HMJ Gelar Jurnalisme Musik

 
Idhar Resmadi dan Teguh Wicaksono (Foto Dina Gurning).

Idhar Resmadi dan Teguh Wicaksono (Foto Dina Gurning).

JATINANGOR – Tidak ada literatur yang pernah mengungkapkan kapan persisnya istilah jurnalisme musik mulai digunakan. Namun, fenomena ini sudah berkembang sejak tahun 1960-an di Amerika dan Inggris. Jurnalisme musik hadir melalui munculnya penerbitan musik dan budaya populer seperti Rolling Stone, NME, Melody Maker, dan Creem. Rolling Stone, salah satunya, diterbitkan oleh Jann Wenner dan Ralph Gleason pada 1967.

Jurnalis Musik, Idhar Resmadi mengungkapkan hal itu dalam seminar “Parade Jurnalistik: Listen to The Words” yang digelar Hima Jurnalistik (HMJ) pada Sabtu (17/10) lalu di Aula Gedung Pascasarjana Fikom Unpad, Jatinangor, Jawa Barat. Idhar adalah mantan pemimpin redaksi majalah Riple Magazine sekaligus penulis buku “Based on A True Story Pure Saturday“.

Jurnalis-Musik-edit

Selain Idhar, hadir juga seorang produser dan co-founder kanal musik YouTube bernama Sounds From The Corner, Teguh Wicaksono yang juga alumni Prodi Jurnalistik angkatan 2005. Seminar tersebut dihadiri oleh sekitar 50 orang mahasiswa Unpad dari berbagai fakultas di Unpad.

Sama seperti genre jurnalisme yang lain, jurnalisme musik juga menganut paham keberimbangan. “Kalau memang musik itu jelek, ya, tulis jelek. Jangan karena, misalnya, media lo media partner, lo bagus-bagusin,” ujar Teguh menanggapi pertanyaan salah seorang peserta.

Salah satu topik yang dibahas dalam seminar tersebut adalah kehadiran internet dan pengaruhnya dalam jurnalisme musik. “Media-media jadi mengalami pergeseran format; yang tadinya hanya dalam format cetak, sekarang dalam format web magazines, radio streaming, dan video streaming. Tantangan buat media-media musik online ini adalah persaingan untuk memperoleh iklan,” ujar Idhar.

Menurut Idhar, salah satu kunci buat sebuah media musik untuk bertahan di tengah derasnya kompetisi adalah inovasi. “Kemampuan inovasi yang dikawinkan antara produk-produk jurnalisme musik yang mampu intim dengan teknologi media,” paparnya.

Lebih jauh lagi, Idhar berpendapat, jurnalisme musik akan terus ada. “Selama musik dan peristiwanya masih hadir dan dinikmati masyarakat, jurnalisme musik tak akan hilang. Yang terjadi hanya formatnya saja yang berubah,” pungkas alumni Fikom Unpad ini. (Dina Gurning)