Dandi Supriadi, Studi S3 Media Film di Inggris

 

Dandi-1NAMA LENGKAPNYA Dandi Supriadi, dosen bidang studi utamanya adalah Jurnalisme Digital dan Komunikasi Lintas Budaya ini. Menjadi dosen sejak 1999, setahun setelah lulus dari Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad. Dia pun kini tengah studi S3 di Gloucestershire University Inggris.

 
Kecintaannya terhadap dunia jurnalistik diawali dari masuknya Dandi ke sebuah organisasi pramuka saat kelas 1 SMA, yang masih digelutinya sampai sekarang. Di pramuka, Dandi mengembangkan media massa cetak dari organisasi tersebut. Di sana dia merasakan betapa asyik-nya menulis. Dia pun juga merasa wawasannya menjadi terbuka karena harus mengetahui banyak hal.

 
Selain jatuh hati pada dunia jurnalistik, Dandi juga memiliki ketertarikan dengan seni menggambar. Ketertarikan tersebut membuatnya memilih arsitektur pada pilihan pertama di saat ujian masuk universitas karena memang itu cita-citanya dari lama. Dandi memilih bidang studi Arsitektur, Biologi, dan Jurnalistik untuk pilihan bidang studinya saat ujian dulu.

 
“Nasib membawa saya untuk lulus di arsitektur tapi tidak di Unpad, saya lulus arsitek di Itenas,” ujar Dandi. Kelulusannya di Itenas disusul dua hari kemudian dengan kelulusan lainnya, yaitu di Jurnalistik Unpad. Setelah dipertimbangkan bersama keluarga, Dandi muda pun memilih untuk masuk ke Jurusan Jurnalistik Unpad pada tahun 1993.
Ketika menjadi mahasiswa Jurusan Jurnalistik Unpad, Dandi lebih dalam merasakan kesukaan terhadap menulis, karya-karya tulisannya pun dinilai positif oleh para dosen. Di situ ia menyadari bahwa dirinya memiliki passion terhadap menulis karena dia suka untuk menceritakan sesuatu secara indah dalam bentuk tulisan.

 
Di Jurusan Jurnalistik Unpad Dandi juga kemudian tertarik dengan bidang broadcast. Saat itu Dandi merasa begitu tertarik dengan kegiatan jurnalistik radio. Dia merasa tertarik terhadap radio karena di sana dia ditantang untuk berkreasi, memiliki kreativitas untuk mengolah suara agar menjadi menarik untuk didengar. Lalu masuklah Dandi ke dalam dunia produksi radio, namun di sana dia tetap sering menulis berita.

 
Ketika digital journalism mulai muncul, di akhir masa kuliahnya, muncul ketertarikan dari diri Dandi secara mendalam terhadap hal baru tersebut. Ketertarikan itu hadir karena memang dirinya suka mengoperasikan komputer semenjak melakukan produksi radio. Kehadiran internet di dalam digital journalism pun juga menarik Dandi lebih dalam lagi. Seiring waktu berjalan, Dandi pun menjadi pionir produksi digital radio di Fikom Unpad. “Saya termasuk orang yang berada dalam tahap pionir di Fikom Unpad dalam memproduksi digital radio dalam dunia radio,” ujar Dandi.

 
Dandi mulai fokus terhadap digital journalism karena ketertarikannya terhadap menulis, menggambar, produksi radio, dan teknologi, bisa disatukan menjadi satu. “Sampai sekarang saya istiqomah di online journalism dan ternyata ketika saya berkelut di situ, hal-hal yang saya tertarik dari awal, yaitu penulisan, digital radio, menggambar, dipakai dan tergabung di situ, di digital journalism.”

 
Ketertarikan terhadap digital journalism itu mengantarkan Dandi kepada jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu S2, dalam program studi Media and Communication, Swimburne University of Technology, Australia. Perjuangan Dandi mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di situ pun tak berjalan begitu mulus. Dia telah berjuang semenjak lulus kuliah di tahun 1998 dan baru diterima pada tahun 2003. Beasiswa yang Dandi apply pun tak hanya untuk satu atau dua universitas, namun lebih banyak. “Semua saya coba dan bertahun-tahun gagal mendapatkannya,” ujar Dandi.

 
“Tahun 2002 saya coba untuk ketiga kalinya di ADS, dan ternyata di percobaan ketiga tersebut saya berhasil dan dapatlah saya scholarship dari Australian Government,” ungkap Dandi. Lalu, setelah menjalani pelatihan Bahasa sekitar tiga bulan, Dandi berangkat ke Australia pada 31 Desember 2003

 

Dandi Supriadi masih konsisten menjadi dosen sampai sekarang, berbagai mimpi dan keinginan kuatnya untuk mengembangkan kemampuan berhasil mengantarkannya ke dunia jurnalistik. Di sana pun ia menemukan bagaimana berbagai hal yang disukainya dapat menyatu menjadi satu hal yang saat ini menjadi fokusnya, digital journalism. (Rivi Satrianegara)