Meneliti Komunikasi Antarumat Beda Agama, Dosen IAIN Ternate, Makbul A.H. Din Raih Gelar Doktor Komunikasi

 

DSC02984

BANDUNG – Masyarakat Halmahera Utara selalu mengedepankan agama sebagai konsepsi damai dalam kehidupan. Berbeda agama sebagai pandangan dan pilihan hidup komunitas beragama adalah hak asasi setiap orang, ajaran para leluhur dan dorongan keyakinan terhadap kebenaran agama. Etnosentrisme, prasangka sosial dan diskriminasi terutama dalam aspek keagamaan , politik, dan aspek ekonomi. Komunikasi dialogis dan transaksional dengan mengedepankan nilai dan tradisi budaya lokal termasuk penggunaan bahasa lokal (bahasa Tobelo dan Galela) pada berbagai kegiatan akan mampu membentuk integritas kelompok keagamaan dalam wujud keharmonisan umat beragama.

 
Dosen IAIN Ternate, Makbul AH Din mengungkapkan hal itu dalam disertasinya yang berjudul Komunikasi Antarumat Berbeda Agama dalam Konstruksi Budaya Lokal (Studi Kasus pada Komunitas Islam dan Kristendi Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara) yang dipertahankannya belum lama ini di Program Doktor Ilmu Komunikasi Fikom Unpad Bandung. Makbul dipromotori oleh Prof.Deddy Mulyana,MA, PhD, Prof. Dr. Engkus Kuswarno,MS, dan Dr. Suwandi Sumartias,MSi. Sedangkan oponen ahli terdiri dari Prof.Dr. Haryo S Martodirdjo, Dr. Atwar Bajari,MSi dan Dr Asep Nursobah,MSi. Makbul pun lulus sebagai Doktor Ilmu Komunikasi.

 

Makbul berusaha mengungkap proses komunikasi, persepsi perbedaan agama, etnosentrisme, diskriminasi, dan prasangka sosial pada komunitas Islam dan Kristen. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap kepercayaan, nilai dan norma budaya lokal yang mendasari proses kehidupan sosial, serta menemukan model komunikasi komunitas Islam dan Kristen.

 

Proses komunikasi komunitas Islam dan Kristen di Halmahera Utara, ungkap Makbul diwujudkan dalam komunikasi sosial dengan tiga model kekerabatan, yaitu kekerabatan o tohora moi (sedarah seketurunan), o kawi (ikatan kekerabatan sosial karena perkawinan), dan pokokawasa (ikatan sosial kemasyarakatan). Komunikasi dalam kehidupan budayanya dikemas dengan komunikasi Odohabadiai yaitu proses komunikasi mengandung unsur o dora (kasih), o hayangi (sayang), o adili (keadilan), o baliara (saling memelihara) dan o diai (kebaikan). Sedangkan komunikasi dalam kehidupan keagamaan diwujudkan dalam kekerabatan dan harmoni umat beragama.

 
“Model komunikasi integratif dari keseluruhan proses sosial, budaya, dan agama merupakan temuan dari penelitian ini,” papar Makbul

 
“Kepercayaan, nilai, dan norma budaya lokal sangat mendukung proses komunikasi sosial komunitas beda agama,” tambahnya. Penelitian ini diperluas sebagai pengembangan keilmuan komunikasi terutama komunikasi antaragama, antaraetnik, atau antarras dalam perspektif budaya tradisional sebagai kearifan lokal sehingga memperkaya temuan komunikasi yang digali dari komunitas etnik dan agama di Maluku Utara atau daerah lainnya di Indonesia. (Evelynd)