Lewat Disertasi “Perempuan Minangkabau”, Rita Gani, Raih Doktor Ilmu Komunikasi

 
Sidang Terbuka Rita Gani. (Foto Ayix Galih Purnomo)

Sidang Terbuka Rita Gani. (Foto Ayix Galih Purnomo)

BANDUNG – Perempuan Minangkabau yang menikah dengan laki-laki Sunda atau Jawa umumnya memiliki gaya komunikasi yang sama. Sedangkan jika menikah dengan suku lain di Sumatera bersifat tarik ulur.

 

Dosen Fikom Unversitas Islam Bandung (Unisba), Rita Gani mengungkapkan hal itu ketika mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor, Rabu (21/1) di Program Pascasarjana Komunikasi, Unpad. Rita tampil dengan judul disertasi “Pengalaman Komunikasi Perempuan Minangkabau dalam Pernikahan Antar Budaya di Perantauan”. Rita dipromotori oleh Prof.Deddy Mulyana,MA,PhD, Prof.Dr,Soeganda Priyatna,MM dan Dr.Anter Venus MA,Comm. Sedangkan yang bertindak sebagai oponen ahli adalah Prof.Dr.Haryo S Martodirdjo, Dr.Eni Maryani dan Dr Siti Karlinah MSi.

 

Rita Gani (Foto Ayix Galih Purnama).

Rita Gani (Foto Ayix Galih Purnama).

Menurut Rita, Gaya komunikasi perempuan Minangkabau di perantauan bersifat dinamis dan menyesuaikan diri dengan budaya rantau dan tergantung pada karakteristik pasangannya. Mereka yang menikah dengan lelaki Jawa atau Sunda umumnya bergaya komunikasi sama. Mereka lebih toleran, cenderung mengalah sehingga tidak terlalu dominan dalam rumah tangga.

 

Namun, sambung Rita, jika mereka menikah dengan suku lain di Sumatera, toleransinya bersifat tarik ulur. “Berbagai motif dan stereotif yang ada ikut mempengaruhi bagaimana gaya komunikasi keluarga tersebut” ujar Rita.

 
Selama proses perkenalan, ungkap Rita, perempunan Minang mengalami hambatan dalam hubungan dengan keluarga pasangan dari Suku Jawa atau Sunda. Hal ini berkaitan dengan stereotif negatif yang muncul di benak orang Jawa atau Sunda bahwa perempuan Minang itu pelit (samplik), berani (bagak), bicaranya keras (kareh arang) dan keras kepala (kareh kapalo) serta dominan (panguaso).
Sedangkan stereotif positif dari perempuan Minang, ungkap Rita adalah, mandiri (tagak surang), pintar mengatur rumah tangga (rang kantua), pandai memasak (kadapua), pintar berdagang (panggaleh) dan bersih (barasiah).
Penelitian Rita ini dilatarbelakangi oleh makin banyaknya perempuan Minang yang menikah dengan laki-laki dari berbagai suku yang berbeda adat istiadatnya serta tinggal di perantauan. Padahal menurut Rita, budaya Minangkabau menganut sistem matrilineal yang berdasarkan garis ibu dimana perempuan Minang kaya secara adat istiadat dan mengemban tugas sebagai bunda kanduang yang menjaga rumah gadang dan harta warisan. “Pernikahan antarbudaya di perantauan membuat mereka harus berhadapan dengan berbagai persoalan adat dan pola komunikasi keluarga yang unik” ungkap Rita. (AA)