Monash University dan Fikom Unpad teliti People Smuggling

 

Agenda

Padjadjaran Ramadhan Night Festival 2018

Date: May 24, 2018

Time: 12:00-21:00

Padjadjaran Ramadhan Night Festival
Batalyon UKM Barat Unpad Jatinangor | Kamis, 24 Mei 2018 pkl 12:00 – 21:00

Tausiyah bersama Ust. Nur Ihsan Jundullah
Masjid Raya Unpad | Kamis, 24 Mei 2018 pkl 15:00 – 18:00

Contact Person :
Inayah Zahra Zahirah
WA : 081394592351
Instagram : @prfest18
Line@ : @zgs4110d

Tim Fikom Unpad mempresnetasikan Penelitian awal tentang People Smuggling di Monash University. (Foto DM)

Tim Fikom Unpad mempresentasikan Penelitian awal tentang People Smuggling di Monash University. (Foto DM)

MELBOURNE, Australia -Dekan Fikom Unpad, Prof Deddy Mulyana MA,PhD mempresentasikan kemajuan pilot riset tentang people smuggling (penyelundupan manusia) bersama tim peneliti, Dr Atwar Bajari dan Aang Koswara S.Sos, MSi, di kampus Monash University, Clayton Australia, (26/9) Riset ini merupakan bentuk kolaborasi internasional antara Fikom Unpad dengan Border Crossing Observatory di bawah Faculty of Arts Monash University, Australia.

Hadir dalam workshop tersebut, Prof Sharon Pickering sebagai Principal Investigator sekaligus direktur Border Crossing Observatory Monash University. Hadir juga tim peneliti dari University of New South Wales, Dr Claudia Tazreiter, Dr James dari Deakin University dan Project Manager, Rebecca Powell.

Riset dilakukan di empat rumah detensi dan satu community house dengan jumlah responden sebanyak 35 orang warga Iran. Rumah detensi dikelola oleh Kementerian Hukum dan HAM, yaitu rumah detensi Kalideres, rumah detensi Pekanbaru, rumah detensi Kupang dan rumah detensi Denpasar.

Mereka (para responden) melarikan diri dari negaranya karena merasa tidak nyaman akibat konflik agama dan politik yang berkepanjangan. Diantara para responden ada yang berprofesi sebagai insinyur, pramugari bahkan professor. Mereka pergi menuju Australia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dengan perahu dan terdampar di beberapa wilayah di Indonesia.

Hasil uji coba riset ini mendapatkan umpan balik yang positif dari tim peneliti Australia dan akan dilanjutkan ke tahap dua dengan jumlah informan akan ditambah lagi sebanyak 115 orang terdiri dari asylum seekers Iran dan Afganistan. (AK/AB/DM/AA)