Betty S Soemirat : Mantan Aktifis, Menyanyi dan Rute Angkot

 

Betty (alm) beristirahat di trotoar kampus Unpad September 2012 lalu.

Betty (alm) beristirahat di trotoar kampus Unpad September 2012 lalu.

MESKI sudah berusia hampir 70 tahun, bekas kecantikan masa lalunya masih tersisa di wajahnya. Betty yang meninggal dunia Senin (7/7) di RS Boromeus, juga masih siap untuk menyanyi, apalagi jika diiringi piano yang suami, Prof.Dr.H.Soleh Soemirat MS, dan dia pun menjadi kamus berjalan untuk rute angkot di kota Bandung. Itulah sosok mantan aktivis mahasiswa Unpad yang mengabdikan dirinya hingga akhirnya sebagai dosen Fikom Unpad.

Bagi orang yang hadir ke pemakamannya Selasa (8/7), dan tidak tahu sosok Betty di masa muda, tidak akan percaya bahwa foto berpigura yang dibawa keluarga almarhum, itu adalah almarhumah. Dalam foto itu Betty terlihat benar-benar sangat cantik dengan kain kebaya dan senyuman khasnya. Foto itu sebetulnya milik Departemen Jurnalistik yang sengaja dipigura namun belum sempat dipajang di ruangan Departemen Jurnalistik. Dandi Supriadi, mantan Sekretaris Jurusan, tiba-tiba ingat kepada foto yang masih tersimpan dalam dusnya tersebut. Foto itulah yang terus-terusan dipeluk dan diusap-usap oleh Prof.Soleh Soemarirat, sang suami ketika upacara pemakaman tengah berlangsung.

Di era 60-an, Betty dikenal sebagai mahasiswa Unpad yang selain cantik dan pintar menyanyi juga dikenal sebagai aktivis dari Fakultas Publisistik (sekarang Fikom Unpad). “Banyak mahasiswa yang naksir sama dia, dan yang jadi pilihannya adalah Soleh pemain band” Ujar Ahmad Saelan, mantan wartawan senior HU Pikiran Rakyat yang juga mantan ketua PWI Jabar itu sambil tertawa. Yang dimaksud Soleh oleh Saelan adalah Prof.Soleh Soemirat MSi.

Aktivitas dunia kemahasiswaan bukan sekedar piguran, tetapi Betty pernah menjadi pemain utama. Itu sebabnya ia pernah menjadi ketua senat mahasiswa perempuan pertama dalam sejarah Fikom Unpad. Karena kekritisannya itu dia pun ditawari menjadi dosen di almamaternya selepas lulus sebagai sarjana ilmu publisistik.

Ketika menjadi dosen, Betty dikenal sebagai dosen yang amat akrab dengan para mahasiswanya. Dia biasa mengajak makan-makan, bercanda dan berdiskusi dengan mahasiswa. Makan pun bisa dimana saja, dan makan apa saja. Karena kedekatannya dengan mahasiswa ketika dia menjabat sebagai Pembantu Dekan 1, di pertengahan tahun 80-an dapat menyelamatkan mahasiswa yang tidak lulus-lulus. “Saat itu mahasiswa angkatan 60-an dan 70-an yang ga lulus diancam akan di-DO jika tidak segera lulus. Istilahnya cuci gudang lah” ujar Agus Rusmana alumni Jurusan Penerangan angkatan 1979. Ternyata, program itu berhasil belasan mahasiswa abadi itu akhirnya bisa lulus.

“Saya juga pernah disuruh ujian susulan di Radio Unpad” Ujar Ary Setiadi, mahasiswa angkatan 70-an yang sekarang bekerja di Humas Kementerian Kehutanan RI. “Saya benar-benar ga bisa ikutan UAS karena harus ngebetulin radio Unpad semalaman. Ketika Bu Betty mampir di Radio Unpad di sebelah kiri aula saya meminta UAS susulan, eh diperbolehkan” sambung Ary.

Karena kedekatannya itu, Betty sangat dikenal sebagai dosen cerdas yang amat dikenang oleh para mahasiswanya. Puluhan bunga dukacita yang berjejer di seputar rumahnya pun di Jl Bukit Dago Selatan, kebanyakan kiriman para mantan mahasiswanya di masa lalu. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, porsi mengajar Betty di S-1 berkurang sehingga mahasiswa S-1 mulai era 90-an kurang memiliki kenangan dengannya. Sejak saat itu Betty lebih banyak mengajar di program pascasarjana. Sebaliknya, para alumni S2 dan S3 Komunikasi Unpad memiliki kedekatan yang mendalam dengan beliau.
Nyanyi dan Rute Angkot
Sejak mahasiswa, Betty pun gemar menyanyi dan memiliki suara yang merdu. Bersuamikan pemusik, hobinya makin tersalurkan. Betty seringkali menyanyi diiringi gitar atau piano sang suami di rumahnya. Itu sebabnya dalam berbagai acara, Betty seringkali didaulat untuk bernyanyi diiringi dengan organ sang suami tercinta.

Betty RFS (alm) menyanyi di acara reuni Radio Unpad 2011 di Wisma Unpad.

Betty RFS (alm) menyanyi di acara reuni Radio Unpad 2011 di Wisma Unpad.

Namun yang paling mengesankan dari siapa pun yang mengenal dekat dengan Betty, dia sangat hapal dengan rute angkot di kota Bandung. Rute mana pun dari hampir empat penjuru angin di kota Bandung dia hapal. Jika mau ke anu sebaiknya naik angkot apa turun dimana, disambung dengan angkot apa nomer sekian warna angkotnya anu. Luar biasa!

Oleh orang-orang dia disebut sebagai kamus berjalan rute angkot. Mengapa dia amat hapal? Karena Betty penyuka jalan kaki dan kemana-mana suka naik angkot, padahal di rumahnya berjejer mobil pribadi milik keluarganya. Menurutnya, naik angkot itu lebih nikmat, tak perlu beli bensin yang harganya makin mahal, dan bisa mengantuk.

Sosok langka itu kini telah tiada, hingga menjelang akhir hayatnya dia masih mengabdikan di Fikom Unpad meskipun sudah purna bakti sejak empat tahun lalu. Sejumlah mahasiswanya, mantan mahasiswa dan para sahabatnya kehilangan dia. Betty bukan seorang pejabat tinggi, tetapi ketika meninggal puluhan karangan bunga berjejer mirip keluarga pejabat tinggi yang meninggal. Padahal dia hanyalah seorang dosen biasa.(AA)