Dengan Komunikasi Terapeutik, Retna Mahriani, Raih Gelar Doktor Komunikasi.

 
Dr.Retna Mahriani,MSi (Foto AA)

Dr.Retna Mahriani,MSi (Foto AA)

BANDUNG – Komunikasi Terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara tidak sadar, untuk kesembuhan seorang pasien yang dilakukan oleh tenaga medis melalui bimbingan, motivasi dan pelayanan demi kesembuhan seorang pasien. Ternyata dengan komunikasi seorang pasien bisa terbantu untuk cepat pulih dari sakitnya.

 
Dosen Fisip Universitas Sriwijaya Palembang, Retna Mahriani mengungkapkan hal itu saat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Komunikasi Terapeutik Petugas Rehabilitasi Medik” dalam sidang terbuka promosi doktor komunikasi, Rabu (13/5) di Program Pasca Sarjana Unpad Bandung.

 
Lia (panggilan akrab Retna Mahriani) dipromotori oleh Prof.H,Deddy Mulyana,MA,PhD, Dr.Ardini S Raksanagara,dr,M.PH serta Dr. Atwar Bajari,MSi. Sedangkan yang bertindak sebagai tim oponen ahli adalah Prof.Dr, H.Haryo S Martodirdjo, Dr,Hj.Purwanti Hadisiwi,M.Exed dan Dr, Hj.Sussane Dida,MM. Ikut pula menguji, Ketua Program Pascasarjana Unpad, Prof.Dr. Ir. M.Mahfud Arifin,MS, serta Ketua Program Doktor Komunikasi, Dr.Siti Karlinah,MS.

 

Menurut alumni Fikom Unpad angkatan 1979 ini, keikhlasan, kesabaran dan kehangatan, kerjasama antara petugas rehabilitasi medik dengan pasien dan keluarganya merupakan kunci suskes dalam melakukan komunikasi terapeutik. “Penanaman nilai spiritual kepada pasien dapat membantu menenangkan pasien dalam menghadapi terapi yang dilakukan” ujar Lia.

 
“Komunikasi antar pribadi yang disertai sentuhan lembut dan kasih sayang kepada pasien dapat meningkatkan derajat kepercayaan diri pasien” ujar Lia dalam salah satu dalilnya. Kesuksesan komunikasi terapeutik ini pun ditentukan pengalaman dan pengetahuan petugas rehabilitasi medik tentang pola hidup sehat.

 
Bahasa sebagai aspek budaya, lanjut Lia, turut pula mempengaruhi petugas rehabilitasi medik dalam melakukan pelayanan terhadap pasien. “Pasien stroke memiliki kecenderungan ingin dilayani oleh petugas rehabilitasi medik dengan jenis kelamin yang berbeda” ujar Lia.

 
Lia masuk ke Program S3 Komunikasi pada 2010. Program magisternya (S2) ditempuh di Universitas Indonesia pada 1993 s.d. 1996. Sebagai mantan Pembantu Dekan III di fakultasnya Lia pernah pula menjadi anggota Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi) tahun 2008-2012, serta sederet kegiatan lainnya. (AA).