Muhammad Firdaus, Komunikasi Hizbut Tahrir di Indonesia

 

BANDUNG – Hizbut Tahrir merupakan salah satu kelompok Islam yang perkembangan dan pengaruhnya amat pesat di Indonesia. Kelompok ini mengidentifikasi dirinya sebagai gerakan politik Islam non parlemen dengan pemikiran anti demokrasi yang bergerak di luar sistem politik yang berlaku secara umum serta memiliki jaringan yang luas yang tersebar di Asia, Eropa dan Amerika.

Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Islam Riau, Muhammad Firdaus mengungkapkan hal itu beberapa waktu lalu dalam disertasinya yang berjudul “Komunikasi Hizbut Tahrir”. Firdaus mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor di Program Doktoral Ilmu Komunikasi, Fikom Unpad. Dia dipromotori oleh Prof.Dr.Engkus Kuswarno,MS,  Prof.Dr. Asep Saeful Muhtadi, MA dan Dr. Atwar Bajari. Bertindak sebagai oponen ahli Prof.Deddy Mulyana,MA,PhD,  Dr. Suwandi Sumartias serta Dr.Agus Rahmat,MPd.

Menurut Firdaus, Hizbut Tahrir merupakan organisasi politik keagamaan yang memfokuskan pada pemikiran dan pengkaderan, pembinaan dan pengembangan jaringannya. Firdaus mengutip Mirsel (2004 : 63), yang menyatakan kecenderungan gerakan kontemporer saat ini lebih mengutamakan metode yang rasional dibanding dengan penggunaan kekerasan. Para aktivis dalam melakukan tindakannya cenderung lebih rasional agar perjuangannya bisa berhasil.

“Fenomena ini dilakukan oleh para aktivis HTI Pekanbaru, gerakan yang mereka lakukan mengarah kepada pemikiran dan menghindari cara-cara kekerasan” Ujar Firdaus yang melakukan penelitiannya di Pekanbaru.

Salah satu cara atau strategi yang dilkakukan HTI dalam menyebarkan ideologinya, dengan beberapa cara seperti mengusai tempat-tempat strategis seperti kampus, masjid, sekolah dan lokasi lainnya.

Makna ideologi khilafah, lanjut Firdaus dikonstruksikan oleh para aktivis terdiri dari enam makna, begitu pun makna politik juga terdiri dari enam makna. Sedangkan pola komunikasi yang dikembangkan terdiri dari empat pola,  pertama komunikasi mushrif (pembina/ pembimbing) dengan calon darish (pelajar atau aktivis). Ini disebut sebagai halaqah umum. Kedua, komunikasi mushrif dengan darish disebut sebagai halaqah mulakazah. Ketiga, komunikasi darish dengan keluarga inti, dan, Keempat komunikasi darish dengan keluarga besar.

Mushrif dan darish ini merupakan ujung tombak dalam mengembangkan ide ajaran Hizbut Tahrir” ujar Firdaus. (AA)