Kesan Mendalam terhadap Bu Betty

 

JATINANGOR – Meninggalnya dosen senior Fikom Unpad, Dr.Betty S Soemirat,MS sangat mengagetkan banyak kalangan, baik itu mahasiswa, dosen, alumni baik di lingkungan Fikom, Unpad maupun di luar kampus Unpad. Hal tersebut karena banyak orang yang merasa kehilangan atas kehalusan budi dan kelembutan dosen Departemen Jurnalistik ini.

Drs.S.Sahala Tua Saragih, M.Ikom, dosen senior Departemen Jurnalistik Fikom Unpad, yang juga mantan mahasiswa almarhumah sejak 1973 memiliki kesan khusus terhadap almarhum. Tulisan berikut ini adalah naskah pendek yang awalnya ditujukan untuk “Kesan dan Pesan” pada saat Almarhumah memasuki purna bakti sekitar empat tahun lalu. Namun karena berbagai hal, naskah pendek ini tidak sempat untuk terpublikasikan.

Berikut ini “curhat” Sahala Tua Saragih tentang Bu Betty (alm).

 

Kesan Mendalam terhadap Bu Betty:

TEGAS DALAM SUARA LEMBUT DAN PELAN

Oleh S. Sahala Tua Saragih (L73003)

Spanduk ucapan Dukacita (Foto : Suwito)

Spanduk ucapan Dukacita (Foto : Suwito)

Dahulu, tahun 1970-an, di luar jam kuliah, para mahasiswa, termasuk saya, biasa menyapa dosen-dosen muda atau relatif muda “Kang”, “Bang” , “Ceu”, “Kak” atau “Mbak”. Panggilan akrab dan egaliter ini lazim kami gunakan ketika berkomunikasi dengan Kang Soleh (Soleh Soemirat), Bang Am (Aminudin), Kang Chandra, Ceu Betty (Betty F. Sabur), Kak Evi, Mbak Ayu (Sri Rahayu).

Aneh namun nyata, fenomena kini justru bertolak belakang. Calon dosen yang baru mulai magang sekalipun disapa “Bapak” atau “Ibu”, termasuk oleh teman sekelasnya yang masih kuliah “pendalaman”. Lebih aneh lagi, sekarang dosen yang sudah sangat senior pun menyapa asistennya yang masih sangat muda (pasti dulu mahasiswanya juga) “Bapak” atau “Ibu”. Ini tanda maju atau mundur, ya? Apakah dosen dan mahasiswa zaman dahulu menganut egaliterisme, sedangkan dosen dan mahasiswa masa kini menganut feodalisme? Entahlah.

Terus terang, saya merasa tidak berbahagia dipanggail “Bapak” oleh dosen senior yang mendidik saya tahun 1970-an. Saya merasa akrab dan senang dipanggil nama (“La!”) hingga kini seperti biasa dilakukan sahabat-sahabat lama saya, Bang Darmawan, Bung Deddy (Dekan Fikom Unpad), dan Bung Roy “Roger” Rondonuwu. Saya pribadi merasa sangat senang dipanggil “Abang” oleh para mahasiswa baru sekalipun. Dalam budaya masyarakat kita sapaan niscaya menunjukkan jarak atau kedekatan personal (psikologis). Sapaan akrab (egaliter) juga membuat kita merasa nyaman dan senang.

Panggilan “Ceu Betty” waktu itu membuat saya pribadi merasa sangat dekat dengan Bu Betty (catatan: entah mengapa kemudian saya mengubah sapaan akrab itu, entah mulai kapan). Sejak diajar pertama kali di ruang kuliah hingga detik ini Bu Betty tak berubah, tetap santun, bersahaja, rendah hati, berbicara lembut dengan volume suara kecil (pelan) pula. Kadang-kadang di ruang kuliah suaranya nyaris tak terdengar oleh mahasiswa, apalagi mereka yang duduk di jajaran belakang. Selain kuat dalam berlogika, Bu Betty pun sangat teguh dalam mempertahankan pendirian (prinsip) yang dianggapnya benar, termasuk taat dan patuh terhadap aturan-aturan atau hukum resmi, terutama dalam konteks akademik atau pendidikan tinggi.

Disadari atau tak disadari, Bu Betty secara diam-diam, pelan-pelan namun pasti, mengajarkan kepada kita bahwa untuk menyatakan dan mempertahankan suatu kebenaran, prinsip, dan pendirian, tidak perlu dengan suara keras, nada tinggi, dan volume kuat (besar). Pun intelektualitas dan kecendekiaan seorang dosen terlihat jelas dan terasa kuat meskipun penampilannya sangat sederhana. Kebiasaan dan karakter teguh ini diperlihatkannya baik di dalam maupun di luar ruang kuliah, termasuk ketika membimbing para mahasiwa di ruang kerja dan di rumahnya. Inilah prinsip dan kiat berkomunikasi efektif yang diajarkannya kepada kita selama ini.

Kini secara administratif Bu Betty memang telah memasuki masa pensiun. Akan tetapi secara fungsional Bu Betty tetaplah dosen , terutama dalam pendidikan program strata dua dan tiga (pascasarjana). Memang, benar seorang guru/dosen boleh pensiun dari tugas pokoknya di kelas, namun secara fungsional dia tetaplah guru/dosen baik di sekolah/kampus maupun di tengah-tengah masyarakat.

Banner duka cita di lobby kampus Fikom Unpad (Foto Suwito)

Banner duka cita di lobby kampus Fikom Unpad (Foto Suwito)

Dalam dunia seni ada ungkapan, umur pendek, karya panjang. Usia sang seniman boleh pendek, namun usia karyanya niscaya sangat panjang. Kalaupun seorang guru/dosen telah meninggalkan bumi, namun karya, ajaran, dan didikannya tetaplah hidup selamanya dalam diri para anak didiknya. Bu Betty juga tentu percaya bahwa guru/dosen yang berhasil adalah ketika murid/mahasiswanya jauh lebih hebat daripada dirinya sendiri.

Benar amsal Raja Salomo (Sulaiman) dahulu kala bahwa semua yang di kolong langit ada waktunya. Ada waktu lahir dan ada waktu mati. Ada waktu muda dan ada pula waktu tua. Ada waktu sangat sibuk bekerja dan ada waktu santai menikmati masa pensiun (tua). Kinilah waktunya Bu Betty (tentu bersama Pak Soleh Soemirat, dosen senior kita juga) secara pelan-pelan mengurangi kesibukan sambil menikmati masa pensiun dalam suasana penuh sukacita dan kebahagiaan sejati. Kiranya Tuhan memberi Bu Betty kesehatan jasmani dan rohani serta usia yang sangat panjang, sehingga dapat menyaksikan prestasi para anak didiknya, termasuk menyaksikan karya anak, cucu, dan cicit mereka. Kami senantiasa mendoakan Bu Betty, Pak Soleh, dan segenap anggota keluarga Ibu. ***
Kampus asri Jatinangor, awal Oktober 2010

Catatan:
Penulis adalah salah satu mahasiswa yang dibimbing Bu Betty (Pembimbing Utama) dalam penulisan skripsi (1982) dan tesis (2012)
Tulisan ini saya buat pada awal Oktober 2010 untuk dimuat di buku kecil berisi kesan-kesan para dosen dan alumni Jurusan Jurnalistik, Fikom Unpad, ketika Bu Betty memasuki masa purnabakti pada akhir Oktober 2010.