lebih pintar. ”Redaktur yang baik, kalau kata aku, yang masih mau turun ke lapangan.” Tetapi bukan dalam artian redaktur turun ke lapangan setiap saat. Karena jika iya, maka ada yang salah dalam kinerja reporter bawahannya. Tugas seorang redaktur adalah memanage atau mengatur dalam menghadapi reporternya.
Setelah sekian lama dia bergelut di media cetak, Cito sekarang mengasah karirinya di sebuah media-online bidang kesehatan.(Gema Arinda Tanjung)