Ketua Dewan Pers, Pers yang Sehat Hanya ada di Bangsa dan Negara yang Sehat.

 
Talkshow HPN di kampous Fikom Unpad. (Foto Suwito).

Talkshow HPN di kampous Fikom Unpad. (Foto Suwito).

JATINANGOR – Pers yang sehat hanya bisa ada dan berkembang di negara dan bangsa yang sehat. Pers sehat yang sehat pun indikatornya ada di lingkungan internal dan eksternal. Pers yang sehat bukan hanya dilihat dari sehatnya perusahaan, tetapi juga dari faktor-faktor tersebut.

 
Ketua Dewan Pers, Prof.Dr.H.Bagir Manan SH MCl mengungkapkan hal itu dalam talkshow memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang diselenggarakan Prodi Jurnalistik Fikom Unpad bekerjasama dengan Bandung TV, Selasa (24/2) di Auditorium Pascasarjana Fikom Unpad. Acara ini disiarkan secara live oleh Bandung TV. Acara dipandu oleh Ketua Prodi Jurnalistik, Dr.dadang Rahmat Hidayat SH,S.Sos,MSi.

 
Tampil juga sebagai pembicara Ketua KPID Jabar Dr.Dedeh Wardiah,MSi. Acara dihadiri pula oleh Dekan Fikom Unpad Prof.Deddy Mulyana, dan Ketua Asosiasi TV Lokal Indonesia, Komang Darmawangsa. Serta ratusan mahasiswa dan dosen Fikom Unpad yang memadati auditorium.

 
Menurut Bagir Manan, Kesehatan lembaga Pers dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal lembaga pers tersebut. Dari unsur internal meliputi kualitas dan idealisme insan atau para jurnalismenya, serta siapakah dan berperan sebagai apakah pemilik media yang bersangkutan. Sedangkan faktor eksternal meliputi tatanan politik serta kondisi masyarakatnya.

 

 

Suasana Talkshow. (Foto Aceng Abdullah)

Suasana Talkshow. (Foto Aceng Abdullah)

“Pers yang sehat hanya bisa hidup di negara demokrasi serta sejauh mana apresiasi masyarakatnya terhadap pers itu sendiri” ujar mantan guru besar Fakultas Hukum Unpad ini.

 
Bangsa yang sehat sambung B agir, adalah bangsa yang hidup dalam ketenteraman dan sejahtera. Adakalanya dalam masyarakat yang sehat terus-terusan bergejolak karena persnya sebagai pembuat gejolak.

 
Di Jaman Orde Baru, lanjut Bagir, masyarakat kelihatannya hidup tenteram. Tetapi selama 32 tahun kehidupannya persnya tidak sehat. Pasca reformasi, pers Indonesia berubah. Selama 15 tahun terjadi perubahan. Namun keluhan demi keluhan akan pemberitaan terus mengalir. “Setiap hari muncul banyak keluhan yang dialamatkan kepada Dewan Pers” ungkap Bagir.

 
Belakangan, keluhan masyarakat yang muncul dari pemberitaan pers amat dipengaruhi oleh terlalu jauhnya campur tangan pemilik media dalam masalah pemberitaan. Menurut Ketua KPID Jabar Dedeh Wardiah, kepemilikan dan konglomerasi media ikut mempengaruhi konten pemberitaan sehingga netralitas pers dipertanyakan oleh masyarakat. (AA).