Korban Perang Menjerit lewat Foto, Workshop Fotografi Cristophe Loviny

 

 

 

JATINANGOR – Fotografi punya peran penting di masyarakat hari ini. “Berapa banyak kabar yang tersampaikan lewat foto? Ada emosi yang hanya tergambar lewatnya. Lihat saja potret perang saudara di Syria ini”, tutur Christophe Loviny.

Saya duduk di antara para peserta pelatihan fotografi sembari terpukau dengan foto-foto yang ditampilkan oleh si pelatih, Christophe Loviny. Hawa dingin oleh pendingin ruangan dan suasana gelap menjaga saya untuk tetap berkonsentrasi kepada layar proyektor dan tutur kata Loviny. Ia, mewakili Institue Francais Indonesia(IFI) membimbing para peserta berlatih memahami foto-foto berkisah sebelum menghasilkannya. Pelatihan ini diselenggarakan oleh lembaga kemahasiswaan fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajdran, Fokus, pada Senin 17 April 2017 di Lab Foto Fikom Unpad, Jatinangor.

Wartawan foto kawakan itu menampilkan foto-foto yang berorasi kepada para peserta. Kebanyakan foto-foto itu adalah foto yang mengikuti Yangon Photo Festival pada tahun 2008.  Salah satu photo story yang terpampang di layar proyektor bertema pengungsi Myanmar yang tertahan di perbatasan China. Foto berkisah itu merupakan hasil karya Zingthung Ywang Htang. Loviny mengatakan foto jenis itu mesti disertakan dengan teks yang tidak terlalu panjang dan dapat menjelaskan foto yang tersaji. Lewat foto berkisah, si fotografer dapat berbicara mengenai realita yang terjadi di negara perang tersebut. Ia merekam emosi para pengungsi untuk kemudian foto tersebut abadi dan dapat berorasi. Ia menangkap jerit tatapan si pengungsi, mengabarkannya pada pemirsa—pada kami yang hadir di ruangan gelap itu.

Dengan foto bercerita, seseorang dapat berbicara secara personal dengan audiens foto itu sendiri. “Wartawan harus bisa berbicara dengan penonton”, ia memberi penekanan kepada salah satu peserta yang foto berkisah hasil karyanya ditampilkan di layar.

“Potret foto dapat menghadirkan kemaslahatan sosial selama itu didapat dengan gairah, empati, dan martabat.”, Tambahnya.

Memotret Darah

Keadaan yang menegangkan di medan konflik berdarah bukan lagi ajang memenuhi hasrat berseni, Memotretnya adalah untuk berkomunikasi dengan dunia luas, demi kemanusiaan. Hal itulah yang dikatakan Don McCullin di laman the guardian edisi 14 Februari 2013. Saat mendokumentasikan segala peristiwa ia berangkat dari anggapan bahwa tugasnya hanyalah merekam kejadian, bukan seniman. “Saya hanya menganggap diri saya sebagai seorang fotografer – tidak lebih, tidak kurang.” ujar McCullin.

“Saya pergi ke garis pertempuran dan mengarahkan perhatian kepada sekumpulan orang beserta penderitaannya, tidak kepada pameran dan penghargaan,” tambahnya.

Atas nama kemanusiaan, foto berkisah menyampaikan pesannya yang paling dalam—setulus mungkin. Pesan dari kedua bola mata para korban perang harus tersampaikan kepada dunia. Tantangannya, perasaan bersalah ketika mengabadikannya kerap muncul ketika kontak mata terjadi.

Perasaan bersalah itu bukanlah sesuatu yang wajib untuk dihindari, namun bagaimana itu dapat diolah untuk menghasilkan gambar yang dapat menyampaikan pesan kemanusiaan. Ia menekankan “Sebagai seorang fotografer perang, Anda tidak dapat melarikan diri dari perasaan iu, terutama ketika mereka yang baru saja ditembak meminta bantuan Anda.” Perasaan bersalah tersebut yang menghidupkan hati nurani manusia.

”Saya melihat ke dalam mata mereka dan mereka akan melihat ke dalam mata saya—itu membuat perasaan bersalah saya timbul,” tutur McCullin.

Christophe Loviny memberikan pelatihan kepada para peserta Workshop photography yang diselenggarakan Fokus Fikom Unpad pada 17 April 2017. (Mulia Ramdhan Fauzani)

Profil Mahasiswa

Bunga Claudya, Aktivis, Juara dan Jiwa Sosial

February 1, 2017

Bunga Claudya, Aktivis, Juara dan Jiwa Sosial
BUNGA CLAUDYA selain fokus dalam kegiatan akademik, mahasiswa jurusan Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2012 ini serius menggeluti organisasi.

Profil Dosen

Hadi Suprapto Arifin, Sukses Berawal dari Rumah

January 6, 2017

Hadi Suprapto Arifin, Sukses Berawal dari Rumah
DOSEN Fikom Unpad yang satu ini mudah dikenali dari gaya berpakaiannya yang lain dari yang lain. Pria kelahiran

Profil Alumni

Riki Dhanu, Sang Spesialis Jurnalisme Investigasi dan Depth Reporting

January 19, 2017

Riki Dhanu, Sang Spesialis Jurnalisme Investigasi dan Depth Reporting
SEORANG jurnalis investigasi hadir di tengah-tengah kehidupan jurnalisme bukan sekedar mengungkap kebenaran, tetapi juga sebagai bentuk advokasi. Jurnalis mampu