Mengenal Sosok Alfin, Mahasiswa Berprestasi Fikom Unpad 2019

 

            Muhammad Alfin, pemuda kelahiran 20 Mei 1997 ini terpilih menjadi mahasiswa berprestasi Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran tahun 2019. Alfin berhasil menyabet gelar tersebut setelah mewakili program studi (prodi) Hubungan Masyarakat dan unggul dibanding tujuh finalis mahasiswa berprestasi (mapres) lainnya di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom).

            Mahasiswa berdarah minang yang mengaku telah menargetkan menjadi mapres sejak tahun pertama ini telah menyusun strategi, mulai dari menonton video mapres dari tahun ke tahun, berkonsultasi dengan mapres di tahun-tahun sebelumnya, membuat prioritas kegiatan sebaik mungkin yang bisa mendukung penilaian saat menjadi mapres. Alfin juga pernah mengikuti dan menjuarai beragam kompetisi dalam dan luar negeri, turut serta dalam kegiatan organisasi tingkat universitas dan fakultas, dan menjalankan bisnisnya, namun tetap berprestasi dalam akademik.

            Anak dari pasangan Abdul Hadi dan Eliana Tri ini mengaku bersyukur berkuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad), khususnya di Fikom, prodi Hubungan Masyarakat. Dia merasakan prodi ini sesuai dengan passion-nya, sehingga senang untuk menggali lagi potensi yang ada pada dirinya dan dihubungkan dengan prodi yang sedang ditempuhnya. Dari sinilah ia banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Sejak menjadi mahasiswa ini ia merasakan terbang pertama kali ke luar kota, ke luar negeri, yaitu Jepang dan Amerika, jauh dari orangtua, menghadapi tantang-tantangn baru, mengorbankan banyak hal untuk meraih impiannya, dan ia sangat menikmatinya.

            Pemuda yang kerap disapa ‘Uda Alfin’ ini memliki segudang prestasi, tiga prestasi yang berkesan buatnya ialah ditahun pertamanya mejadi mahasiswa, ia terpilih menjadi delegasi Universitas Padjadjaran pada Harvard National Model United Nation (HNMUN) dan berangkat di tahun 2018. Prestasi kedua yang berkesan ialah ia berhasil mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke Jepang, tepatnya di Tenri University selama satu semester. Prestasi terakhir yang tidak kalah berkesan ialah menjadi mahasiswa berprestasi Fikom Unpad. Walaupun ia telah menyiapkan hal-hal penting untuk menjadi mapres ini, namun ia sangat menikmati prosesnya sejak dari semester satu hingga semester enam ini, tidak terlalu terburu-buru, dan membiarkan proses ini berjalan sedemikian rupa.

            Alfin juga bercerita pengalamannya saat berada di negeri orang, yaitu negeri Paman Sam dan negeri Sakura. Saat di negeri Paman Sam, pemikirannya menjadi lebih terbuka, berinteraksi dengan American English Native, memahmi pandangan-pandangan baru dari orang-orang di penjuru dunia, dan masih banyak lagi. Saat di negeri Sakura jauh lebih menantang, dikarenakan tinggal disana selama enam bulan. Saat pertukaran pelajar ke Jepang, Alfin tidak mendapatkan beasiswa penuh, ia harus mencari pendanaan lainnya mulai dari perusahaan dan instansi pemerintahan khususnya di tempat lahirnya, Sumatera Barat. Hidup di Jepang dengan biaya hidup yang jauh lebih mahal dibanding Indonesia mengharuskan ia untuk mencari uang tambahan untuk hidup disana. Alfin bekerja sebagai karyawan lepas di perusahaan makanan, tugansnya ialah memasukkan makanan “Bento” ke kemasannya. Pekerjaan tersebut dimulai dari pukul 6 sore hingga 12 malam, bahkan jika lembur bisa sampai pukul 2 pagi. Ia juga menjadi pengajar bahasa Indonesia di suatu lembaga, dengan dua pekerjaannya ini Alfin bisa mendapatkan penghasilan 8-12 juta rupiah / bulan. Ia juga banyak mengunjungi kota-kota lain di Jepang, ini merupakan kesempatan yang mungkin tidak terulang lagi dalam hidupnya, sebut pemuda yang menyukai kompetisi debat ini.

            Pemuda yang saat ini menjabat sebagai kepala departemen kajian Unit Pecinta Budaya Minangkabau (UPBM) Unpad ini telah terpilih menjadi mapres utama Fikom, dan mewakili fakultas untuk ikut di ajang pilmapres tingkat Universitas untuk bisa menjadi pemenang dan mewakili Unpad di kancah nasional. Ia berujar bahwa salah satu impiannya menjadi mapres Fikom Unpad pernah ditulisnya di sebuah buku. Ia menyarankan untuk selalu tuliskan impian-impian di buku, di dinding kamar kos, dan dimanapun yang sekiranya sering kita lihat. Hal tersebut akan menjadi pemacu semangat dan pengingat bahwa ada hal yang harus kita gapai, kita harus serius untuk mencapai tujuan tersebut, harus ada pengorbanan yang ditumpahkan demi meraih impian itu. Ketika sudah berupaya semakimal mungkin, kita tetap harus optimis dan berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita.

            Mahasiswa prodi Humas ini membeberkan proses menjadi mapres Fikom, diawali dengan niat, impian, proses sejak mahasiswa baru semester pertama hingga semester enam dengan kegiatan positif seperti kompetisi, pertukaran pelajar, keorganisasian, kepanitiaan, kegiatan sosial, bisnis, dan semua hal itu harus dinikmati. Kemudian harus cepat tanggap dalam mendapatkan informasi, dalam hal ini pilmapres, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah mengeluarkan pedoman pilmapres nasional sejak awal tahun di website mereka, maka kita harus giat untuk mencari tahu, memahmi pedomannya, dan mempersiapkan hal-hal yang diminta. Komponen-komponen penting yang akan dinilai saat pilmapres yaitu ; a) Karya Tulis Ilmiah, Ringkasan, dan Presentasinya, b) Bahasa Inggris dan Bahasa Asing Lainnya yang Dikuasai, c) Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), dan Kemampuan/Prestasi Unggulan (bisa berupa juara pada kompetisi individu/kelompok, keorganisasian, kepanitiaan, kegiatan sosial, bisnis, delegasi, pemakalah, dan lainnya, hal ini bisa dilihat pada pedoman pilmapres). Saat presentasi juga diutamakan menggunakan Bahasa Inggris, jadi upayakan sejak dini untuk belajar dan melatih kemampuan Bahasa Inggris, mulai dari berbicara, membaca, menulis, dan mendengarkan, hal ini menjadi sangat penting. Alfin juga mengatakan bahwa mapres bukanlah tujuan, namun sebuah proses.

            Akademisi yang juga telah mendapatkan tiga beasiwa ini mengaku dibalik keberhasilan mencapai prestasi, banyak sekali kegagalan yang dialaminya, tak terhitung jumlahnya. Jikalau kegagalan tersebut kita maknai sebagai akhir dari segalanya, itu merupakan kesalahan besar. Justru kegagalan haruslah dimaknai sebagai proses, proses untuk menjadi lebih baik, proses untuk intropeksi diri, proses untuk menjadi juara kedepannya. Jangan pernah berhenti ketika kegagalan hadir dalam hidup, jika kamu berhenti berarti itu merupakan hasilnya, namun jika itu dijadikan pembelajaran, tentunya akan berbuah manis diakhirnya, seperti yang Alfin alami.

            Impiannya yang belum diraih pemuda yang memiliki Quote “Jadikanlah masa sulit menjadi sulit untuk dikatakan sulit,” adalah mengikuti kompetisi debat dan Public Relation, aktif dalam kegiatan sosial, magang di instansi atau perusahaan yang juga menjadi kewajiban mata kuliah, serta mengembangkan bisnisnya yang berfokus pada penjualan merchandise kampus. Ia juga mengatakan punya tekad untuk kembali ke tanah kelahirannya untuk bisa dekat dengan keluarga dan mengabdikan diri serta berkontribusi disana.

            Kepada para pembaca, khususnya mahasiswa dan pelajar yang masih duduk di bangku SMA Sederajat, Alfin memberikan empat wejangan untuk bisa berprestasi dan bertahan mengarungi dunia perkuliahan. Hal yang pertama yaitu harus menanamkan dalam diri target 4 tahun kedepan selama kuliah, untuk apa sih kuliah jauh-jauh, khususnya bagi yang jauh dari orang tua, bahagiakanlah mereka dengan prestasi saat menjadi mahasiswa, tidak harus dengan gelar mahasiswa berprestasi fakultas, universitas, atau bahkan nasional, setidaknya cukup menjadi mahasiswa berprestasi bagi diri sendiri, jadilah yang terbaik di bidang yang kamu cintai, apalagi yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Berikutnya yaitu cepat tanggap terhadap informasi-informasi yang ada, apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini dan kedepannya, harus bisa memanfaatkan hal tersebut. Banyak sekali kesempatan yang tersedia, jadi harus banyak mencari tahu dan menggali informasi dan kesempatan-kesempatan selama duduk di bangku kuliah. Ketiga yaitu bangun jejaring terhadap siapapun selama masih mahasiswa, karena pada masa ini merupakan waktu yang tepat untuk bertemu dengan banyak orang, akademisi lain, pengusaha, komunitas, pemerintah, mentor, warga desa, dan masih banyak lagi. Terakhir yaitu selalu ingat orang tua dan Tuhan Yang Maha Esa, berkabarlah kepada beliau, minta restu orang tua dalam segala kegiatan yang dilakukan, buat orang tua selalu bahagia dengan posisi kita menjadi mahasiswa, bertawakal, berdoa dan berusaha untuk bisa menjadi yang terbaik atas Ridho-Nya. (MI-2016)

Tags: , ,

Profil Mahasiswa

Annisa Aji Anggoro dan Visinya menjadi Agent of Change

May 20, 2019

Annisa Aji Anggoro dan Visinya menjadi Agent of Change
Annisa Aji Anggoro, mahasiswi Program Studi Ilmu Perpustakaan Fikom, terpilih sebagai delegasi Universitas Padjadjaran, dalam

Profil Dosen

ADE KADARISMAN, “KOMUNIKASI SEBAGAI JEMBATAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN”

June 5, 2019

ADE KADARISMAN, “KOMUNIKASI SEBAGAI JEMBATAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN”
Ade Kadarisman, dosen program studi Hubungan Masyarakat Fikom Unpad telah merilis buku yang berjudul Komunikasi

Profil Alumni

Cerita Inspiratif Muhammad Nur Hakim (Senior Business Partnership Tokopedia) dan Dosen Fikom Favoritnya

April 20, 2019

Cerita Inspiratif Muhammad Nur Hakim (Senior Business Partnership Tokopedia) dan Dosen Fikom Favoritnya
Muhammad Nur Hakim, Lahir di Palembang, 14 oktober 1993, Mas Hakim merupakan Alumni program studi hubungan masyarakat