Dewi Permata Sari, Omset Bisnisnya Ratusan Juta Rupiah per Bulan

 

SEKECIL apapun usaha, setidaknya kita menjadi bos dari usaha tersebut daripada terjun dalam usaha yang besar, namun kita hanya sebagai karyawannya,” ujar Dewi Permata Sari, mahasiswi jurusan Hubungan Masyarakat Fikjom Unpad angkatan 2012.

Berawal dari tugas proposal bisnis yang diberikan pada mata kuliah komunikasi bisnis, wanita berdarah Minang ini merealisasikan proposalnya di mana ia ingin membangun bisnis penjualan produk muslimah hijab syar’i. Dengan modal awal sebesar Rp 5 juta, ia merintis bisnisnya yang dinamai Kiciks sejak 2014 dan mulai aktif produksi pada Oktober 2014.

Hobinya dalam bidang desain visual, menggambar, dan ketertarikannya dalam dunia fashion adalah peran utama yang menumbuhkan benih-benih keinginannya dalam mewujudkan bisnis tersebut. Dari perolehan awal omset per bulan berjumlah Rp 2 juta, bisnis tersebut terus berkembang sehingga bisa menghasilkan omset hampir Rp 200 juta setiap bulannya.

Baginya, untuk mendapatkan omset dengan jumlah ratusan juta tentu diperlukan strategi yang tepat. Dalam bisnis Kiciks ini, ia memberdayakan para distributor. Proses untuk mendapatkan para distributor tersebut menurut mahasiswi kelahiran 25 November 1993 ini mengadakan open distributor. Cara menarik minat mereka adalah dengan memberikan diskon bagi siapapun yang memasarkan produk Kiciks. Salah satunya adalah dengan memposting produk di sosial media seperti Instagram dan Line.

Buah dari strategi tersebut adalah tersebarnya pelanggan Kiciks di seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negeri seperti Korea, Jepang, Malaysia, dan Singapura. Saat ini, Dewi sudah mempekerjakan 14 orang karyawan yang di antaranya terbagi ke dalam beberapa bagian yaitu administrasi, menjahit, packaging, dan desain visual. Jumlah distributor Kiciks saat ini sudah mencapai 75 orang yang juga menjamur baik di Indonesia maupun mancanegara.

“Jadi inget dulu followers Instagram Kiciks masih nol, tapi alhamdulillah sekarang sudah berjumlah kurang lebih 25 ribu,” terang Dewi. Saat ini, Dewi menerima pesanan sebanyak 1200 pak. Untuk menjaga pencapaian tersebut agar tetap stabil bahkan meningkat, Dewi terus melakukan beberapa inovasi agar tidak kalah saing dengan bisnis hijab syar’i lainnya.

“Perbedaan Kiciks dengan bisnis lainnya adalah kami menetapkan paket hemat serta membuat jenis hijab anti tembem, hijab yang membuat badan terlihat ramping, dan lain-lain. Tentunya, saya akan terus melakukan inovasi,” kata Dewi.

Selain untuk mempertahankan pencapaian, Dewi juga ingin inovasi yang ia ciptakan dapat menghilangkan aneka pandangan yang telah dibangun dalam masyarakat bahwa hijab syar’I merupakan sesuatu yang kuno. Membuka butik di tahun depan adalah target Dewi dalam jangka panjang. “Selama ini kan cuman via online dan paling hanya mendirikan rumah produksi,” papar Dewi ketika ditanyakan perihal target tersebut.

Dalam merintis bisnis hingga besar seperti sekarang ini, tentu banyak peluru kegagalan yang menghantam perjalanan bisnisnya. “Wah, tentu banyak kegagalan yang saya dapat. Pas awal-awal merintis, pernah salah kirim paket, salah warna, ada karyawan yang baru beberapa hari kerja udah gak betah, dan masih banyak lagi,” ujar Dewi. Omset ratusan juta per bulan adalah bukti bahwa Dewi bukan wanita yang mudah menyerah dan tidak lantas berpikir bahwa kegagalan akan serta merta mematikan pertumbuhan bisnisnya.

Menjadi seorang pebisnis muda yang sukses tidak lantas membuat ia lupa akan profesinya sebagai mahasiswi. Ia selalu menyisihkan waktunya setiap malam untuk belajar. “Biasanya di kantor Kiciks sampai jam tujuh malam, terus lanjut belajar. Tapi akhir-akhir ini emang lagi padat banget soalnya Kiciks lagi bentuk sistem, rekrut karyawan baru, dan akan pindah kantor,” jelas mahasiswi angkatan tahun 2012 ini.

Kesuksesannya tidak lepas dari dukungan dan restu orang tua. Dewi mengaku bahwa “tidak setuju” adalah komentar yang dilontarkan kedua orang tuanya ketika mengetahui ia ingin berbisnis, mengingat tujuan utama Dewi hijrah dari Padang ke Bandung adalah untuk menempuh pendidikan bukan untuk berbisnis. Namun, melihat bahwa putrinya tersebut tetap tidak melupakan kewajibannya dalam menempuh pendidikan, orang tua pun mulai mengerti dan mendukung perjalanan bisnisnya. (Lisa Viranda)