Kadarosi Defa, Dari Duta Wisata Wonogiri ke Presenter TV

 

Defa-KPM-2-edit

SIBUKNYA dunia penyiaran berita sudah dirasakan oleh Kadarosi Defa Widia, mahasisiwi Program Diploma 3 Fikom Unpad kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah. Meskipun belum lulus, Defa, nama panggilannya, sudah bekerja menjadi penyiar berita di TVRI Jabar Banten sejak 2013 hingga sekarang.
Setelah tamat SMA, perempuan yang lahir pada 20 September 1994 ini melanjutkan pendidikannya di D3 Penyiaran Fikom Unpad,. Tidak diterima di Fakultas Kedokteran membuat ia realistis dan memutuskan untuk beralih cita-cita. Ia pun menemukan minatnya untuk menjadi seorang penyiar berita.
“Saya masih ingat kata-kata Almarhum Ibu Laswani, dosen jurusan Jurnalistik yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang news presenter. Saat itu beliau bilang ‘Kamu yakin mau jadi news presenter? Yakin bisa? Jadi news presenter itu harus pinter lho, harus cantik.’,” ungkapnya.
“Setelah itu saya tertantang dan mencoba memperbaiki diri, ikut kompetisi-kompetisi, dan akhirnya ditawarin untuk casting di TVRI. Casting sekali, alhamdulillah langsung keterima,” kenang Defa sambil tertawa kecil.
Seni berbicara sudah tidak asing lagi bagi Defa. Pasalnya, pada tahun 2013, ia pernah mengikuti ajang pemilihan Duta Wisata Wonogiri 2013 dan meraih gelar Duta Intelegensi dan Duta Favorit dalam ajang tersebut.
Perempuan yang hobi travelling ini mengaku, prestasi yang ia raih sebelum dan sesudah kuliah sangat berbeda. Sebelum kuliah, ia banyak mengukir prestasi di bidang ilmiah dan sains, tapi setelah berkuliah ia pun mengukir prestasi gemilang dalam dunia penyiaran.
Sejumlah prestasi yang telah diraih Defa antara lain juara 1 Presenter kategori feature Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPI-D) Awards 2014, juara 1 Presenter Terbaik dalam Festival Pelajar Trans 2014, dan 3 besar Kategori Presenter Terbaik Piala Gatra TVRI Nasional 2014.

Dunia Siaran
Di awal perjalanannya menjadi seorang penyiar berita, Defa cukup dikejutkan oleh realitas yang ada di dunia kerja. Tak semudah yang ia bayangkan, ia harus mengorbankan waktunya, bahkan pada hari libur. Namun, hal itu tidak mematahkan tekadnya untuk bertahan menjadi seorang penyiar berita.
“Yang ada di bayangan saya, (penyiar berita) tinggal duduk, didandanin, dan baca script. Ternyata salah kaprah, jauh beda sama yang dibayangkan. Setiap Sabtu dan Minggu bangun jam 4 pagi dan berangkat ke kantor untuk siaran nasional. Jumat, Sabtu, Minggu juga saya harus nyari berita, 2-3 berita perhari. Jadi penyiar berita ternyata harus bisa nyari dan nulis berita juga,” papar Defa.
Walaupun berat menjadi mahasiswa sekaligus menjadi penyiar berita, ia tetap bersyukur. Menurutnya, kerja keras yang ia kerjakan sebanding dengan banyaknya ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan.
Selama bekerja, Defa mengaku belum menemui kendala yang tidak dapat ia hadapi. Menurut dara yang pernah menjadi sekretaris OSIS di SMA Negeri 3 Surakarta ini, pekerjaannya berjalan beriringan dengan bidang ilmu yang ia tekuni di kampus, sehingga tidak menghambat ia untuk tetap berprestasi dalam bidang akademik. Ia juga mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya.
“Sempat dimarahin orang tua sih gara-gara waktu lebaran tidak mudik karena harus siaran dan liputan, tapi akhirnya setelah saya beri pengertian, Ibu dan Bapak ngerti. Mereka juga tidak pernah menuntut apa-apa,” aku perempuan yang membawakan dua program acara di TVRI Jawa Barat, Jabar dalam Berita dan Negeri Indonesia.
Menurut perempuan yang aktif di organisasi Korps Protokoler Mahasiswa Universitas Padjadjaran ini, pengalaman yang paling berharga selama menjadi penyiar berita di televisi adalah dapat mewawancarai tokoh-tokoh penting dan terkenalseperti gubernur, walikota, dan masih banyak lagi. Selain itu, ia juga mendapatkan banyak relasi dari pekerjaannya ini.

 

Mimpi dan Cita-cita
Perempuan yang pernah menjadi Finalis SCTV Goes on Campus in 2013 ini memiliki 3 mimpi. Mimpi jangka pendek, mimpi jangka menengah, dan mimpi jangka panjang. Mimpi jangka pendeknya yakni bekerja di TVRI Nasional sambil meneruskan pendidikan ke S2, mimpi jangka menengah yakni mendapatkan beasiswa ke Voice of America (VOA), lembaga penyiaran publik berskala internasional, dan mimpi jangka panjangnya yakni menjadi dosen.
Defa tak ingin melupakan almamaternya, Universitas Padjadjaran. Ia ingin kembali sebagai dosen dan membagi pengalamannya agar dapat menginspirasi mahasiswa yang ingin mengejar cita-citanya.( Miriam Fajria Juliman)