Farah Qoonita dan Karya Desain Islami

 

farah-qonita-1-edit

BERAWAL dari mengerjakan tugas kuliah komunikasi visual  , Farah Qoonita (21), mahasiswa Prodi Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2012 ini belajar desain digital dari nol. Berbagai usaha ia lakukan untuk terus berkarya, sampai kemudian mendirikan studio desain yang dinamai Kanan Studio.

“Aku memang suka gambar dari kecil, tapi suka dunia digital baru semester tiga ketika ada mata kuliah komunikasi visual dan tugasnya buat desain-desain koran dan majalah. Dari situ aku rajin belajar, cari tutorial-tutorial di youtube sampai minta diajarin ke temen kosan,” kata Qoonit sapaan akrabnya ketika mengisahkan permulaan perjalanannya menjadi graphic desainer.

Untuk mengasah kemampuannya, ia mulai show up di organisasi yang ia jalani, seperti di Biro Kerohanian Islam (BKI) Fikom Unpad, ia selalu menjadi Divisi Informasi dan Komunikasi atau jika kepanitiaan ia masuk ke Publikasi dan Dokumentasi. Selanjutnya ia pun bergabung ke media BEM Kema untuk menjadi layouter Warta Kema. Hal itu ia lakukan karena ia merasa bahwa ia harus mengkondisikan dirinya untuk selalu mendesain di bawah tekanan deadline jika ingin selalu berkarya.

Ia memperoleh proyek pertamanya dari salah satu dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) untuk membuat profil company FTIP dalam bentuk infografis. Ia pun ikut The Local Enablers (TLE), yaitu forum bisnis Start Up mahasiswa di Unpad.

Tidak puas dengan menguasai desain digital, Qoonit juga tertarik dengan dunia videografi dan mulai tekun mempelajarinya. Semenjak itu, ia berpikir ada peluang bisnis dari kemampuan yang ia miliki sehingga ia tak ingin menyia-nyiakannya.

Akhirnya ia bersama tiga temannya, Dian, Ria, dan Fakhrul beberapa waktu lalu membuat Kanan Studio, yang memberikan jasa desain berupa desain undangan, infografis, brosur, souvenir, company profil, video motion grafis, dan lainnya.

Dengan bermodalkan gadget yang mereka miliki, mereka gencar promosi di sosial media dan menyebarkan portofolio ke publik. “Kebetulan waktu itu ada event 1000 wirausaha di depan Gedung Sate, kesempatan dong buat kita sebar-sebar portofolio. Alhamdulillah dari situ ada yang tertarik dengan desain kita,” kata Qoonit.

Harga per desain di Kanan Studio beragam, dari ratusan ribu hingga jutaan tergantung kesulitan dan lama waktu pengerjaannya. Untuk motion grafis misalnya, menit pertama Rp 700 ribu lalu menit selanjutnya Rp 300 ribu. Untuk infografis mereka patok seharga Rp 600 ribu. Keuntungan tertinggi yang pernah mereka dapatkan dari proyek infografis, yaitu sebesar Rp 2,4 juta.

Walaupun masih berstatuskan mahasiswa, Qoonit tidak takut untuk dikritik dan mengambil langkah untuk terus maju. Qoonit merasa kritikan itu sebagai pembelajaran untuk memperbaiki bisnisnya menjadi lebih baik.

Keberhasilannya tersebut tak lepas dari peran Fikom yang mampu membuat Qoonit berani terjun ke dunia bisnis. “Tanpa ada mata kuliah komunikasi visual, Qoonit tak akan bisa Coreldraw ataupun Photoshop, dan tak mungkin juga bisa jadi seperti ini. Jadi bisa dibilang di Fikom-lah Qoonit menemukan potensi,” ujarnya.

 

Bawa Nilai Islam

Dalam membangun bisnisnya, Qoonit dan ketiga temannya tak hanya menjadikan bisnis sebagai tujuan dunia, melainkan mereka membawa asas-asas nilai Islam ke dalamnya. Oleh karena itu, sebelumnya Qoonit tak mau sembarang memilih partner.

“Ya kita harus punya satu visi dan misi yang sama. Karena kalau berbeda takutnya di tengah jalan kita pisah,” katanya.

Mereka menolak segala jenis pesanan desain yang tidak sesuai dengan visi dan misi, seperti misalnya menolak jasa desain produk makanan yang mengandung unsur haram, produk yang riba, dan hal lainnya yang tidak sesuai dengan asas Islam. Bahkan mereka menyisihkan lima persen komisi dari Kanan Studio untuk digunakan sebagai dana sosial seperti Qurban.

Qoonit pun sempat ditawari kerja di salah satu studio yang didirikan oleh mahasiswa. “Lumayan sih omzet studionya besar, tapi karena tidak sevisi dan semisi sama yang punya, ya saya tolak,” ujarnya.(Vina Anggita)