Noveri Maulana, “Diplomasi” Bebek Padang

 
Noveri-2-edit

Mantan Ketua HMJ Fikom Unpad. (Foto Ist)

NOVERI MAULANA adalah salah satu pengajar muda angkatan ke 3 yang bergabung dalam program “Indonesia Mengajar”. Program tersebut mencetak pengajar muda yang merupakan sarjana terbaik dari seluruh Indonesia. Ia ditugaskan untuk membantu guru di Sekolah Dasar (SD) yang terisolir. Selain itu, ia pun harus menginspirasi dan menjadi mediasi kehidupan masyarakat sebagai upaya penyerataan dalam kemajuan di desa terpencil.

 
Pria asli Sumatera Barat ini bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar pada tahun 2011 hingga 2012. Saat ini ia sedang menempuh studi pascasarjananya di PPM School of Management Jakarta. Pengalaman hidupnya selalu ia bagikan bagi para siswa yang sedang menempuh studi.

 
Veri, biasa ia disapa, merupakan salah satu alumni Prodi Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2006. Semasa kuliah ia merupakan mahasiswa yang aktif di dalam kampus, himpunan maupun unit kegiatan mahasiswa (UKM). Ia juga pernah menjadi peserta student exchange ke Ajou University Korea. Veri pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ) dan pernah menjadi Sekretaris Umum di UKM Unit Pecinta Budaya Minangkabau (UPBM) Unpad. Ia menuntaskan pendidikan kuliah dengan IPK 3,66.

 

Veri di "Indonesia Mengajar" (Foto Ist)

Veri di “Indonesia Mengajar” (Foto Ist)

Berceritera tentang keterlibatannya dalam “Indonesia Mengajar”, Veri menyatakan, banyak tahapan seleksi yang diikuti untuk bisa lolos di program ini, yakni organisasi, psikotes, kesehatan, kepemimpinan, dan lain-lain. Ia dan 46 pendaftar lainnya berhasil terpilih menjadi pengajar muda angkatan ke 3. Selama tujuh minggu ia melakukan training hingga ditempatkan di salah satu desa terpencil di Sulawesi Barat.

 
Kekuatan Veri selama menjadi pengajar muda yakni keinginan untuk berbagi dengan masyarakat di desa terpencil. Ia tidak ingin menyia-nyiakan masa mudanya, “Berbagi ilmu, tenaga, dan pikiran.Itu motivasinya,” ujar Veri dengan logat Minangnya.

 
Bentuk pengajaran yang diberikan kepada siswa yakni dengan mempermudah anak untuk memahami di setiap mata pelajaran, sedangkan pengajaran yang diberikan kepada masyarakat berupa penguatan lembaga. ”Dari soft skill membantu masyarakat seperti karang taruna, madrasah, pengajian, Ibu-Ibu PKK,dan kelompok tani,”jelas Veri yang pernah menjadi delegasi Indonesia pada UNESCO Youth Forum on Arts Education dan Inter civilization Youth Engagement Program 4 (IYEP4) di Malaysia pada 2010.

 
Noveri-3-edit

Selama satu tahun mengabdi yakni pada 2011-2012, perubahan yang dihasilkannya kini masyarakat di desa tersebut dapat lebih kenal dan terbuka dengan orang luar daerah.“Biasanya hanya bisa berinteraksi dengan orang yang ada di lingkungan mereka,”sambungnya. Sementara itu, bagi Veri sendiri menjadi pengajar muda dapat menambah pengalaman dan mengenal lebih jauh tentang masyarakat Sulawesi, serta mengenal kondisi masyarakat yang terisolir.

 
“Air dan listrik susah, sedangkan kita harus mengajar masyarakat disana dan anak-anak SD,” tambahnya. Namun, kemampuan dalam kepemimpinan, dan komunikasi mengantarkan Veri untuk mampu bertahan sehingga dia disambut baik oleh masyarakat, meskipun ia merasa sarana dan prasarana kurang memadai.

 
Pada prosesnya, ia melakukan pendekatan dengan cara unik seperti yang diceritakan di salah satu artikel yang ditulisnya, The Power of Cooking,yang dilansir www .indonesiamengajar .org. Ia memanfaatkan hobi memasaknya dengan bumbu khas asal tanah kelahirannya yaitu tanah Minang. Veri berhasil mendekatkan diri dengan masyarakat dari berbagai lapisan usia di desa tersebut, melalui “diplomasi” memasak bebek bumbu Padang dan membuat bubur ketan hitam. (WidianaRizki Lestari/ Hilaria Norma Wigati)