Muttaqoh, Bolos Kuliah Demi Medali Emas di PON 2016

 

mutaqoh-1-edit

KEMERIAHAN perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat telah berakhir. Stadion Gelora Bandung Lautan Api menjadi saksi bisu bagaimana para atlet tanah air kita yang telah berjuang mengharumkan nama daerahnya menutup hajatan olahraga nasional terbesar di Indonesia itu.

Civitas Universitas Padjadjaran, khususnya Fakultas Ilmu Komunikasi turut berbangga. Pasalnya, Muttaqoh Khoirunnisa salah satu mahasiswa Program Studi Jurnalistik angkatan 2014 berhasil menyumbang perolehan medali emas bagi Jawa Barat. Aqoh, sapaan akrabnya “berjaya di tanah legenda” melalui cabang olahraga taekwondo. Bersama rekan satu regunya, Defia dan Kevita, Aqoh yang turun di nomor poomsae mengungguli perolehan nilai dari regu putri asal provinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.

Bukan perjalanan yang mudah bagi Aqoh untuk mencapai peringkat pertama di ajang PON Jabar kali ini. Aqoh harus rela membagi waktu perkuliahannya dengan waktu latihannya yang sangat padat. Hingga menjelang akhir dari semester 3, Aqoh memutuskan untuk mengambil cuti kuliah di semester mendatang. Langkah awal Aqoh dimulai dari mengikuti ajang pemanasan pra-PON. Saat itu, Aqoh yang turun di kelas individu dan beregu harus mengakui keunggulan dari atlet Kalimantan Timur.

“Di kelas individu, aku dapet juara ketiga. Di kelas yang beregu, aku kalah sama Kaltim, cuma dapet peringkat kedua. Pas aku liat mereka, mereka ternyata bagus banget! Aku jadi makin termotivasi buat memperbaiki gerakan aku,” ujar perempuan asal Bandung ini.

Tahun lalu, Aqoh terpilih untuk mengikuti pemusatan latihan di Korea Selatan. Dia termasuk atlit taekwondo ke dalam tim lapis kedua untuk pertama kalinya berlatih bersama tim lapis pertama yang dihuni oleh para atlet dari pemusatan latihan nasional (Pelatnas).

Kesulitan yang dirasakan oleh perempuan yang lahir 20 tahun lalu selama berlatih di Korea, yaitu menyamakan persepi geraknnya dengan rekan seregu lainnya. Perbedaan style Aqoh yang selama ini mengikuti pemusatan latihan daerah (Pelatda) bersama Kevita mau tidak mau harus mengikuti style dari Devia yang dianggap paling senior karena lebih sering menghabiskan waktu latihannya di Pelatnas.

Hambatan lain yang harus dilalui oleh Aqoh saat berlatih di Korea, yaitu bahasa. Meskipun sudah memiliki seorang penerjemah, bukan berarti hambatan tidak akan terjadi. Terkadang, pesan yang disampaikan pelatih asal Korea mengalami salah interpretasi oleh si penerjemah.

Saat-saat Penentuan

Tiba saatnya bagi Aqoh untuk menunjukkan hasil latihannya. Pertandingan cabang olahraga taekwondo digelar di Gymnasium Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, Senin (26/9). Peserta pada kelas poomsae yang terdiri dari 8 provinsi telah ditentukan urutan tampilnya. Peringkat peserta ditentukan oleh hasil ketika peserta telah tampil.

Saat Jateng mempertunjukkan jurus keduanya, ternyata keberuntungan sedang berpihak pada regu Jabar. Salah satu pemain Jateng yang menempati posisi tengah melakukan kesalahan. Gerakan kuda-kuda yang diperlihatkan pemain ini tidak stabil. Lantas, juri yang tepat berada pada posisi depan si pemain, mencatat kesalahan tersebut. Entah pemain tersebut grogi atau tidak, dia melakukan kesalahan yang sama. Potongan nilai sebesar 0,6 pun harus diterimanya.

Saat melihat perolehan nilai akhir yang didapat Jateng, ternyata perolehan nilai Jabar di atas perolehan nilai Jateng. Lantas, Aqoh beserta Devia dan Kevita berteriak histeris, saling berpelukan ketika mengetahui Jabar keluar sebagai pemenang kelas poomsae beregu putri. Air mata pun tak terbendung. Mulai dai pelatih, para atlet taekwondo Jabar yang lain, penonton, hingga orang tua yang melihat putri kesayangan mereka berhasil memenangkan medali emas PON Jabar. Aqoh memetik buah manis dari hasil latihannya selama ini.

Aqoh telah berhasil meraih medali emas pada kesempatan pertamanya mengikuti PON. Aqoh merasa semua ini tidak akan terjadi jika bukan doa dan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, seluruh temannya, juga dukungan dari masyarakat Jawa Barat. Sementara itu, sampai saat ini bonus yang dijanjikan pemerintah provinsi Jawa Barat belum diterima oleh perempuan yang memulai karier taekwondo sejak 2008.

Tidak mudah menjadi atlit dengan status mahasiswa, tetapi Aqoh bisa membagi waktu. Dia pun seringkali harus bolos dari bangku kuliahnya di Prodi Jurnalistik Fikom Unpad. Untungnya, para dosennya cukup memahami dengan status gandanya itu sehingga ia seringkali mendaptkan dispensasi karena seringnya bolos dari perkuliahan. Dia pun mendaptkan hasilnya, berjaya di PON 2016. (Rifqi Cantona/sibiruonline.com).