Dua mahasiswi FIKOM UNPAD Berpartisipasi Sebagai Delegasi Universitas Padjadjaran Dalam Program “Harvard National Model United Nations 2019”

 

Dua mahasiswi FIKOM UNPAD, Ashila Nafisaputri (Hubungan Masyarakat) dan Cassandra Ethanya (Hubungan Masyarakat) berpartisipasi sebagai delegasi yang mewakili Universitas Padjadjaran dalam program simulasi sidang PBB bertajuk “Harvard National Model United Nations 2019” (HNMUN 2019). Acara ini dilaksanakan pada tanggal 14-17 Februari di Boston, United States of America. Harvard National Model United Nations merupakan sidang perserikatan Model United Nations yang tertua dan terbesar di dunia, yang diselenggarakan oleh Harvard University.

Ashila dan Cassandra, mengikuti simulasi sidang PBB untuk mewakili Negara Bosnia dan Herzegovina. Ashila mewakili negaranya di Social, Humanitarian, and Cultural Committee (SOCHUM) untuk membahas penulisan ulang Universal Declaration of Human Rights (UDHR), sebuah dokumen yang menetapkan standar dan norma hak asasi manusia di seluruh dunia yang masih dianggap tidak inklusif untuk semua orang, terutama dalam topik hak pembangkangan sipil dan juga hak gender dan seksualitas. Sedangkan Cassandra menjadi delegasi negaranya di Economic and Financial Committee (ECOFIN) membahas global skills gap, yakni tuntutan lebih untuk memiliki keterampilan dalam bekerja dan adanya kesenjangan antara keterampilan dan pendapatan atau pekerjaan yang tidak seimbang. Hal ini menyebabkan banyaknya pengangguran usia muda yang kurang berkembang di Bosnia dan Herzegovina, sehingga berdampak kepada pertumbuhan perekonomian negara tersebut.

Berada dalam situasi Model United Nations merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi Ashila dan Cassandra. Berbicara dihadapan ratusan bahkan ribuan orang-orang cemerlang yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa utamanya dan membahas suatu isu global yang penting untuk kehidupan sosial tak ayal membuat keduanya merasakan gugup yang luar biasa. Terlebih lagi, keduanya dihadapkan dengan delegasi-delegasi dari negara lain yang tidak kalah pintar dalam melakukan pendekatan lobby dan negosiasi, menyampaikan ide-ide, dan berinteraksi dengan sesama delegasi.

Jauh sebelum keberangkatan keduanya ke Amerika, Ashila dan Cassandra menceritakan proses seleksi yang mereka lalui untuk sampai di Harvard University, Amerika. Latar belakang diadakannya seleksi ini berawal dari komunitas Unpad for HNMUN yang sejak 12 tahun lalu telah mengirimkan delegasi untuk mengikuti HNMUN setiap tahunnya. Pada bulan Mei di setiap tahun, dua orang Faculty Advisors Unpad untuk HNMUN membuka pendaftaran bagi seluruh mahasiswa Universitas Padjadjaran yang ingin mendaftar. Seleksinya terdiri dari 3 tahap, pertama administrasi yang meliputi seleksi berkas, kedua tahap wawancara, dan terakhir yakni tahap mini caucus (simulasi MUN).

Kemudian ketika ditanyai kriteria delegasi seperti apa yang dibutuhkan untuk mengikuti HNMUN tersebut, mereka menjelaskan bahwa delegasi adalah orang yang memiliki percaya diri tinggi, kemampuan public speaking yang baik, research yang mendalam, wawasan luas dan terbuka terhadap masalah-masalah global. Yang tidak kalah penting adalah kefasihan dalam berbahasa inggris baik lisan maupun tulisan. Akhirnya, setelah melalui beberapa tahapan proses dan bersaing dengan 100 orang calon delegasi, terpilihlah 12 delegasi terbaik yang berhak mewakili Universitas Padjadjaran dalam ajang HNMUN 2019, dua diantaranya adalah Ashila dan Cassandra.

Menjadi salah satu delegasi yang mewakili universitas dilevel internasional tentu bukanlah merupakan suatu hal yang kebetulan, keduanya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik jauh hari sebelumnya. Ashila mengatakan bahwa dirinya sudah membiasakan diri untuk memahami isu-isu global saat ini dengan banyak membaca dari berbagai referensi, mempelajari cara penulisan yang baik dalam bahasa inggris, dan juga berlatih speech. Sedangkan, Cassandra mempersiapkan dirinya untuk mengikuti proses seleksi dengan berlatih membiasakan diri berbicara (speech) dalam bahasa inggris, mempelajari dan memperdalam topik permasalahan global dengan riset, dan yang paling terpenting adalah berusaha meningkatkan rasa kepercayaan diri.

Setelah dinyatakan lolos seleksi pada bulan Mei 2018, keduanya kembali melakukan persiapan yang lebih intensif selama kurang lebih 9 bulan. Dalam kurun waktu tersebut, keduanya bersama delegasi lain ditempa, dilatih, dan dibimbing untuk semakin mematangkan kemampuan mereka dalam menghadapi HNMUN 2019 mendatang. Mereka dilatih untuk terbiasa membawakan speech yang baik, menghasilkan position papers yang baik dan benar, melakukan research yang mendalam, drafting yang komprehensif, serta diberikan tips dan trik dalam menjalani committee sessions. Selama 9 bulan tersebut pula, keduanya juga mencari sokongan dana dari para sponsor untuk berangkat ke Amerika, karena dana yang dibutuhkan untuk dapat menginjakkan kaki di Negara Paman Sam tentulah tidak sedikit.

Proses dibalik keberangkatan keduanya ke Amerika memang sangat berat. Ashila menuturkan bahwa, ditengah-tengah jalan dirinya sempat merasa ragu, pesimis, dan hampir menyerah, “Selama 9 bulan tuh capek banget, menguras waktu dan tenaga. Sempet timbul pertanyaan worth it gak sih ngelakuin ini semua? Ada gak sih hikmah dari ini? Kadang di saat saya merasa down ada keraguan yang muncul, tapi saya terus didukung oleh keluarga dan teman-teman satu delegasi saya yang bikin saya semangat lagi. Menurut saya, capek dan ragu itu merupakan hal yang sangat wajar dalam berproses”. Baginya, semua usaha dan kerja keras yang sudah kita lakukan akan terbayar pada akhirnya.

 Kemudian setelah melalui proses panjang dan melelahkan, pada tanggal 12 Februari 2019 akhirnya Ashila dan Cassandra bersama delegasi lainnya menginjakan kaki di Negeri Paman Sam. Saat ditanya bagaimana perasaan dan kesannya saat pertama kali mendarat di Amerika, Ashila dan Cassandra sama-sama tidak menyangka bahwa setelah waktu panjang yang selama ini sudah dilewati untuk mewujudkan mimpi berangkat ke Amerika dengan menjadi salah satu delegasi dalam ajang HNMUN, sesaat lagi akan segera terealisasi, dan yang pastinya mereka berdua merasa sangat-sangat deg-degan dan excited.

Situasi menarik lainnya yang dialami Ashila dan Cassandra adalah merasakan bagaimana menjadi bagian dari minoritas. Disana, delegasi yang menggunakan hijab dapat dihitung dengan jari, sangat terbalik dimana di Indonesia wanita berhijab bukanlah sesuatu yang baru lagi. Pengalaman tersebut mengajarkan keduanya bahwa kita ini disini tidak sendiri, melainkan sebuah bagian dari international community yang besar dan sangat beragam.

Ashila juga menceritakan salah satu kejadian menarik yang dialami diluar konferensi, yakni pernah satu waktu ketika berbelanja dengan delegasi lainnya di salah satu supermarket, tiba-tiba ada salah seorang warga lokal yang melihat dengan tatapan ketakutan terhadap mereka. Dirinya menganggap hal ini menarik dan lucu, karena masih ada pandangan seperti itu dengan segala keterbukaan yang ada di dunia saat ini. Meskipun begitu dirinya merasa Negara Amerika saat ini sudah cukup bersahabat untuk wanita muslim yang berkerudung.

Banyak pengalaman dan nilai-nilai berharga yang didapatkan oleh Ashila dan Cassandra selama di Amerika ketika mengikuti ajang Harvard National Model United Nations. Mereka mendapatkan sebuah keluarga baru yakni rekan-rekan satu delegasi lain dari Universitas Padjadjaran. Selama persiapan sebelum dan ketika disana, mereka saling mengenal satu sama lain sifat asli dengan rekan delegasi dari unpad dan saling menyayangi satu sama lain. Selain itu, pengalaman yang paling berharga ialah bisa mewakili Universitas Padjadjaran ke kancah internasional. Karena ini merupakan mimpi yang besar bagi Ashila dan Cassandra. Ashila mengatakan bahwa dirinya sudah terinspirasi ketika dia masih menjadi mahasiswa baru dan melihat baliho delegasi Unpad for HNMUN yang terpajang besar di area gerbang lama Unpad. Ketika salah seorang teman dekatnya turut terpilih menjadi delegasi tahun 2018, Ashila terdorong untuk mencoba kesempatan tersebut.

Sementara Cassandra menjelaskan, yang menjadi motivasi terbesar bagi dirinya adalah prinsip hidup yang ia miliki yakni memiliki target selama kuliah untuk bisa go internasional, mencari pengalaman yang bisa mengembangkan potensi diri, dan dapat menjadi kebanggaan diri setelah lulus nanti, bahwa pernah mewakili universitas pada event skala internasional.

Sebagai penutup, Ashila dan Cassandra menyampaikan motivasi bagi siapapun yang terinspirasi dengan jejak sukses keduanya yang sudah berhasil mengharumkan nama Universitas ditingkat Internasional. Ashila menjelaskan secara singkat bahwa motivasi yang harus ditanamkan adalah “Hard work will always paid off”. Jangan pernah ragu kalau kamu tidak bisa, karena semua usaha dan kerja kerasmu akan terbayarkan”. Kemudian Cassandra juga membagikan quotes motivasinya, yang bunyinya “Ikuti kemauanmu, percaya diri dan yakin setiap masalah akan ada jalan penyelesaiannya.” [RMB]

Tags: , ,

Profil Mahasiswa

Annisa Aji Anggoro dan Visinya menjadi Agent of Change

May 20, 2019

Annisa Aji Anggoro dan Visinya menjadi Agent of Change
Annisa Aji Anggoro, mahasiswi Program Studi Ilmu Perpustakaan Fikom, terpilih sebagai delegasi Universitas Padjadjaran, dalam

Profil Dosen

ADE KADARISMAN, “KOMUNIKASI SEBAGAI JEMBATAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN”

June 5, 2019

ADE KADARISMAN, “KOMUNIKASI SEBAGAI JEMBATAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN”
Ade Kadarisman, dosen program studi Hubungan Masyarakat Fikom Unpad telah merilis buku yang berjudul Komunikasi

Profil Alumni

Cerita Inspiratif Muhammad Nur Hakim (Senior Business Partnership Tokopedia) dan Dosen Fikom Favoritnya

April 20, 2019

Cerita Inspiratif Muhammad Nur Hakim (Senior Business Partnership Tokopedia) dan Dosen Fikom Favoritnya
Muhammad Nur Hakim, Lahir di Palembang, 14 oktober 1993, Mas Hakim merupakan Alumni program studi hubungan masyarakat