Kisah Wartawan Berprestasi Pikiran Rakyat

 
Zaki Yamani,Tri  Joko Her Ryadi dan Moderator Basith Patria.(Foto Sandi Jaya Saputra)

Zaki Yamani,Tri Joko Her Ryadi dan Moderator Basith Patria.(Foto Sandi Jaya Saputra)

JATINANGOR – Sesi talkshow kedua “Ohle Goes To Campuss” Fikom Unpad menampilkan pengalaman menarik dua wartawan PR. Mereka adalah Zaky Yamani yang sudah berkarir selama 13 tahun di Pikiran Rakyat pernah terjun langsung untuk meliput bencana tsunami di Aceh. dan Tri Joko Her Riadi yang mendapat Anugerah Jurnalistik Adinegoro pada HPN 2015 lalu di Batam

 
“Saya menganggap pekerjaan ini adalah bagian dari hidup saya, seperti hobi dan bukan sebagai tugas yang dibebankan pada saya,” ungkap Zaky. Selain wartawan, Zaky juga telah menulis beberapa buku berupa novel, kumpulan cerpen, dan hasil liputan jurnalistik berjudul Kehausan di Ladang Air.

 
Dalam talkshow ini, Zaky juga menceritakan tentang tragedi kebakaran di kantor Pikiran Rakyat dan semangat untuk bangkit tanpa larut dalam duka. “Tim redaksi memutuskan dalam rapat darurat untuk tetap terbit esok hari. Dengan kondisi fasilitas kantor yang ludes dilalap api, kami tetap berusaha mengerjakan koran dari awal karena seluruh dokumen dan arsip, hasil kerja saya selama 13 tahun hilang.”

 
Bagi Tri Joko, saat kantor Pikiran Rakyat terbakar tentu saja ia langsung berpikir apakah akhir bulan ini ia tetap terima gaji. “Wartawan menganggap kantor inilah yang menghidupi kami, tetapi ada nilai kehidupan yang lebih penting yang kami dapatkan dibandingkan gaji,” ungkap pemenang di tiap kompetisi jurnalistik. Tekad kuat semua pihak di Pikiran Rakyat untuk tetap terbit setelah kebakaran adalah wujud kecintaan mereka pada PR.

 
“Menjadi jurnalis sangat bermanfaat, bisa menyerap banyak pengetahuan dan pemahaman. Sisi human interest menjadi elemen penting dalam berita, jadi tempatkanlah manusia dalam setiap tulisan anda,” tambah Zaky. Pola kerja wartawan baru di Pikiran Rakyat adalah ditugaskan meliput di pasar, pengadilan, kantor polisi, dan kamar mayat. “Tempat-tempat itu dapat menguji ketajaman sense of news dari seorang wartawan,” papar Zaky.

 
Selain Zaki tampil juga wartawan PR Tri Joko Her Riadi, pemenang Anugerah Adinegoro 2015 yang dierahkan pada HPN 9 Pebruaroi lalu di Batam. Dia menulis in depth reporting yang terdiri dari 12 seri tulisan dengan judul “Menyoal Anggaran Pendidikan 20 Persen”. Ia mewawancarai hampir 50 orang narasumber, termasuk Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Mulai dari akar persoalan tentang buruknya kualitas pendidikan di Indonesia. Ia menguak masalah dari sisi anggaran pendidikan 20% dari APBN tidak terealisasi dengan maksimal. (evelynd)