Mengapa Artikel Ditolak di Jurnal Ilmiah?

 

IMG_7793

JATINANGOR – Banyak dosen dan peneliti yang mengeluh, betapa susahnya menembus Jurnal Ilmiah apalagi Jurnal internasional, padahal dia merasa hasil penelitiannya berbobot baik topik maupun metodologinya. Kegagalan seseorang penulis di Jurnal imiah diakibatkan oleh ketidaktahuannya terhadap tatacara penulisan dan aneka aturan tentang penulisan ini.

Guru Besar Fisip Unpad, Prof.Dr.Dede Mariana MSi, dan Dosen Fikom Unpad, Dr.Hanny Hafiar,S.Sos, MSi mengungkapkan hal itu dalam Lokakarya “Penulisan Jurnal Nasional dan Internasional” yang diselenggarakan oleh Program Magister Pascasarjana Fikom Unpad, Selasa (17/5) di kampus Unpad.

Menurut Dede Mariana yang dikenal produktif menulis artikel baik di media massa maupun di jurnal ilmiah, substansi sebuah artikel ilmiah harus memiliki nilai kebaruan (novelty), argumentatif. “Serta mengikuti sistematika penulisan yang berlaku” ujar Dede.

Berbagai kasus penolakan terhadap sebuah artikel ilmiah untuk dimuat di jurnal ilmiah, menurut Hanny Hafiar diantaranya, tidak sesuainya artikel tersebut dengan pedoman yang dimiliki oleh jurnal tersebut. Acapkali juga sumber kutipan yang tercantum dalam daftar pustaka tertlalu minim dan tahun sumber di luar ketentuan. Kadangkala penulis menyalin semua daftar bacaan dalam laporan penelitian ke dalam artikel ilmiah, padahal yang digunakan dalam artikel ilmiah hanya beberapa sumber.

“Artikel yang dibuat dengan cara copy-paste dari laporan penelitian serta penulisan abstract yang menggunakan Google Translate menyebabkan nilai artikel itu menjadi rendah” ujar Hanny.

Menurut Hanny, Isyu yang juga menarik adalah masalah plagiarisme. Sejumlah pengelola jurnal ilmiah baik nasional dan internasional menyebutkan, bahwa yang masuk kategori plagiarisme yakni double publish, auto plagiarisme dan plagiarisme dalam arti sesungguhnya.

IMG_7788

Mengirimkan naskah artikel dari hasil penelitian yang sama ke jurnal yang lain acapkali dinilai sebagai plagiarisme, meskipun itu kita sendiri yang menulis dan yang meneliti.

“Juga pengutipan yang tidak hati-hati akan terdeteksi oleh sistem atau aplikasi yang dapat mendeteksi itu sebagai plagiarisme” ungkap Hanny. (AA)