Irfan Junaedi, Belajar Dari Konflik

 
Irfan Junaidi.

Irfan Junaidi.

IRFAN JUNAEDI saat ini dikenal sebagai Wapemred harian Republika. Kuliah di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad tahun 1992. Rampung kuliah pada 1997, Irfan memulai kariernya sebagai jurnalis di harian Republika sebagai kontributor hingga tahun 1998. Pria kelahiran Cilacap, 8 September 1973 ini tinggal di Arcamanik, Bandung, bersama seorang istri, Yuli Tri Suwarni (yang juga seorang jurnalis dan alumni Jurnalististik Fikom Unpad), dan tiga orang anak perempuan, Nazhimah Rasyida, Darine Amila Ludza, dan Manar Kauniy Meditera.

 
Pada 2007, pria yang sering dipanggil Kitring ini melanjutkan pendidikannya ke program magister di Cranfield University yang bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat menyelesaikan pendidikannya dari program magister pada 2009, Irfan bekerja sebagai koordinator peliputan daerah Jawa Tengah di harian Republika.

 

Bertugas ke Paris. (Foto koleksi pribadi).

Bertugas ke Paris. (Foto koleksi pribadi).

Pada 2002, Irfan pergi ke Tokyo, Jepang, untuk mengunjungi sesama rekan wartawan di Jepang Foreign Press Center. Pada 2004, Irfan mengunjungi Indonesia Forest Media Campaign 2004. Acara ini mendukung wartawan Indonesia untuk membuat laporan investigasi mengenai isu-isu lingkungan. Saat ini, Irfan bekerja sebagai redaktur pelaksana di harian Republika.

 
Salah satu karya buku andalan Irfan Junaedi adalah ‘Tibo, Papua, danTerorisme’. Lewat karyanya ini, Irfan mengisahkan tentang fenomena pembantaian Muslim Poso, isu terorisme, dan dukungan jaringan gereja terhadap separatisme di Papua. Irfan melihat isu ini dari sisi tindakan penegak hokum dan pemerintah. Irfan membandingkan tindakan penegak hokum dan pemerintah terhadap kasus Tibo dengan kasus-kasus terorisme.

 

 

Irfan di sebuah negara Eropa (Foto koleksi pribadi).

Irfan di sebuah negara Eropa (Foto koleksi pribadi).

Salah satu pengalaman menarik selama Irfan bekerja sebagai jurnalis ketika ia hadir di referendum Timor Timur pada 1999. Saat itu, Irfan melihat pasukan dari TNI meninggalkan daerahTimor Timur melalui pelabuhan di Dili. Banyak orang Timor berteriak dan mencemooh pasukan TNI. Irfan menyadari bahwa situasi tersebut sangat berbahaya bagi dirinya sebagai orang Indonesia.  Tapi,Irfan malah mencoba untuk mendekati beberapa orang Timor Timur dan meyakinkan mereka bahwa Indonesia dan Timor Timur memiliki persahabatan yang sangat kuat.Beberapa wartawan dari negara lain memperingatkan Irfan untuk selalu berhati-hati. Untungnya, Irfan selamat selama di Timor Timur. Dari pengalaman tersebut, Irfan belajar banyak tentang arti rekonsiliasi. (Dinatalia R. Gurning)