Kuliah Umum Humas Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya dan Bedah Buku ‘Kepak Sayap’

 
Bedah Buku "Kepak Sayap" (Foto Suwito).

Bedah Buku “Kepak Sayap” (Foto Suwito).

JATINANGOR – Alumni Prodi Jurnalistik angkatan 1997, Rieska Wulandari, Rabu (22/5) berbagi pengalaman dengan mahasiswa Fikom Unpad dalam acara ‘Humas Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya.’ Pada acara ini dibedah juga buku “Kepak Sayap” mengenai kisah perjalanan 22 orang wanita ke seluruh penjuru dunia., termasuk Rieska sang pemateri.

 
Acara yang dihadiri sekitar 60 mahasiswa tersebut dimoderatori oleh dosen dari Program Studi Ilmu Hubungan Masyarakat, Syauqy Lukman,MSi dan dibuka oleh Pembantu Dekan II Fikom Unpad, Dr. Sussane Dida,MM.

 

Bedah-Buku-Kepak-Sayap-2

Dr.Sussane Dida,MM, (foto Suwito)

Rieska Wulandari, atau yang kerap dipanggil Rieska, adalah alumni Program Studi Ilmu Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 1997. Sebelum menikah, Rieska pernah bekerja di Jakarta untuk sebuah kantor berita Jepang. “Jepang adalah negara yang suka sekali membaca koran. Karena mereka suka naik kereta, mereka tak perlu menyetir, hanya perlu duduk, membaca koran, dan menambah ilmu,” ujar Rieska.

 
Saat bekerja sebagai wartawan, Rieska dipertemukan dengan seorang pria berkebangsaan Italia dan akhirnya menikah, lalu tinggal di Italia. Rieska menjelaskan, Italia memiliki budaya yang spesial. La vita e’ bella (hidup itu indah) dan fare bella figura (membuat penampilan dan citra yang indah) adalah dua ungkapan yang menggambarkan gaya hidup orang Italia. Masyarakat Italia sangat menghargai sejarah dan selalu berpikir positif. Roma masih berdiri, buat orang Italia, kehidupan masih terus berlangsung.

 
Dalam artikel “When Italians Chat, Hands and Fingers Do the Talking” yang diterbitkan oleh The New York Times edisi 30 Juni 2013 disebut bahwa orang Italia berbicara lewat gestur tangan dan tubuh. Selain itu, orang Italia sangat menghargai setiap profesi dan menghargai hari libur.

 

 

Pengalaman Rieska sangat berbeda dengan pengalaman Dyah Sadhiarani di Kenya. Dyah menjelaskan, poligami di Kenya adalah sesuatu yang lumrah. Selain itu, setengah penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.Namun, masyarakat Kenya sangat hormat terhadap orang yang lebih tua. Sayangnya, orang Kenya tidak menerapkan budaya tepat waktu. Masyarakat ini terbiasa bekerja super keras, hingga 15 jam/hari, dengan upah lembur yang cenderung kecil. Tingkat kepercayaan terhadap hal-hal mistis juga masih tinggi.

 
Lain Kenya, lain lagi Denmark. Kristina Budiati menjelaskan, Denmark terkenal dengan kesejahteraan masyarakatnya. Pemerintah menjamin pendidikan dan kesehatan masyarakatnya. Mereka sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan kebebasan pers. Karena memiliki area yang kecil dan sumber daya alam yang minim, budayanya condong ke perdagangan dan berbagi ilmu pengetahuan. Masyarakat Denmark tidak suka basa-basi dan, buat orang Denmark, menatap langsung ke mata saat berbicara sangatlah penting.

 
Menurut ketiga pembicara, mempelajari kebudayaan internasional sangatlah penting. Selain menambah wawasan, dengan mempelajari kebudayaan internasional, pekerjaan yang berkaitan dengan negara asing akan lebih terasa mudah.

 
“Kita adalah bagian dari dunia internasional sejak lahir. Sekarang, kita hanya perlu menyadari dan mengeksplor lebih dalam,” ujar Rieska. (Dina Gurning)