Meneliti Acara Indonesia Lawyer Club, Chontina Siahaan raih Gelar Doktor Komunikasi.

 

DSC02931

BANDUNG– Acara Indonesia Lawyer Club di stasiun tvOne dinilai kurang mendidik. Aspek komersialisasi lebih ditonjolkan. Berbagai kepentingan pun saling dibenturkan dan relasi kuasa saling dipertentangkan dalam acara itu. Masing-masing membela lembaga dan korpsnya. Ujung-ujungnya acara itu untuk meraih rating tinggi untuk diperjualbelikan kepada para pengiklan.

 
Dosen Fisipol UKI Jakarta, Chontina Siahaan mengungkapkan hal itu dalam disertasinya yang berjudul “Mediatisasi Kasus Korupsi dalam Talkshow Indonesia Lawyer Club di tvOne”. Dengan disertasinya ini, Chontina berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unpad, belum lama ini.

 
Chontina dipromotori oleh Prof. Deddy Mulyana MA, PhD, Dr. Eni Maryani,MSi dan Dr.Betty RFS Soemirat MS (alm). Sedangkan yang menjadi tim oponen ahli adalah Dr.Siti Karlinah MSi, Prof.Dr. Soleh Soemirat,MS dan Prof.Sasa Djuarsa,PhD. Bertindak sebagai representasi Gurubesar adalah Prof,Dr.Ir, Mahfud Arifin,MS.

 
Berdasarkan temuan penelitian Chontina, aspek komersial acara ini sangat dominan. Aspek pendidikan kurang mendapat porsi dari tayangan ILC ini. Hal ini menunjukan bahwa aspek bisnis dan komersial lebih dikedepankan.

 
Meski program acara talkshow ILC ini lebih condong membahas aspek hukum dan politik yang seharusnya lebih menguntungkan publik, akan tetapi menurut Chontina dalam pengemasan programnya lebih ditunjukan aspek yang menarik secara pasar dan pengiklan.

 
“Dengan demikian fungsi edukasi di bidang hukum dan politik makin jauh dari kenyataan, dan tvOne seharusnya dapat mencerahkan publik dengan aneka tayangan talkshow-nya” tegas Chontina.

 
Chontina melihat gaya presenter acara ILC yang membahas tentang Korupsi Hambalang. Pemandu acara layaknya seorang detektif yang sedang menginterograsi, menginvestigasi. Kadang-kadang juga seperti polisi, jaksa dan hakim, seolah memindahkan acara persidangan ke dalam acara talkshow ini. (AA).