Komunikasi Politik Pasca 411, Media Seharusnya Bisa Lebih Dewasa

 

diskusi-pasca-2016-edit

JATINANGOR – Di era sekarang ini, media massa seharusnya lebih dewasa dalam mengemas informasinya. Media massa sekarang harus bertarung melawan media sosial yang kekuatannya juga begitu hebatnya. Padahal media sosial sendiri masih memiliki banyak kelemahan terutama dari faktualitas konten yang ditampilkan.

Demikian benang merah yang muncul dalam Diskusi “Media dan Komunikasi Politik Pasca 411” yang diselenggarakan Program Doktor Komunikasi, Fikom Unpad, Rabu (23/11) di Gedung Pascasarjana Komunikasi Unpad.  Tampil sebagai pembicara Prof.Dr. Asep Syaiful Muhtadi,MA (UIN Bandung), Drs. Yasirwan Uyun (Mantan Direktur TVRI ), Dr.Muhamad Sulhan (Prodi Komunikasi UGM) dan Dr.Suwandi Sumartias (Fikom Unpad). Acara dibuka oleh Dekan Fikom Unpad, Dr.Dadang Rahmat Hidayat, Ssos, SH, MSi.

Media massa, ujar Dadang Rahmat kontennya saat ini acapkali dipengaruhi oleh kepemilikan medianya. Media-media tertentu juga sering menampilkan isyu yang terkadang berseberangan dengan khalayak. Media banyak membingkai peristiwa berdasarkan kepentingannya sehingga terkesan tidak memiliki moral judgement.

Asep Syaiful Muhtadi menilai, media saat ini justru tengah  mengalami ‘senjata makan tuan’. Media, lanjutnya telah berhasil ‘mendewasakan’ khalayaknya dalam segala hal termasuk dalam memilih media. Akibatnya, sekarang khalayak berani melawan media dan mengajak untuk tidak mengikuti media tertentu yang dianggap tidak sejalan dengan keinginan khalayak. Karena kedewasaannya ini sekarang makin banyak orang yang tidak percaya kepada media tertentu.

Di tengah derasnya arus informasi baik di media sosial dan di media massa, baik yang bernada yang mendukung maupun yang kontra, seperti dalam kasus 411, seharusnya ada media yang menjadi penengah. Media yang dianggap netral dan tidak memiliki kepentingan, menurut Yasirwan Uyun yang pernah memimpin TVRI Pusat, media tersebut adalah TVRI yang sekarang menurut UU Penyiaran dikategorikan sebagai televisi-publik. TVRI tidak dimiliki oleh pengusaha maupun penguasa.

“Tetapi visi itu hingga kini belum terwujudkan karena berbagai hal” ungkap alumni Fikom Unpad angkatan 1976 ini, padahal menurutnya ide ini sudah disampaikan ke otoritas yang menangani hal itu.

Derasnya informasi medsos yang acapkali membingungkan karena faktualitasnya diragukan, menurut Dosen Komunikasi UGM Dr.Mohamad Sulhan, media sosial sebetulnya hanya alat, namun dalam konteks kekinian alat ini telah disetir oleh polarisasi kepentingan politis. Muaranya, lanjut Sulhan adalah pada pemanfaatannya sebagai katarsis kekaguman dan dukungan di satu sisi, sekaligus juga kebencian dan penolakan di sisi lainnya.

Sedangkan Dosen Komunikasi Politik Dr.Suwandi Sumartias, di tengah suasana seperti sekarang, transformasi komunikasi harus jadi sarana mediasi. Bagaimana komunikasi bisa menjadi solusi. Namun solusi dari sebuah diskursus harus hati-hati juga karena mungkin bisa terpeleset ke arah pembusukan. (AA)