Jurnalis Tempo, Alumnus Fikom Unpad, Erick P Hardi Dimakamkan di Sumedang.

 
Almarhum Erick P Hardi (Foto tempo.co)

Almarhum Erick P Hardi (Foto tempo.co)

SUMEDANG, Jurnalis Tempo, alumnus Prodi Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 1990, Erick Priberkah Hardi (42) yang meninggal dunia, Sabtu (8/11) malam sekitar pukul 22.50 WIB, seusai meliput pesta kemeriahan kemenangan Persib Bandung dimakamkan Minggu siang di kampung halamannya di Cipameumpeuk Sumedang. Sebelumnya dia koma selama 17 jam di RS Hasan Sadikin Bandung.

Erick dibawa ke rumah sakit setelah terlibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Setiabudi Bandung, Sabtu sekitar pukul 05.15 WIB. Menurut sejumlah saksi mata, Erick tengah memutar sepeda motornya menuju Jalan Cihampelas saat tiga orang pengendara sepeda motor melaju ke arah Lembang. “Mereka mahasiswa yang mau pulang ke Subang,” tutur Anwar Siswadi, rekan kerja Erick.

Tabrakan tak terhindarkan. Erick terpental dan langsung tak sadarkan diri. Penabraknya pun terluka meski tak separah Erick. Keduanya langsung dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSHS. Karena tak menunjukkan kondisi membaik, pada Sabtu malam Erick sempat dibawa ke ruang Intermediate High Care (IHC) agar dapat dibantu alat pernafasan. “Sekaligus memperbaiki kadar oksigen dalam darah,” tulis Ahmad Fikri, rekan sekantornya.

Namun Tuhan berkehendak lain. Sekitar pukul 22.50 WIB, Erick menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya lalu dibawa ke rumah duka di Jalan Pangarang Kota Bandung. Setelah disholatkan di mesjid dekat rumah duka keesokan paginya, jenazah dibawa untuk dikebumikan di makam keluarga di Kelurahan Cipameungpeuk Kabupaten Sumedang.

Menurut Kepala Biro Tempo Wilayah Jawa Barat, Eni Saeni, Erick memang ditugaskan untuk meliput suasana kota Bandung yang tengah dipadati ribuan pendukung Persib yang turun ke jalan merayakan kemenangan tim kebanggaan mereka. Seperti diketahui, Persib berhasil menjadi juara setelah menundukkan Persipura Jayapura di partai final ISL 2014.

Dengan mengendarai sepeda motornya, pria berambut gondrong ini berkeliling Bandung untuk meliput keramaian itu. Selepas azan subuh, almarhum berniat untuk pulang. “Namun ketika hendak menuju Cihampelas, sepeda motornya dihantam sepeda motor lain,” kata Fery Firmansyah, rekan kerja Erick yang sempat berbalas pesan BlackBerry beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi.

Di mata teman-temannya, Erick dikenal sebagai jurnalis yang tidak banyak cakap. Namun saat melakukan reportase di lapangan, pria kelahiran 16 Februari 1971 itu dikenal tangguh, keras kepala dan “ngotot”. “Almarhum juga sangat idealis terutama dalam menolak ‘amplop’ dari narasumber,” kata Ferry.

Pemakaman Erick P Hardi di Sumedang (F0to Rana Akbari)

Pemakaman Erick P Hardi di Sumedang (F0to Rana Akbari)

Menurut sahabatnya waktu kuliah dan pernah mengelola majalah bersama, Suhud Darmawan, Erick pernah diberi amplop berisi uang sebesar Rp 5 juta dari seorang sumber berita. Uang itu dikembalikannya setelah amplopnya diganti dengan amplop berkop medianya. Begitu juga ketika seorang petinggi partai memberinya amplop Rp 2 juta, dia kembalikan ke pemberinya.

Erick adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik perempuannya, Ervi, sudah meninggal pada tahun 2004 karena sakit. Sedangkan Enong Hasan, ayah Erick, wafat pada tahun 1998. “Jadi Erick menjadi tulang punggung keluarga,” ujar Mimin, ibunda Erick. Kini, sepeninggal Erick, Mimin hanya tinggal berdua dengan Ervan, putra bungsunya.

Sebelum bergabung dengan Tempo Jawa Barat pada tahun 2006, Erick sempat menjadi jurnalis untuk majalah Budget yang dikelola oleh LSM Bandung Institute of Governance Studies (BIGS). Perhatiannya kepada isu korupsi terus diasah setelah dia bergabung menjadi koresponden di Tempo News Room. Selain meliput di desk hukum dan kriminal, Erick juga rajin menulis berita olahraga terutama tentang pertandingan seputar Persib. (rana akbari)