Merry Fridha, Relasi Kuasa dalam Makna Hijab di Media

 

BANDUNG – Media massa telah melakukan komodifikasi isi media dalam praktik berhijab sebagai fesyen. Majalah mode Islami pun telah memposisikan hijab sebagai tanda untuk memberikan citra atas kelas dan status sosial pemakainya. Media pun membentuk simbol-simbol Islam  tidak lagi mencerminkan realita tapi berubah untuk kepentingan bisnis media.

Dosen Universitas Islam Blitar (UIB), Merry Fridha Tri Palupi mengungkapkan hal itu dalam disertasinya yang dipertahankannya dalam sidang terbuka promosi Doktor di Program Pascasarjana Fikom Unpad beberapa waktu lalu. Merry dipromotori oleh Prof.Dr.Engkus Kuswarno, MS, Prof.Dr. Nina Winangsih Syam,MS dan Dr.Eni Maryani,MSi. Bertindak sebagai oponen ahli Prof.Dr.Mien Hidayat,MS, Dr.Dadang Rahmat Hidayat,SH,MSi, dan sebagai representasi Guru Besar adalah Prof.Deddy Mulyana,MA.PhD.

Menurut Merry yang tampil dengan judul disertasi “Relasi Kuasa dalam Makna Hijab di Media”, jilbab belakangan menjadi simbol dunia moderen Barat dan kesalehan Timur. Penggunaan terminologi dari kerudung atau jilbab menjadi hijab telah berujung pada hijab sebagai pakaian muslimah yang trendi.

Sebagai tren fesyen, sambung Merry, pada akhirnya hijab terklasifikasi dalam beberapa model, seperti hijab funky, hijab trendy, hijab praktis, hijab syar’i, hijab kaffah dan jilboobs.

“Walaupun sama-sama sebagai penutup kepala, namun konsep hijab sebagai bagian dari syiar agama selalu dibandingkan dengan hijab sebagai tren fesyen dimana sesungguhnya hal ini merupakan bentuk diskriminasi terhadap pakaian perempuan”  tandas Merry.

Media massa sebagai agen penyebar wacana praktik berhijab, lanjut Merry menjadikan hijab sebagai barang komoditas yang mendapat legitimasi pemuka agama karena dianggap sebagai bagian dari syiar Islam. Hal ini membuat tend ini bertahan lebih lama.

Konsumsi hijab membuat perempuan berada pada posisi subyek konsumen yang seakan memiliki pilihan untuk berkonsumsi secara bebas, tetapi sebenarnya pilihan untuk berkosumsi diarahkan oleh media.

Selain kuasa media massa dan media sosial yang membentuk makna hijab, papar Merry ada beberapa agen yang ikut memberi kuasa atas makna hijab. Antara lain kuasa individu yang terdapat pada ikon hijabers, wartawan, desainer hijab dan pemuka agama. Begitu pula kuasa kelompok yang dalam hal ini dimiliki oleh hijabers community juga mempengaruhi makna hijab.

Selain itu, ungkap Merry juga ada kuasa pemilik modal, kuasa industri, kuasa pengiklan dan kuasa pasar yang saling berkelin dan membentuk sebuah relasi, ikut pula ,membentuk makna hijab. (AA)