Christine Hakim, Main Film itu Harus Total.

 

christine-hakim-01-edit

JATINANGOR : Bekerja dalam sebuah produksi film itu harus total, jika main hanya setengah-tengah, jangan harap sebuah karya film akan berkualitas.

Aktris senior Christine Hakim mengungkapkan hal itu dalam kuliah umum bertajuk “Film sebagai Identitas Bangsa” yang diselenggarakan Program Studi Televisi dan Film, Fikom Unpad, Kamis (27/10). Acara dibuka oleh Dekan Fikom Unpad, Dr. Dadang Rahmat,Ssos,SH, MSi serta dihadiri oleh ratusan mahasiswa Unpad dari jenjang diploma sampai Pascasarjana.

Menurutnya, untuk dapat memainkan sebuah peran, ia harus melakukan riset dan observasi agar bisa menjiwai karakter yang akan dimainkan. Dicontohkannya, untuk memerankan tokoh pejuang perempuan Aceh, Tjoet Nya Dhien, Christine harus beradaptasi dan tinggal hampir 1,5 tahun di Aceh. Bagaimana budaya dan kebiasaan perempuan Aceh. Bagaimana bahasanya.

“Selama itu saya tidak pulang. Hanya sekali pulang ke Jawa dikarenakan orangtua Eros Djarot dan Slamet Rahardjo meninggal dunia” ujarnya.

Karena ketotalannya dalam bermain, ia berhasil 7 menyabet Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Wanita dari 13 penghargaan yang dia terima dari dalam maupun luar negeri.

Perempuan kelahiran 25 Desember 1956 dan bernama asli Herlina Christina Natalia Hakim ini mendapat Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita dalam film Cinta Pertama (1974), Sesuatu yang Indah (1977), Pengemis dan Tukang Becak (1979), Kerikil Kerikil Tajam (1985), Di Balik Kelambu (1983) dan Tjoet Nja Dhien (1988).

Di tahun 2000-an ia mendapat nominasi dan sejumlah penghargaan lainnya, bahkan dia pun menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi juri di Festival Film Cannes di Perancis.

Menurutnya, dia banyak belajar dari Tjoet Nja Dhien, “Dia kalah karena penghianatan orang-orang dekatnya. Persis seperti bangsa ini yang kalah oleh para pengkhianat bangsa ini seperti para koruptor” ujarnya.

Film “Daun dia Atas Bantal” yang mengisahkan anak jalanan sempat masuk sebagai 15 nominator film terbaik dalam Festival Film Oscar. Di Jepang setelah pemutaran film ini membuat warga Jepang merasa iba dengan kenyataan anak-anak jalanan ini sehingga disana terkumpul dana 3 Juta Yen untuk membantu para anak jalanan di Indonesia.

Ketua Program Studi TV dan Film, Dr.Aceng Abdullah,MSi seusai kuliah umum mengungkapkan, prodinya tertarik untuk membuat sebuah kegiatan bertajuk “Sepekan Film Christine Hakim” karena semua film yang dibintangi Christine Hakim merupakan film-film berkualitas. Direncanakan acara ini akan digelar berbarengan dengan peluncuran buku yang ditulis oleh Christine Hakim sendiri. (AA)