Okky Asokawati Seminar MEA di Fikom Unpad

 
Okky Asokawati dan Sussane Dida dalam seminar MEA di mapus Fikom.(Foto Suwito)

Okky Asokawati dan Sussane Dida dalam seminar MEA di kampus Fikom.(Foto Suwito)

JATINANGOR – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sedang menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan saat ini, termasuk kalangan mahasiswa dan dosen. Fikom Unpad pun menggelar sesi diskusi dengan tema peran strategis komunikasi di era MEA 2015 pada Rabu (6/5) di Ruang Auditorium Pascasarjana Fikom Unpad.

 
Tampil dua orang pembicara, yaitu Dra. Hj. Okky Asokawati, M.Si (Anggota DPR RI Komisi IX) dan Dr. Hj. Susanne Dida, M.M (Dosen Fikom Unpad). Diskusi dipandu oleh Dr. Hj. Evi Ariadne Sinta Dewi, M.Si . Peserta yang hadir dalam sesi diskusi ini adalah mahasiswa program sarjana, magister, dan doktoral Fikom Unpad.

 
Okky Asokawati memaparkan mengenai kondisi Indonesia dan kaitannya dengan MEA. Menurut mantan model papan atas ini, Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk bersaing di MEA, dibuktikan dengan kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi daya tarik yang kuat bagi investor dan jumlah penduduk terbesar di ASEAN dapat menyediakan tenaga kerja bagi negara lain.

 

Di balik peluang itu, ada juga tantangan yang masih harus diselesaikan, yaitu kondisi kritis pengangguran, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan penguasaan teknologi yang masih lemah. Ketika pasar sudah terbuka dengan adanya MEA, arus perdagangan jasa dan SDM tidak bisa diproteksi oleh negara. Oleh karena itu, diperlukan sistem sertifikasi atau standar keahlian dan kompetensi untuk menjadi jaminan daya saing SDM Indonesia di luar negeri.
Oki-Asokawati-2-EditOkky berpendapat, strategi yang bisa dilakukan untuk menghadapi MEA ini adalah dengan pembuatan regulasi yang menyangkut perlindungan tenaga kerja dan peningkatan kualitas SDM. Di berbagai kalimatnya, Okky juga menekankan posisi komunikasi yang sangat vital sehingga perlu ditempatkan pada bagian strategis. “Keterbukaan informasi dan komunikasi yang baik merupakan kunci dari MEA ini”, ungkapnya tegas.

 
Dr. Susanne Dida MM, sebagai akademisi mengungkapkan pandangannya mengenai MEA dari sisi teoritis. Strategi komunikasi dibutuhkan karena merupakan kunci untuk mengubah kondisi sosial yang dapat memotivasi audiens untuk bertindak pada perilaku yang diinginkan.

 
Pada dasarnya, Susanne tidak khawatir untuk menyambut MEA ini karena sejak dahulu Indonesia sudah dipenuhi oleh banyak expatriat. “Bedanya sekarang kita lebih terbuka dan legal, apalagi karena adanya sertifikasi pekerja”, jawabnya.

 
“MEA lebih mengancam di level manajerial, sementara orang-orang yang ada di desa besar kemungkinan tidak merasakan imbasnya. Pembangunan dengan misi Nawacita yang sedang dilakukan pemerintah saat ini cukup bisa menyerap tenaga kerja sampai ke daerah-daerah di desa”, jawab Okky.(Margaretha Sinaga).