Dosen UIN Raden Patah Palembang, Raih Doktor Komunikasi di Fikom Unpad.

 
Doktor-Yenrizal-1-edit

Yenrizal bersama para promotor dan oponen ahli seusai sidang. (Foto Koleksi Pribadi)

BANDUNG – Pemanfaatan lahan pertanian pada masyarakat adat Semende Kab.Muara Enim, Sumatera Selatan merupakan bentuk pemaknaan masyarakat terhadap realitas lingkungan alam mereka. Hal itu juga merupakan sebuah tindakan simbolik yang dimaknai sebagai sesuatu yang penting bagi komunitas tersebut.
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang, Yenrizal mengungkapkan hal itu dalam kesimpulan disertasinya yang berjudul “Komunikasi Lingkungan Masyarakat Petani Pedesaan”, Studi Etniekologi Komunikasi Masyarakat Semende di Desa Swarna Dwipe Kab. Muara Enim, Sumsel.
Dengan disertasinya ini, Yenrizal, Rabu (29/4) lalu dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor Ilmu Komunikasi dari Program Pasca Sarjana Fikom Unpad. Yenrizal dipromotori oleh Dr. Agus Rahmat MPd, Prof.Johan Iskandar MS, PhD dan Dr.Atwar Bajari MSi. Bertindak sebagi oponen ahli Prof.Dr.H.Haryo S Martodirdjo, Prof.Dr.Engkus Kuswarno,MS serta Dr. Suwandi Sumartias,MSi.

 

Kesimpulan lain dari hasil penelitiannya itu, yakni proses simbolik yang berlangsung dalam pemaknaan fenomena alam pada sesama masyarakat adat Semende membentuk sebuah identitas bersama.

 

 

Pola komunikasi lingkungan masyarakat Semende, lanjut Yenrizal, berbentuk mekanisme keterkaitan unsur-unsur utama, yakni pelaku, setting dan peristiwa komunikasi. “karakteristik komunikasi lingkungan yang selama ini terbentuk memiliki implikasi logis terhadap sistem ekologi” lanjutnya.
“Komunikasi lingkungan masyarakat Semende pun berlangsung secara dinamis dan terus dimasuki oleh berbagai budaya luar” sambung Yenrizal.
Masyarakat Semende adalah komunitas yang hidup di pegunungan Bukit Barisan. Mereka hidup di desa Swarna Dwipe Kab.Muara Enim Sumatera Selatan. Komunitas ini hidup dalam kedekatan hubungan dengan alam. Mereka tinggal di ketinggian 1.400 m dpl. Etnis ini mengenal istilah “Adat Tunggu Tubang” atau “Adat Bemeraje Anak Belai”, yakni sistem pewarisaan untuk rumah dan lahan pertanian kepada anak perempuan tertua. (AA)