Meneliti “Nabi Baru”, Pitoyo Raih Gelar Doktor Komunikasi di Fikom Unpad.

 

Doktor-Pitoyo-1-edit

BANDUNG – Untuk memperkuat argumentasi bahwa dirinya sebagai jelmaan Nabi Isa, Mirza Ghulam Ahmad mengontruksi makna berdasar Al Quran dan hadis serta Bible, juga aneka buku karya penulis Muslim dan non-Muslim. Nabi Isa pun menurut Mirza Ghulam Ahmad bukan wafat di tiang salib, tetapi wafat ketika melakukan perjalanan di Srinagar, Kashmir, India.

 
Pitoyo, jurnalis yang pernah berkiprah di berbagai suratkabar Kelompok Kompas Gramedia (KKG), mengungkapkan hal itu dalam disertasinya berjudul “Konstruksi Makna dan Komunikasi Nabi Baru Mirza Ghulam Ahmad” yang dipertahankan dalam sidang terbuka pada Program Doktor Komunikasi Fikom Unpad, belum lama ini di Gedung Pasca Sarjana Unpad Bandung.

 
Pitoyo dipromotori oleh Prof.Dr. E Kuswarno MS (Ketua), Prof.Dr. Nina W Syam MS dan Dr. Rochanda MSi. Bertindak sebagai tim oponen ahli, Prof.Deddy Mulyana,MA,PhD, Prof.Dr.Asep Syaeful Muhtadi MSi dan Dr.Pawit M Yusuf MSi.

 
Keberadaan nabi baru ini, ungkap Pitoyo telah menimbulkan kontroversi di masyarakat karena umat Islam hanya mengenal nabi dan rasul sebanyak 25 orang. Mirza Gulam Ahmad (MGA), lanjutnya, amat menyadari bahwa pendeklarasian dirinya menjadi nabi dan rasul terakhir setelah Muhammad SWA, memiliki konsekuensi yang sangat besar. Namun MGA berhasil mengikat pengikutnya dengan ikatan batin yang kuat melalui bai’at.

 
Menurut pemimpin perusahaan Harian Pagi Tribun Jabar ini, untuk menguatkan para pengikutnya, aliran ini tidak cukup melakukan komunikasi secara personal, tetapi juga melalui komunikasi massa dengan membangun media massa yang berdampak luas, dan mengalahkan komunikasi yang dilakukan oleh umat Islam lainnya. Komunikasi Ahmadiah ini didukung pula oleh Muslim Televisi Ahmadiah (MTA), media cetak, media on-line dan media sosial.

 
Dalam mengonstruksi bahwa MGA adalah seorang nabi, menurut mantan Direktur STV (KompasTV) Bandung ini, ayat suci selalu ditafsirkan sesuai kehendak MGA. Konstruksi yang dilakukan oleh MGA, juga didukung dengan membangun sebuah organisasi Ahmadiah yang eksklusif dengan dana dari para pendukungnya. Dana yang terkumpul juga selain untuk komunikasi, juga untuk pembangunan mesjid dan penerjemahan Al-Qur’an yang ditafsirkan sendiri oleh MGA.

 
Pitoyo melakukan penelitian ke berbagai daerah di Indonesia yang memiliki jemaah Ahmadiah besar, bahkan juga sampai ke Singapoura dan London. (AA)