Iklim Akademik di Negara Maju Patut Ditiru

 
Dari kiri ke kanan  Dr.Jenny Ratna Suminar M.Si, Andri Yanto,S.Sos,M.Ikom, Dr Funny Mustikasari Elita,MSi dan Dr. Eni Maryani,MSi. (Foto Suwito).

Dari kiri ke kanan Dr.Jenny Ratna Suminar M.Si, Andri Yanto,S.Sos,M.Ikom, Dr Funny Mustikasari Elita,MSi dan Dr. Eni Maryani,MSi. (Foto Suwito).

JATINANGOR – Iklim akademik di negara-negara maju patut ditiru oleh sivitas akademika di negara kita. Iklim akademik di sejumlah perguruan tinggi di luar negeri itu juga mempengaruhi budaya akademik para sivitas akademikanya sehingga kualitas akademik seperti riset dan proses belajar mengajar disana begitu luar biasa.

 

Demikian rangkuman dari empat orang dosen Fikom Unpad yang berbagi pengalaman selama mereka mengikuti program ke luar negeri belum lama ini. Mereka adalah Dr.Jenny Ratna Suminar M.Si, Andri Yanto,S.Sos,M.Ikom, Dr Funny Mustikasari Elita,MSi dan Dr. Eni Maryani,MSi. Mereka berbagi pengalaman di hadapan para dosen Fikom Unpad, Senin (19/1) di ruang Oemi Abdoerachman, Kampus Fikom Jatinangor. Hadir dalam acara ini Dekan Fikom dan para Wakil Dekan Fikom Unpad.

 
Lima-Dosen-1Menurut Jenny Ratna Suminar, di Indonesia seorang dosen begitu bangganya jika seorang mahasiswa bisa membuat makalah setebal 100 sampai dengan 150 halaman. Semakin tebal, semakin bagus nilainya. “Di Monash University, makalah itu cukup dua halaman” ujar Jenny yang beberapa waktu lalu mengikuti program ke universitas terbaik di Australia itu. Kendati hanya dua halaman, sambung Jenny, tetapi itu karya orisinal si mahasiswa tadi, bukan karya copy paste.

 
Andrianto yang juga mengikuti program di universitas yang sama menyatakan, semua tugas akhir mahasiswa dan dosen oleh kampusnya dipublikasikan secara on-line tanpa ada ketakutan untuk dijiplak oleh pihak lain. Justru dengan dipublikasikan secara on-line mahasiswa atau dosen akan berhati-hati ketika membuat karya ilmiah sebab bisa ketahuan yang menjiplak dan siapa yang djiplak. “Keuntungan lainnya, peringkat seseorang dan universitas bisa meningkat karena peluang namanya untuk dikutip secara ilmiah oleh pihak lain cukup tinggi” ujar Ato, panggilan Andri Yanto.

 
Hal serupa juga terasa di Maastricht University Belanda. “Iklim riset dan proses belajar mengajar sangat kondusif” ujar Dr. Funny Mustikasari yang mengunjungi negara Kincir Angin belum lama ini. Menurutnya, proses belajar mengajar di sana bukan lagi sebagai metode tetapi menjadi sebuah strategi. “Knowledge mampu dikonstruksi oleh semua mahasiswanya” ujarnya. Kebenaran juga bukan mutlak milik dosen. Dosen pun tidak pernah mencekoki aneka bahan ajar buat mahasiswanya, sambungnya. Hal tersebut karena peserta ajar dalam kelas berjumlah maksimal hanya dua puluh orang sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan baik.

 

Begitu pun di Perancis, Dr Eni Maryani yang juga berkesempatan menimba pengalaman di Center d’Andyce et de Richerche Interdicipline Sur les Media (CARISM) Perancis, iklim dan budaya akedemik di sana cukup kental. Laboratorium di sana sangat bergengsi karena para profesor bersama para mahasiswa tingkat doktoral berkiprah disini. Dari laboratorium ini dihasilkan aneka artikel ilmiah untuk jurnal internasional dan buku.

 

Perpustakaan kampus buka dari pukul 08.00 s.d. 21.00, luar biasanya, ujar Eni, perpustakaan kampus tidak pernah kosong, bahkan untuk mencari kursi dan meja kosong pun teramat sulit. Setiap meja dilengkapi dengan satu set komputer yang berjaringan internet.

 

Dosen pun spesialisasinya sangat spesifik. “Saya menjawab spesialisasi saya adalah di bidang studi media, ketika ditanya tentang spesialisasi yang dikuasai” ujar Eni. Menurut para dosen di sana, itu terlalu umum, sebab di Perancis jauh lebih spesifik, misalnya ada dosen yang secara spesialis hanya mendalami tentang Google dengan segala seluk beluknya. (AA)