Dosen Untirta Banten, Rd. Nia Kania Kurniawati, Raih Doktor Komunikasi di Unpad

 

Dr-Nia-1-edit

BANDUNG – Perkembangan teknologi komunikasi dan peningkatan jumlah orang untuk berpindah ke luar negeri, baik untuk sementara maupun permanen telah menimbulkan kesadaran akan kebutuhan untuk memahami budaya negara lain. Kesalahpahaman antara orang-orang dari budaya yang berbeda, timbul karena mereka tidak memahami budaya masing-masing. Oleh karena itu, keberhasilan seseorang hidup di negeri asing sangat tergantung kepada kemampuan untuk mengatasi perbedayaan budaya.

 
Dosen Fisip Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Rd Nia Kaniakurniawati mengungkapkan hal itu saat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Komunikasi Lintas Budaya Diaspora Indonesia di Jerman” pada sidang terbuka promosi doktor, belum lama ini di Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

 
Nia dipromotori oleh Dr.Susanne Dida,MM, Prof.Dr. Nina Winangsih Syam,MS dan Prof,V.Bob Sugeng Hadiwinata,PhD. Bertindak sebagai oponen ahli Prof.Deddy Mulyana, MA,PhD, Dr.Atwar Bajari,MSi dan Dr.Anter Venus,MA.Comm, dan Prof.Dr, Engkus Kuswarno,MS sebagai representasi guru besar.

 

Dr-Nia-2-edit

Dr. Rd.Nia Kania Kurniawati,MSi, bersama keluarga dan para penguji. (Foto koleksi pribadi)

Menurut Nia, hingga tahun 2012 WNI yang berada di luar negeri berjumlah sekitar 6 juta jiwa. Mereka tersebar di 167 negara. Di Jerman sendiri, yang tercatat di KBRI Berlin mencapai sekitar 13.617. Angka tersebut boleh jadi jumlahnya bisa jauh lebih banyak karena tidak semua WNI yang berkiprah di luar negeri melapor ke kantor KBRI atau KJRI di sana.

 
Diaspora Indonesia yang bekerja dan tinggal di Jerman berorientasi mengkoordinasikan perilaku mereka dalam upaya mencapai fungsi sosial, memperoleh tujuan pribadi, dan yang sesuai dengan situasi dan harapan normatif.

 
Makna diaspora dalam pandangan para informan penelitian, sambung Nia adalah mereka yang bekerja secara profesional sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku amat ketat di Jerman, dan pada saat yang bersamaan mereka tetap melaksanakan diri sebagai manusia yang berbudaya ketimuran baik sebagai kepala rumah tangga, ibu rumahtangga, anak yang berbakti kepada orangtua dan mereka yang masih menjunjung tinggi kewarganegeraan Indonesia.(AA).