Festival Eksplorasi Budaya Nusantara oleh Mahasiswa Ilkom 2013.

 

JATINANGOR – Ruang Moestopo Gedung 4 Fikom Unpad kembali diguncang oleh semaraknya Festival Budaya Nusantara Senin, (15/6). Acara ini berbeda dengan konsep Globalination yang diselenggarakan beberapa hari sebelumnya. Inilah pertama kalinya Fikom Unpad mengadakan festival yang mengangkat budaya suku-suku pedalaman dan kearifan lokal yang ada di Indonesia.

 
Acara ini dilaksanakan sebagai ujian akhir untuk mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya bagi mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi angkatan 2013. Tujuh kelompok suku dan kebudayaan yang ditampilkan pada acara yang bertema Eksplorasi Budaya Nusantara ini, antara lain budaya suku Baduy (Sunda), suku Dayak Maanyan (Kalimantan), suku Toli-Toli (Sulawesi Tengah), suku Sasak (Lombok), suku Dani dan Asmat (Irian Jaya), serta suku Mentawai.

 
Ketujuh kelompok ini telah melakukan riset mendalam tentang banyak hal yang merepresentasikan budaya dari suku-suku daerah di Nusantara yang mereka wakili. Seluruh anggota kelompok mengenakan kostum tradisional dan bertata rias layaknya orang pribumi dari suku-suku tersebut. Selain mengenakan kostum yang sangat menyerupai masyarakat asli sukunya, para mahasiswa Ilmu Komunikasi ini juga mencoret-coret wajah dan tubuhnya dengan tato sebagai ciri khas suku-suku tersebut.

 
Setiap kelompok menampilkan atraksi budaya berupa mini kabaret dengan rangkaian tarian dan musik.  Mereka juga menyusun stand-stand berhiaskan artefak, properti dan gambar-gambar khas tentang budaya suku tersebut. Lebih menarik lagi mereka juga menyediakan makanan khas dan hasil alam daerah, misalnya ayam taliwang dan plecing kangkung khas suku Sasak, olahan sagu dari suku Asmat, serta olahan hasil alam cengkeh dari suku Toli-Toli.

 
“Kami mempersiapkan semuanya dalam waktu dua hari setelah jadwal UAS berakhir hari Jumat lalu,” papar Antsa Zakiyatun, perwakilan kelompok suku Toli-Toli.

 
“Saya merasa bangga bisa mengetahui budaya lokal yang tak kalah dengan budaya dari luar negeri, contohnya motif tato suku Mentawai terkenal juga di mancanegara,” ungkap Yesaya, perwakilan suku Mentawai.

 
Weny Widyowati, MSi selaku dosen mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya (KLB) mengatakan, “Festival ini berbeda dengan festival lintas budaya sebelumnya karena lebih mengeksplorasi ke dalam negeri, yaitu budaya suku-suku terpencil di pedalaman Nusantara.” “Saya juga berharap tahun berikutnya festival budaya ini dapat berkolaborasi dan penampilan yang berbeda dari setiap prodi,” ungkap Weny.

 
Acara tersebut juga dihadiri oleh Dekan Fikom Unpad Prof. Deddy Mulyana. Beliau mengatakan, festival ini menjadi ajang yang menarik untuk mempelajari sejarah dan kearifan lokal bangsa. “Dengan cara yang kreatif, mahasiswa dapat mengapresiasi dan menginterpretasi budaya suku-suku di Nusantara,” tambah Deddy.

 
Tim dosen mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya pun melakukan penilaian dari segi penampilan, presentasi, kesesuaian dengan tema, kreatifitas, kekompakan, dan juga sinopsis dan makalah. (evelynd)