Cornila Desyana, Masuk Tempo Ijazah Belum Jadi

 
Cornelia Desyana

Cornelia Desyana

MEDIA massa sekelas Tempo, yang dikenal sangat kredibel dan terpercaya, pernah menerima seorang calon jurnalis tanpa ijazah. Hal inilah yang terjadi pada Desyana Cornila, seorang alumni, Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran tahun angkatan 2002. Wanita kelahiran 24 Desember 1982 ini mengatakan, ia hanya membutuhkan surat keterangan lulus, transkrip, nilai print-nan sendiri dan stempel resmi dari jurusan untuk memenuhi syarat administrasi yang diminta Tempo.

 
Wanita, yang akrab disapa Nilai itu mengaku, baru mengambil ijazahnya setelah bekerja di Tempo selama 6,5 tahun. “Zaman dulu ijazah keluar dua bulan setelah wisuda dan selama itu saya ikut tes masuk Tempo dan harus bolak-balik, Bandung-Jakarta, habis itu saya langsung kerja, setahun kemudian baru dapat cuti” ungkapnya.

 
Nila merasa, pelajaran semasa kuliah sangat membantunya di dunia kerja, seperti pelajaran menulis straight news, feature news, wawancara dan lainnya.” Kasarnya tulisan sudah jadi, paling redaktur hanya betulin typo yang salah-salah tulis, berubah secara angle aja. Secara struktur logika sudah benar” tambahnya. Tidak hanya itu, Ospek Jurusan atau sering disingkat OJ, baginya sangat membantu sekali, sehingga feature yang dibuatnya menjadi benar. “Saya diomelin sama redaktur sama yang para dewa (senior ospek jurusan-Red). Semenjak itu saya jadi minder bikin feature saat kuliah. Namun saat kerja, redaktur (Tempo) memuji saya, “Ini bagus feature kamu,” akunya. Ia mengaku sering dipuji redaktur karena tulisannya tersebut “Kalo ngedit tulisan kamu lebih enak karena gak berat editannya, dibandingkan teman setingkat kamu yang bukan jurusan jurnalistik Unpad, tulisannya banyak dirombak”tambahnya lagi.

 
Pengalaman yang paling berkesan baginya ketika menjadi seorang jurnalis adalah saat meliput penggerebekan teroris di Ciputat. Saat itu, ia harus bersembunyi di rumah warga. Ia nekat memburu berita di rumah penduduk yang hanya berjarak kurang lebih 3-5 meter tempat dari tempat kejadian. “Jadi saya masuk rumah penduduk. Naik lantai dua bersama beberapa teman untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sedangkan teman lainnya (wartawan lain), berada di dekat police line saja sehingga tidak bisa lihat secara langsung” katanya dengan bersemangat.

 
Alumni Departemen Jurnalistik Fikom yang baru  melanjutkan jenjang pendidikan ke S2 ini kadang merasa lelah menjadi jurnalis. “Cape, karena harus ngejar narasumber, yaitu narasumber kredibel seperti A1 yang berasal dari pernyataan orang yang mengalami dan saksi kejadian”. Baginya, menjadi jurnalis adalah pekerjaan yang melelahkan. Bahkan ia mengaku, saat meliput kasus Susno Djuadji dan Bibit Chandra, ia sampai berminggu-minggu pulang larut malam, menunggu hingga sidang selesai dan konfrensi pers dari Mabes Polri usai. Tidak sampai disitu, ia harus melaporkan beritanya ke kantor redaksi untuk diketik. Walaupun demikian, tampaknya ia masih menikmati profesinya sebagai jurnalis Majalah Berita Mingguan Tempo, terpancar dari sorot mata, dan ekspresi keriangan tanpa lelah yang ia tunjukan selama wawancara berlangsung.

 
Setelah empat tahun semenjak tahun 2008, bekerja di bagian desk kriminal dan nasional yang melelahkan, Nila berpindah fokus. Tahun 2012, ia memilih mengisi berita yang lebih ringan di Tempo.co pada bagian berita internasional, gaya hidup dan berita ringan lainnya, disesuaikan dengan statusnya sekarang yaitu seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak.Ia berharap, kelak juniornya tidak lembek, dan selalu mengerjakan tugas dengan penuh perjuangan dan bersungguh-sungguh, karena ia merasa, apa yang ia dapat di lapangan, sama seperti yang senior terapkan saat acara Orientasi Jurnalistik di jurusannya. (MonagiaSupardi)