Mury Tim Ririanti (FKM Unej), Penyaji Terbaik di Simposium Nasional Komunikasi Kesehatan Fikom Unpad

 

Pemakalah Terbaik

JATINANGOR – Melalui makalah bertajuk Dilematis Kebijakan Pelarangan Prostitusi di Kab. Jember sebagai Potensi Peningkatan Dakocan dan Persebaran HIV-AIDS di Kab Jember Prov. Jawa Timur, Mury Ririanti dosen FKM Universitas Jember mendapatkan penghargaan sebagai penyaji terbaik pertama pada Simposium Nasional Komunikasi Kesehatan yang digelar di Auditorium Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Rabu (16/09) lalu.

 
Mury merupakan pemakalah pertama yang menyajikan hasil penelitiannya dengan subtema Kebijakan Pemerintah mengenai Kesehatan Masyarakat. Sembari menjelaskan makalah di depan ruangan, Mury membawa putrinya yang masih bayi di gendongannya. Ketika ditanya perihal kemenangan sebagai penyaji terbaik, Mury tersenyum.

 
“Mungkin karena preambule saya sebelum mulai ya. Saya mengutip pesan Bu Menkes untuk menjaga generasi muda. Jadi, saya tetap bawa anak saya yang masih butuh ASI ini”, ungkapnya.

 
Mury pun merasa saat menyajikan makalahnya ia menjaga alokasi waktu yang diberikan, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan memperhatikan ekspresi wajah juga intonasi suara.
Tiga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember yang terdiri dari Mury Ririanty, Iken Nafikadini, dan Thohirun meneliti dilematis kebijakan pelarangan prostitusi di Kabupaten Jember dan masalah yang muncul pada tataran sosial, seperti meningkatnya jumlah prostitusi liar dan persebaran penyakit HIV-AIDS.

 
Sejak ditutupnya lokalisasi prostitusi di Kabupaten Jember hingga saat ini, dari 31 kecamatan terdapat 22 kecamatan yang memiliki “Dakocan” atau Pedagang Kopi Cantik yang berpotensi sebagai tempat prostitusi. Sedangkan temuan kasus penderita HIV-AIDS secara kumulatif mencapai angka 1577.

 
Di akhir penyajian makalahnya, Mury menyampaikan bahwa kebijakan pelarangan prostitusi di Kabupaten Jember belum maksimal dalam menangani PSK dan dampak sosial kesehatannya.
“Perlu komitmen stakeholders untuk mencegah penularan HIV-AIDS secara berkesinambungan dengan lintas sektor setempat”, tutupnya. (Margaretha Sinaga)