Fikom Unpad Gelar Seminar Kurikulum TV dan Film.

 

Prodi-TVF-4JATINANGOR – Hingga kini di seluruh Indonesia tercatat 500 stasiun TV lokal, 50 saluran TV berlangganan. Tahun 2015, kabarnya di DKI Jakarta akan dikeluarkan lagi 40 lagi TV swasta baru.

 
Drs.J.Terkelin Tarigan MM dari Himpunan Ajli Teknik Penyiaan Indonesia (HATPI), mengungkapkan hal itu dalam Seminar Nasional Penyusunan Kurikulum Prodi TV dan Film, Rabu (10/12) di Kampus Fikom Unpad Jatinangor. Tampil juga sebagai pembicara Dr Jaeni B Wastap ,MSi dari Prodi TV dan Film, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Forum ini diikuti selain oleh dosen Fikom Unpad, juga sejumlah dosen dari sejumlah perguruan tinggi di Karawang, Jakarta dan Gorontalo.

 
Besarnya jumlah stasiun TV di Indonesia, menurut Tarigan, tentunya membutuhkan banyak karyawan, baik untuk stasiun TV, juga untuk Production House. Tarigan menelaah, sejumlah stasiun TV swasta nasional, TV berlangganan, TVRI dan hampir seluruh TV lokal di Indonesia sangat kesulitan mencari SDM yang berkualitas. Akibatnya, kualitas acara TV di Indonesia relatif rendah.
Prodi-TVF-5

Dampak selanjutnya, acara TV menjadi tidak menarik bagi khalayak sehingga pendapatan dari iklan pun rendah. Ternyata, sambung Tarigan , kebanyakan dari karyawan TV itu tidak memiliki latar belakang pendidikan TV dan atau film. “Mereka hanya mengadakan pengalaman kerja di production house di stasiun TV lainnya” tegas Tarigan.
Pesatnya perkembangan pertelevisian dan film di Indonesia ditambah dengan diberlakukannya MEA 2015 maka akan sangat dibutuhkan SDM yang berkualitas. Di sinilah peran pendidikan tinggi TV dan film untuk pemasok SDM yang berkualitas.

 
Pendidikan TV dan Film.
Di Indonesia menurut, Dr Zaeni B Wastap terdapat sejumlah perguruan tinggi negeri yang memiliki prodi TV dan Film, yakni ISI Denpasar, ISI Surakarta, ISI Padangpanjang, ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, Univ Jember, IKJ Jakarta, serta yang terbaru adalah Fikom Unpad.

 
Di ISBI (sebelumnya bernama STSI) Bandung spesifikasi pendidikan TV dan film lebih cenderung ke produksi dokumenter seni dan budaya. Produknya lebih banyak untuk dipasarkan ke luar negeri ketimbang untuk dalam negeri. Mengapa ke dokumentasi, menurutnya dokumentasi budaya memiliki keunikan. Juga adanya kebutuhan pendokumentasian seni dan budaya atau intangible heritage. Selain juga visi misi ISBI yang berorientasi global sehingga dapat mengisi kebutuhan acara Discovery Channel dan International Geographic. (AA).