Hawe Setiawan Raih Gelar Doktor

 
Hawe Setiawan (Foto Koleksi Pribadi)

Hawe Setiawan (Foto Koleksi Pribadi)

BANYAK yang tidak tahu bahwa budayawan kahot yang popular dengan nama Hawe Setiawan ini adalah alumni Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad. Banyak yang mengira pria kalem kelahiran Subang 21 November 46 tahun yang lalu ini adalah lulusan UPI atau fakultas sastra. Anggapan itu tidak salah mengingat Hawe ibarat kamus berjalan jika ditanya perkara kebudayaan, khususnya budaya Sunda.

 

Sabtu (27/9) lalu, lelaki yang bernama asli Wawan Setiawan ini berhasil meraih gelar doktor di Program Pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB dengan judul disertasi Representasi Lanskap Alam Piangan abad ke-19 dalam Ilustrasi Franz Wilhelm Junghun. Hawe meneliti karya-karya Junghuhn (yang dikenal dengan perkebunan Kina-nya di jaman kolonial dulu) yang dimuat dalam buku berjudul Java, Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Struktur terbitan tahun 1850.

 
Representasi visual dari karya sketsa Junghuhn, ditemukan aneka matra bentang alam yang terdiri atas matra batuan, matra tumbuhan, dan matra budaya. Menurut Hawe, Junghuhn menyiratkan disiplin kerja penyelidik kebumian yang keras hati. Dia melihat, mencatat dan menggambar bentang alam.

 
Gelar magister, Hawe yang sekarang menjadi dosen di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas Bandung ini, juga diraihnya di FSRD ITB. Temuan tentang aneka ilustrasi karya Junghunh ini pernah juga oleh Hawe diseminarkan di sebuah universitas di Amerika pada 2012 lalu.

 
Wawan Setiawan mengubah namanya menjadi Hawe Setiawan setelah dia bergelar haji pada saat masih duduk di bangku kuliah. Hawe itu sesungguhnya singkatan dari H.W.Setiawan. Teman-teman kuliahnya S1-nya di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 1987 sejak mahasiswa melihat Wawan memiliki perhatian yang lebih terhadap seni dan budaya. Dia seringkali hadir di aneka acara diskusi budaya, peristiwa budaya yang berlangsung di beberapa tempat seperti di kampus STSI (dulu ASTI), Gedung Kesenian Rumentang Siang, serta kampus seni lainnya. Begitu pun ketika dia menjadi wartawwan di sebuah media cetak di Jakarta.

 
Minatnya yang besar terhadap dunia seni dan budaya dia tuangkan dalam sejumlah karya yang dimuat diantaranya di Majalah Sastra Horison, Majalah Berita Mingguan Tempo, Koran Tempo, Republika, Kompas, Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar. Sementara tulisan-tulisan dan terjemahannya dalam bahasa Sunda dimuat dalam majalah Cupumanik, Mangle Bina Da’wah, Tabloid Galura

 

Wawan juga menulis sejumlah buku antara lain: Aura Waktu: Setengah Abad ITB
(co-writer, 2009) dan Dari Kaki Gunung Guntur ke Taman Sari: Biografi Prof. Dr. E. Saefullah Wiradipradja, S.H., LLM (2008). Sementara hasil terjemahannya, antara lain, Tiga Pesona Sunda Kuna (2009) dan Jagat Carita(2004), serta sederet karya lainnya. (AA Mahria)